Dik, Maemku Nasi dik..
Aku dahulu pemakan segalanya. Dari makanan sederhana hingga bahkan pernah menetap di makanan hits. Makanan sederhana disini dimaksudkan hanya (sadar) akan mengkonsumsi makanan yang sesuai dengan kemampuan kantong. Sedangkan hits dalam kamus indonesia berartikan terkenal, makanan terkenal, walaupun dalam perkembangan pergumulannya dengan jaman menjadikannya makanan yang mampu (sepertinya) menjadikan konsumennya dianggap "ada" oleh orang lain. Persoalan makanan sendiri memang sangat berkembang pesat, dari yg awalnya di kampungku hanya mengenal tiwul, bahkan kini telah mengenal junkfood kebarat-baratan pula. Ada yang tergoda untuk mencoba, atau bahkan berpindah lifestyle makanan sekalian dari yg sebelumnya apa menjadi apa yg lain-lainnya. Dugaan awalku semua ini hanyalah propaganda dari nafsu. Bagaimanapun juga dahulu kakek nenekku hanya mengenal tiwul, yang hingga saat inipun belum mengenal junkfood. Apabila sudah mengenal junkfood, apakah kakek nenekku akan mencobanya sungguh menarik untuk dinanti, atau mungkin juga tidak akan mencoba karena sadar apabila tidak makan junkfoodpun tidak akan pula merubah dirinya menjadi seseorang yang baru. Oