Tampilkan postingan dengan label Just Fun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Just Fun. Tampilkan semua postingan
Jumat, 09 September 2016
Memperbesar Yang Kecil Memperkecil Yang Besar
Roda depan menginjak marka seratus ribu
Mengambil kakao Si Nenek Minah dibui
Guru menjewer wali murid beraksi
Bapak politikus korupsi sudah biasa membasi
Panama paper milik jenderal dibuat ilusi
Media tipi berpura-pura sumbang mediasi
Arwah Si Munir tertawa pasi
Bapak Priyayi girang membabi
Gus Muh berpuisi,
Kau ini bagaimana atau aku harus bagaimana?
Jumat, 20 Mei 2016
Air Seni Suci
Menurut pendapat Dokter sungguhan maupun virtual yang bisa dijumpai dalam layar kaca abad duapuluhdua modern ini, mereka secara serius dalam menyampaikan suara amanah Tuhan, yakni tentang kebenaran penyakit si aku yang terbilang pasien dengan mengendap penyakit kronis ironi modern, yaitu masalah pencernaan. Apa yang kita cerna jaman modern ini sungguh memalukan, secara tidak sengajapun walaupun sudah sekuat tenaga menghindar kita tetap saja masih tersedak arus informasi yang seharusnya tidak semestinya kita konsumsi, apa yang ada dalam otak kita adalah sebuah banjir informasi, banyak dari kita yang tenggelam dengan gagal menyerap apa-apa yang penting karena kita banyak meminum dan memakan apa saja yang terdapat di sungai deras ini, sedangkan otak manusia sebegitu Maha dengan kekurangannya, sehingga apa yang keluar dari anu kita hanyalah kotoran-kotoran modernitas. Setelah keluar dari ruang UGD rumah sakit setempat, secara harfiah memang si aku mengalami gangguan pencernaan dalam arti yang rendahan, yakni sesungguhnya, penyakit jasmani. Untuk menghadapinya aku mengakalinya dengan segenap mengkonsumsi air putih dengan jumlah liter yang berlebihan, untuk melarutkan kuman-kuman yang terdapat di sepanjang jalan pencernaan. Beberapa hari kemudian, setelah rutin melaksanakan rawat jalan dengan baik, Saat melakukan pembuangan air kecil, begitu menyenangkannya melihat air seni ini berwarna jernih, telah menandakan sedikit demi sedikit aku berhasil melakukan pendistorsian bakteri. Melegakan. Namun sejenak setelah menutup resleting, aku bersyukur kepada syaiton yang begitu banyaknya dalam toilet karena telah membelokkan pikiranku, aku jadi memikirkan oranglain secara mendadak, bagaimana ya bagaimana ya, terus menerus mencoba mencari jawaban atas kebagaimanaan tadi. Aku saja yang telah dengan sedemikiannya mengkonsumsi makanan bergizi dan minuman air putih, telah mengeluarkan air seni yang sebegitu jernihnya. Lantas...Bagaimana ya dengan saudara yang ada disana, sekitaran kita, yang hanya sanggup mengkonsumsi air putih dalam kesehariannya. Menurutku merekalah orang yang berhak menerima gelar sehat secara sedewasa mungkin mengenai kejasmanian kerohaniannya, air kencing mereka tentunya sangat-sangatlah jernih, ketimbang orang-orang yang mengaku sehat walaupun golongan ini juga sedikit banyaknya mengaku sanggup membeli kesehatannya sendiri. Mereka tidak dipusingkan besok akan makan siapa, karena merekapun tidak banyak makan, dan lebih banyak minum. Bukan minuman berwarna, dan hanyalah meminum air putih. Minum minum dan minum. Sesungguhnya dari beragam sumber literasi keagamaan yang ada dan hanya sedikitlah yang pernah ku konsumsi, kesemuanya yang sedikit itu memperbincangkan bahwa orang yang membiasakan diri lapar dan haus secara ihklas karena himpitan kebersahajaan kondisi, merekalah yang kelak akan berada di pangkuanNya selama di dunia maupun akherat, hamba yang disayang oleh Tuhan. Kejernihan yang sesungguhnya.
Senin, 16 Mei 2016
Nakal Boleh Bodoh Jangan
Semenjak ku konsumsi iklan tahun duaribuan hingga kini sudah duaribuenambelas, terhitungpun sedari memiliki dan menonton tipi hitam putih hingga menumpang tipinya tetangga yang lebih berada, ada hal yang menggelitik geli-geli menggemaskan otakku yang mulai sedikit mau dewasa ini. Sebuah produk minuman kaleng mengaku memiliki rasa paling yahut dari yang lain, ada produk balon mengaku memiliki ketipisan yang luar biasa hingga Mister Dick seperti jalan-jalan dalam kenikmatan yang riil, produk elektronikpun turut demikian, bahkan produk politik lebih mendahului segalanya ketimbang produk keagamaan yang zaman modern ini telah dicover sedemikian lembutnya, hingga hadits “agamamu agamamu, agamaku agamaku” ndak berlaku merdeka lagi. Parahnya lagi kesemuanya pernah ku “beli” semenjak masih belum pubertas dulu. Semua kefanaan ini tak luput dari pengakuan demi pengakuan setiap pihak atas pencapaian keakuan yang ironi kronis. Budaya membaca masyarakat yang bernyawa di negeriku dan negerimu ini kecil, apalagi yang mati, sedangkan dalam buku terdapat ragam kebenaran yang telanjang bahagia, so proud of you –penerbitbuku-pemusik-sastrawan-seniman-masyarakat indie yang tetap fulgar dalam mengungkapkan kebenaran, merdeka dari belenggu titipan-titipan manifest kebohongan elit politik, semoga mereka selalu setia menyetubuhi kebenaran. Sayangnya minus minat baca literasi rakyat pribumi/proletar yang jauh dibawah rata-rata tingginya minat menulis membaca nan mengumbar indah putus cinta dalam sosial media, telah disadari oleh sekelompok orang yang tak pernah bingung besok akan makan apa dan makan siapa, mereka melihat syahdunya ladang hijau rakyat yang komersil ditanami doktrin racun korupt menggunakan pupuk instan yang berbahaya. Faktanya sudah banyak remeh temeh yang berdebat minuman kaleng ini lebih nikmat dari kefanaan tingkat sosial kepunyaanmu, makanan junkfood strata highclass ini lebih diakui dunia maya dari keaslian sedapnya keserhanaan angkringan di sudut jogja, ideologi komunis ini tak lebih memiliki ruh agamais dari ideologi versi ormas wahabi karbitan yang didominasi preman-preman urban, dsb setelah awam lebih memilih menonton visual buruk iklan telepisi. Budaya konsumtif apapun, khususnya sebuah ideologi tak selamanya mampu dikelola individu dengan baik, semisal haus ya minum sesuai takaran kehausannya saja, agar tidak tersedak gagapisme intoleransi dari yang seharusnya mampu menghasilkan produktifitas penalaran rasa gemati yang toleran. Statement teman kita dari pejuang antitankproject mengungkapkan bahwa beberapa kelompok perusak hutan kalimantan yang tidak pernah berteriak terhadap kasus-kasus korupsi yang merugikan harga diri bangsa, calon guberbur DKI Jakarta Sandiago Uno beserta Menkopolhukan Luhut Panjaitan yang terkena skandal Panama Papers, beserta kasus-kasus underground negara lainnya memanfaatkan pengalihan isu terhadap bahaya laten komunis, mereka merupakan mertua yang buruk. Sasaran mereka kepada jutaan manusia bernyawa yang seperti mati dengan kebiasaan membaca yang rendah, yang terlahir tidak butuh peka membaca dan mengkaji ulang tentang komunisme, yang sebenarnya penerapan ruhnya komunisme di negeri ini sangat baik sebagai wadah perlawanan terhadap penindasan dalam bentuk ekonomi, sosial, budaya, bahkan mungkin hingga kekerasan dalam berpacaran yang tidak safety sekalipun terhadap pemerintahan. Begitu peduli hati ideologinya. Setelah membaca di situs website indie terpercaya literasi.co, aku akhirnya menemukan jenis mertua yang baik, terdapat penjelasan dan kutipan statement pengakuan bahwa dengan percaya diri dan sesadar-sadarnya Bapak Soekarno (Proklamator), D.N Aidit (ketua PKI), Haji Misbach (tokoh keagamaan Surakarta) merupakan suri tauladan tokoh komunis negeri yang santun dan penganut agama yang baik, tentunya percaya Tuhan. Pengalihan isu terhadap agenda boboroknya ironi nasional telah meluputkan mata hati masyarakat awam termasuk aku sendiri, sehingga sejenak mampu menumpulkan nalar pemuda-pemudi negeri bahwa mereka sedang menghadapi bahaya laten korupsi, bahaya laten gagap haram mengharamkan, bahaya laten perusakan lingkungan, bahaya laten selingkuh, bahaya laten menikung pacar teman, dan bahaya laten-laten lainnya yang abadi. Segala isme-isme yang ada dalam dunia ini sebaiknya dikaji terlebih dahulu secara terpelajar, meresapi segala kebaikan yang ada didalamnya, memfilter segenap kekurangannya, sembari begadang dan mengisi waktu sulitnya tidur sambil berjalan.
Sabtu, 14 Mei 2016
Bapakmu Zombie Bukan?
Barusan saja semalam aku mendapati pencerahan setelah membaca sepenggal kalimat dalam esai Alm. Romo Mangun yang berjudul "Sang Kopral" terbitan tahun 1977. Sang Kopral disini menjadi seorang sosok bapak yang "besar", memberikan kebebasan pada anaknya dalam berperilaku, dan bersedia pula menerimanya kembali andaikan sang anak gagal dalam menyetubuhi cita idealisnya. Menurut awamku yang belum pernah jadi bapak sih; wow emezing biyanget! Sejenak kemudian pikiranku terhempas sadar kembali pada hari ini, detik ini, modern ini, atau bahkan mungkin sudah beranjak dalam gaung zaman post-modernitas. Cita rasa kebapakan post-modern, menakutkan, mengapa menakutkan? Karena ukuran suksesnya menurut mereka sepertinya masih dominan ujung-ujungnya duit lagi, pegawai negeri sipil lagi, karyawan rendahan lagi, seperti penganut madzab bersyukur stadium akhir; nerima ing pandum. Marilah sejenak refreshing meninggalkan, lebih tepatnya piknik sebentar pergi dari kebijaksanaan bersyukur-buta semenjak dari rahim ibu tersebut yang telah membudaya. Terkadang terbesit nakal dalam pikiran bahwa selalu nerima ing pandum itu semacam kekurangan intensitas kreatifitas tanpa batasnya si pelaku yang selalu berakhir dengan kurang berkesan di hati dan pikiran. Idealisme berasal dari buah pikiran dan hati. Manusia yang terbiasa tak menuruti pikiran dan perasaannya sendiri, seperti zombie, menakutkan. Bayangkan saja sakitnya dunia akademisi -mungkin- mengetahui seorang alumnus mahasiswa komunikasi, pendidikan, pertanian, dan masih banyak segudang kejuruan lainnya hanya berakhir membusuk di perkantoran bank, karena pengalaman dari pengalaman yang pernah ada mengatakan siklus karyawan bank yang tak memiliki pasion ekonom yakni kerja-betahsebentar-resign. Idealisme dan pengalaman pahit manisnya semasa perkuliahan tidak belanjut di jenjang karir. Loh mengapa jenjang karir pada umumnya malah mengkhianati proses perkuliahan? Kuliahnya apa, kerjanya apaan. Bisa ditelisik lebih menjurus, semuanya bisa saja terjadi karena banyak sekali bapak-bapak modern mengkondisikan si anak untuk memiliki kenyamanan bernafas dalam ketiak sang induk. Anak model beginian sih biasanya sering dijumpai di sosmed-sosmed yang secara khususnya fokus menye-menye membahasa perihal cinta-cintaan produksinya sendiri, dampak dari lemahnya syahwat akan semangat hidup. Hmmm aku jadi mencoba membayangkan kehidupan ke-barat-barat-an, di eropa sana, antara korelasi hubungan intern sosio-kultural anak dengan bapak. Si anak memanggil bapaknya ringan-ringan saja tuh tanpa embel-embel panggilan bapak di depan nama aselinya. Oke bukan itu yang menjadi konten pembahasan, negara timur yang penuh moralitasisme ini tidak cukup siap mengunduhnya ke dalam keseharian. Namun yang menjadi keinginanku mendalaminya yakni; anak seusia 17 tahun yang sudah bisa terlepas dari belenggu kebiasaan dalam merepotkan orangtua. Bebas secara indie menggagahi idealismenya. Iya memang sih, akan banyak sisi negatifnya, namun kan ada sisi positifnya juga, ayolah kita ambil baiknya dan jauhi negatifnya, bukankah ini merupakan ruh dari para pemikir akademisi, yakni sebuah point bahwa si anak dapat bebas menentukan mau diapakankah idealismenya terlepas dari tekanan keluarga maupun lingkungan, menjadi free man, freedom. Sekali lagi ini bukannya berniat menggugurkan adat ketimuran yang begitu mengakar-moral. Namun cita luhur menjadi manusia-khususnya lelaki- merdeka. Dan bersikap adil terhadap idealismenya. Seperti kata Bapak Pram," Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan". Kalaupun bapakmu belum adil seperti itu, jadikanlah idealisme menjadi bapakmu sendiri, ataupun bercita-citalah menjadi bapak yang adil.
Jumat, 13 Mei 2016
Resign
Resign arti dalam kamus yang aku pinjam dari perpustakaan arti praktisnya keluar, bahasa gaulnya teng-crit, keluar, lega, enak. Aku ditahan untuk tidak crit duluan. Ada benarnya sih, karena terlihat nampak loyo. Namun sudah dua bulan ini aku merasakan gelisahnya menahan crit yang berkepanjangan. Perasaan bapak ibuk tidak enak gegara planing crit dadakan ini. Akupun jadi bingung. Pesan yang kutangkap dari beliau yang sagat aku cintai berbunyi, "crit lah yang lama, dan kalau bisa di dalam". Jadiii take easy jaa masa depanku milik Tuhan, masa ya mau aku ragukan, rasanya kurang pantas berlaku demikian. Tapi...tapi...aku punya jalan lain. Jalan Indie. Tak mungkin sesuatu yang visioner dapat dirasakan sebegitu cepat suksesnya. Hidupku tak ingin seberacun mie instan. Aku ingin Indie. Balasanku pada orang yang tersayang tidak selalu bernada materi. Sepertinya doa-doaku pada orang terkasih juga ndak begitu dijauhi sama Tuhan kok. Akhirul salam, semoga aku bisa jadi buruh bagi idealismeku sendiri, banyak idealisme sedikit menjilat-jilat, doain ya mams paps, critku berbuah keindahan.
Kamis, 12 Mei 2016
Pengampunan
Manusia yang tidak bisa menangis
Menikmati segarnya air mata lawan
Diskusi akal, rasa, dan nafsu-nafsunya
Menolak segala dogma dari taman langit
Sebelum Tuhan sampai
PerjalananNya tentulah berat
Jalan menuju setiap hambaNya terjal
Karena si hamba memang sedang tak ingin dikunjungi
Aku ingin melihatnya menangis
Benar-benar tersedu-sedu
Aku menguatkan pelukan pada firasat
Sebenar-benarnya ia orang yang baik
Setelah Tuhan sampai
Setiap perjalanan berat, setia berakhir indah
Aku adalah doa-doa itu sendiri
Yang bisa berbicara dengan si gelap
Menikmati segarnya air mata lawan
Diskusi akal, rasa, dan nafsu-nafsunya
Menolak segala dogma dari taman langit
Sebelum Tuhan sampai
PerjalananNya tentulah berat
Jalan menuju setiap hambaNya terjal
Karena si hamba memang sedang tak ingin dikunjungi
Aku ingin melihatnya menangis
Benar-benar tersedu-sedu
Aku menguatkan pelukan pada firasat
Sebenar-benarnya ia orang yang baik
Setelah Tuhan sampai
Setiap perjalanan berat, setia berakhir indah
Aku adalah doa-doa itu sendiri
Yang bisa berbicara dengan si gelap
Neoliberalisme
Pagi siang malam
Semua wajah berubah perut
Anugerah setiap Tuhan
Agar kalian semua berpikir
Semua wajah berubah perut
Anugerah setiap Tuhan
Agar kalian semua berpikir
Jam Pasir
Kita membangun taman
Matamu bersinar kesegaran
Selang jauh silam siang malam kemudian
Hati menangkap fatamorgana gurun gersang
Kita mudah mengenal
Namun mana yang tetap tinggal
Usia kepercayaanku lebih pendek
Dari kepercayaan itu sendiri
Jam pasir tersumbat turun
Memang tiada waktu yang berjalan
Selama dalam kesia-siaan
Matamu bersinar kesegaran
Selang jauh silam siang malam kemudian
Hati menangkap fatamorgana gurun gersang
Kita mudah mengenal
Namun mana yang tetap tinggal
Usia kepercayaanku lebih pendek
Dari kepercayaan itu sendiri
Jam pasir tersumbat turun
Memang tiada waktu yang berjalan
Selama dalam kesia-siaan
Selasa, 10 Mei 2016
Perjalanan Tak Sia-sia
Hei hidup tak butuh cinta
Di neraka tak ada cokelat
Rasakan valentinemu tiada
Itu semua bila kau di neraka
Kau teriakkan demikian
Karena kau sedang patah
Menjadi ranting
Berakhir di perapian
Kau hanya tertinggal kereta
Namun tak punya inisiatif
Tujuan hanyalah ilusi
Dimana kau berada disitulah kau bertuan
Temukan surgamu
Temukan surgamu
Di neraka tak ada cokelat
Rasakan valentinemu tiada
Itu semua bila kau di neraka
Kau teriakkan demikian
Karena kau sedang patah
Menjadi ranting
Berakhir di perapian
Kau hanya tertinggal kereta
Namun tak punya inisiatif
Tujuan hanyalah ilusi
Dimana kau berada disitulah kau bertuan
Temukan surgamu
Temukan surgamu
Kamis, 28 April 2016
Menarinya Waktuku Waktumu
Habiskan gelisah muda
Menua tanpa tersedu pilu
Menampung sakit sederas mungkin
Menampik senang sedewasa mungkin
Sisi yang baik hanya dalam langit
Namun ini bumi yang terpuruk
Sedih dalam sedih
Senang dalam senang
Lupa melihat ke atas
Lupa melihat ke bawah
Mari menari disaatnya memang menari
Tiada henti disaatnya berhenti
Dengan caranya sendiri
Keajaiban langit akan mengunjungi bumi
Menua tanpa tersedu pilu
Menampung sakit sederas mungkin
Menampik senang sedewasa mungkin
Sisi yang baik hanya dalam langit
Namun ini bumi yang terpuruk
Sedih dalam sedih
Senang dalam senang
Lupa melihat ke atas
Lupa melihat ke bawah
Mari menari disaatnya memang menari
Tiada henti disaatnya berhenti
Dengan caranya sendiri
Keajaiban langit akan mengunjungi bumi
Sabtu, 09 April 2016
Tanah, Air, Udara, dan Hati
Mengapa sekarang berbeda
Tanah, air, udara tak lagi bebas bertuan
Namun aku bahagia walau hanya sekedar hidup dengan...
Menginjak tanah penuh was was
Menenggak dahaga penuh sangka
Menghirup nafas penuh cemas
Oooo...
Kemudian
Kau datang dengan sendiri
Menawarkan apa yang tak bisa ku beli
Lalu ku coba barterkan dengan cinta
Penuh sepenuhnya bersahaja
Dan kaupun seperti membalasnya
Cintaa...
Namun aku sedih apabila ternyata kau
Memandangku sama seperti tanah, air, udara..
Bukan hati~
Tanah, air, udara tak lagi bebas bertuan
Namun aku bahagia walau hanya sekedar hidup dengan...
Menginjak tanah penuh was was
Menenggak dahaga penuh sangka
Menghirup nafas penuh cemas
Oooo...
Kemudian
Kau datang dengan sendiri
Menawarkan apa yang tak bisa ku beli
Lalu ku coba barterkan dengan cinta
Penuh sepenuhnya bersahaja
Dan kaupun seperti membalasnya
Cintaa...
Namun aku sedih apabila ternyata kau
Memandangku sama seperti tanah, air, udara..
Bukan hati~
Jumat, 01 April 2016
Dapur atau Daur Ulang Mimpi ya?
Hmm aku sedang sibuk kerja aja akhir-akhir ini. Kesibukan lainnya yaitu menemani yang sedang tidak sibuk, alias pacar mengisi hari-harinya. Aku berpikir sepertinya seru juga ini punya kegiatan yang bisa bareng, alias tidak tentang cinta melulu yang membosankan. Berbekal dia memiliki kemampuan rajut, jahit, daur ulang sampah, dan suka tentang sastra. Maka ada sedikit yang ingin kita buat inih buat follow up skillnya. Ada sediki inspirasi dari karya sawokecikcraft dan rumah Omuniuum bandung, silahkan kalian cek juga yaa siapa tahu berminat usaha bersama pasangan. Entah kapan ini akan terwujud. Setidaknya tulisan ini mengawali, ijab qabul, mengikat, kalau gak jadi usaha kan nanti baca tulisan ini jadi malu sendiri, lagian siapa tahu Tuhan sedang berpihak pada kami, siapa tahu ada setan yang membujuk untuk mengkapitalisasikan softskills ini, siapa tahu yaaa buat kontinyuitas modal hidup kelak nanti. Kita mengawali semuanya. Lebih nyentrik mana ya namanya, dapur mimpi atau daur ulang mimpi kah? kamingsun!
Orkes Gerobak Gethuk
Gethuk? Jajanan yang biasanya ada di pasar tradisional. Dicari orang-orang ketika pagi hari, bekal teman meminum teh atau kopi. Kemaren ini-dulu juga pernah- melihat ada gerobak yang menjual gethuk. Tampaknya memang terlihat biasa. Namun yang membuatku tertarik mempertanyakannya yaitu ia memiliki "sirine" khas untuk memanggil pembelinya. Mengapa kok begitu ya, bukankah gethuk dicari orang, mengapa ini malah mencari orang. Apakah tanpa sirine orang tidak akan ngeh terhadap apa isi gerobak dagangannya, mungkin iya mungkin juga tidak, karena orang-orang juga akan ngeh nya gethuk itu di pasar. Masyarakat perlu waktu yang panjang untuk membiasakan diri melihat fenomena gerobak gethuk keliling menggunakan sirine yang memekakan telinga itu, karena lagunya lagu dangdut dengan pitch control volume yang menggelegar, dan juga tampak nyentrik. Mungkin pengelolanya ngerti bahwa orang indonesia memang bukan sebagai pendengar yang baik, terbiasa sebagai makhluk vokal yang selalu ingin didengar, manja. Apakah dengan suara yang kecil ketika gerobak mungil itu melewati perumahan yang mewah/istana akan terdengar? Kan ya tidak, kan rumah yang gedongan biasanya "kedap suara"-sengaja-, mereka hanya ingin di dengar, kok ribet ya, maksutnya perjuangan banget. Keliling melewati jalanan, entah itu pagi, siang, sore, atau bahkan malam, mereka masih setia dengan cincingan mata yang tidak suka dengan suara gerobaknya. Semangat :)
Kamis, 31 Maret 2016
Aku Kembali Memantai
Aku pernah bosan terhadap pantai. Bosan secara wajar, karena tumbuh besarku berada dalam lingkungan yang didominasi sekumpulan pantai yang berjajaran, sangat mendukungku untuk mengistirahatkan badan mengunjungi pantai. Namun...kemaren entah mengapa berbeda. Aku kembali berani mengunjunginya, melawan kejenuhan yang pernah terjalin mesra. Pagi hari yang cerah melesatlah menuju bibir pantai. Mendekati aroma kebalikan dari kebisingan. Menciumi apa yang tidak bisa aku dapati dalam nuansa kota. Bertiduran di bawah rindangnya pohon cemara. Melihat jelas bayang-bayang sisa kegagahan pohon cemara yang menua. Melemparkan pandang ke depan untuk menikmati memandangi butiran pasir terhempaskan ombak. Hingga lama sekali berada disana, berwaktukan bayang-bayang diri yang mulanya berada di sisi barat tubuhku, memindah ke timur tubuhku. Lalu kuambil buku cerita yang menarik dari dalam tas, ku coba membacakannya dengan bersuara, walaupun tidak banyak aksara yang sempat terbaca, namun setidaknya aku tidak sedang menceritakannya kepada diri sendiri. Ku akhiri bacaku, bertanpakan kursi, jendela, meja makan, ku bersiap menyantap bekal makan siang kita. Tidak mahal dan sederhana. Biasa saja rasa makanannya, namun yang berbeda dalam cara memakannya, menceritakan sebuah perjalanan panjang yang telah menepi, lelah dan kembali berpulang pada satu. Inilah rumahku tanpa jendela. Sebuah hari yang pendek dalam waktu, panjang dalam kenangan. Aku mencintainya.
Selasa, 29 Maret 2016
Dari dan Untukku
"Aku tidak berlindung dibalik agama agar oranglain melihatku baik, aku melindungi agama dari anggapan oranglain melihat kekuranganku sebagai bagian dari pengandaian keburukan akan agamaku".
Senin, 28 Maret 2016
Aku Seperti Melihat Kampung Halaman
Semingguan terakhir ini saya mendapatkan teman baru. Dia berbeda, ataupun mungkin akupun dianggap berbeda pula oleh dia. Berbeda memang menarik. Banyak ketertarikan yang berada dalam diri setiap orang. Dalam bahasa sok kerennya dianggap ketertarikan pesona inklusi (inklusi dalam artian bahasa perasaan, yaitu semua manusia memang dilahirkan secara berbeda). Anak ini berasal dari Manokwari. Ya, dan sayapun berasal dari Kabupaten Sarmi Mararena Jayapura, dimana kota ini menjadi tempat pertama kalinya saya menghirupkan nafas di bumi. Berada tidak cukup lama disana yang hanya sekitar delapan tahun membuat ingatanku akan kampung halaman sedikit mengabur. Maka dari itu setiap melihat teman-teman yang berasal dari Irianjaya seperti ada "keymisteri", merasa sudah pernah dan akan selalu satu sepernasiban sepenanggungan. Semua yang terjadi disana memang berat dan selalu diberatkan, entah oleh keadaan, diri sendiri, oranglain, ataupun yang lebih besar lagi tepatnya pemerintahan. Dari kerutan wajah orangtua saya sudah menampakkan pesan sasmita kepada alam, seperti ingin mengutarakan sesuatu, menyampaikan pesan, bahwa hidup disana berat nak, keras nak. Tinggal dalam lingkungan sekolahan, sudah seperti rumah subsidi dari pihak pemerintah ataupun sekolahan, mungkin yang lebih terkesannya seperti belas kasihan buah dari pengabdian. Oh tidak, bukan belas kasihan, lebih tepatnya buah kerjakeras, yappp...terdengar lebih patriotis kan. Dulu sewaktu melahirkan anak pertamanya, bukan main sekali jarak rumah dengan rumah sakit. Dengan sepedah motor pinjaman, berangkatlah mereka dari rumah menuju rumah sakit, jauuuhh sekali, tak usah dibayangkan. Hmm begitulah gambaran sedikit kepedihan keseriusan hidup. Dalam bagian kesenangannya saya teringat akan permainan yang paling mewah yang pernah dimiliki, bermain dengan alam, bermain dengan anak-anak sesama perantauan ataupun masyarakat asli, sepakbola, atau apapun memanfaatkan kebermanfaatan alam. Oh iya ada satu permainan lagi dink. Sebuah yoyo yang mampu menyala dan berlampu. Itu sudah terpaling mewah kalau dirunut ukuran ekonomis. Sudah sangat menyenangkan, karena pada saat itu kata menyenangkan masih suci sekali, polos sekali, masih menggunakan ruh yang sangat sederhana sekali, belum dirumit-rumitkan seperti yang telah menjadi budaya orang modern. Saya rasanya ingin kembali merasakan kampung halaman, menaiki kapal selama satu minggu dilautan, bertiduran di kelas ekonomi, ayam sama manusia jadi satu. Ah! Hahahaha aku tak mungkin menceritakan temanku. Tentang kampung halaman lebih menarik.
Minggu, 27 Maret 2016
Dik, Maemku Nasi dik..
Aku dahulu pemakan segalanya. Dari makanan sederhana hingga bahkan pernah menetap di makanan hits. Makanan sederhana disini dimaksudkan hanya (sadar) akan mengkonsumsi makanan yang sesuai dengan kemampuan kantong. Sedangkan hits dalam kamus indonesia berartikan terkenal, makanan terkenal, walaupun dalam perkembangan pergumulannya dengan jaman menjadikannya makanan yang mampu (sepertinya) menjadikan konsumennya dianggap "ada" oleh orang lain. Persoalan makanan sendiri memang sangat berkembang pesat, dari yg awalnya di kampungku hanya mengenal tiwul, bahkan kini telah mengenal junkfood kebarat-baratan pula. Ada yang tergoda untuk mencoba, atau bahkan berpindah lifestyle makanan sekalian dari yg sebelumnya apa menjadi apa yg lain-lainnya. Dugaan awalku semua ini hanyalah propaganda dari nafsu. Bagaimanapun juga dahulu kakek nenekku hanya mengenal tiwul, yang hingga saat inipun belum mengenal junkfood. Apabila sudah mengenal junkfood, apakah kakek nenekku akan mencobanya sungguh menarik untuk dinanti, atau mungkin juga tidak akan mencoba karena sadar apabila tidak makan junkfoodpun tidak akan pula merubah dirinya menjadi seseorang yang baru. Oh iya sudah pasti juga ya kakek nenekku pernah kaget mengalami perpindahan transisi makanan dari tiwul menuju nasi. Akupun generasi yang mengenal nasi dengan baik, dan penganut paham kalau tidak nasi tidak kenyang garis keras. Sedangkan pada masaku pula nasi kini sedang menghadapi krisis ketidakpercayaandiri. Tapi sepertinya dia (nasi) mampu cuek-cuek saja, walaupun dunia import eksport beras sedang keras. Beruntung ya tiwul pada masanya hanya memiliki saingan nasi. Sial bener ya nasi, sekarang memiliki saingan yang beragam. Saingannya berupa ragam makanan yang seakan seolah-olah ketika dimakan menjadikan konsumennya sebagai seseorang yang berbeda, seperti sedang mengkonsumsi gagasan, strata sosial. Kemudian ruh dari makan untuk lapar perut menjadi bergeser makan untuk sebuah lapar mata, bathin, pemikiran, gengsi.
Selera Pria yang Dipolitisi Kahanan
Senin pake kemeja warna putih, selasa pake kemeja warna hitam, rabu pake kemeja warna putih, rabu pake kemeja warna hitam, kamis pake kemeja warna hitam, Jumat pake kemeja warna putih, Sabtu pake kemeja warna hitam, minggu pake kemeja hitam, senin sampai minggu depan samain lagi pake metode minggu sebelumnya. Minggu jauh kedepannya konsisten idem seperti minggu lusa sampai tiba masanya. Masalah muncul ketika musim menikah, musim ulangtahun, musim lahiran, musim sebelum nikahan sudah lahir duluan, musim pura-pura kaya, musim trend swag, musim wul-awul bertebaran, musim campaign baju putih pro pemerintah, dan musim musim yang lainnya tiba. Kebutuhan sekunder sekunder mengular-panjang. Sulitnya menyederhanakan kebutuhan. Demn svsah!
Sabtu, 26 Maret 2016
Rumah
Tempat mengadu pilu setelah lelah luar biasa menyederhanakan kesedihan walaupun...kenyataan di luar sana masih belum berlari mendekati kebahagiaan. Tempat ketika disaat mengintip keluar jendela, terlihat di luar tirai sana hanya dipenuhi kisah kasih tanda tanya yang tak menentu, sedangkan tempat tinggal ini menyediakan sebaliknya. Sepenuhnya tentang kehangatan disaat yang lain hanya memberikan sekedarnya, bahkan mungkin mendinginkan. Tempat berteduh ketika terdengar di balik tirai kaca sedang turun hujan yang lebat. Tempat berpulang setelah pernah sepanjang waktu bepergian tanpa arah. Sebuah persemayaman rindu yang mewah dengan hal-hal sederhananya. Aku mulai menghuninya semenjak duapuluh maret duaribuenambelas.
Kamis, 24 Maret 2016
Pulpen Di Kantor Sering Hilang
Kamu siapa, karyawan bukan, buruh iya kali ya? Cie duduknya di meja frontdesk garis depan pelayanan ya. Ada pulpen ga di depannya tuh. Mungkin hari ini ada, besok udah engga ada lagi. Pulpen apa gebetan itu bro. Hilang melulu. Pulpen subsidi dari kantormu bagaimana bro. Di kantorku sih standard sekali. Buat nulis sering typo. Buat sok gagahan di depan mbak-mbak gemes juga engga pantas. Pulpen kok namanya pilot. Ah...Aku memilih bawa pulpen sendiri. Mungkin kamu juga pernah menjadi tipe seperti aku ini. Apa-apa membawa sendiri. Setia dengan kepunyaan sendiri. Tapi kalo temen punya yang lebih baik ya minjem, ngerasain sebentar aja, setelah itu langsung balikin lagi aja, karena udah pernah megang pulpen mahal berarti ya udah pernah numpang ngehits. Mungkin kamu juga pernah punya jiwa sodaqoh yang tinggi, bawa pulpen bejibun banyaknya ke kantor dengan harapan sebagai hibah, hibah. Namun kenyataannya ilang lagi ilang lagi kan. Kamu jadi sebel kan. Jadi geregetan kan. Lalu kemudian marah. Bertanya-tanya pada rumput yang bergoyang, kok bisa ilang lagi ya. Kamu berpikir keras. Mengalami kebuntuan, dan kemudian memutuskan marah-marah aja deh. Dan endingnya pahala ngehibahnya menghilang terkikis gemes yang tak berujung. Hiks hiks hiks. Aku suka memiliki teman seperti ini. Melihat tingkahnya sendiri usiaku menjadi memuda. Menjadi terhibur. Akhir kata aku sarankan bawalah pulpen sendiri kemudian sakuin terus kemanapun pergi selama di kantor. Karena pulpen pinjam sana sini itu bid'ah. Engga ada di jaman nabi.
Maulana Arif Hidayat. Diberdayakan oleh Blogger.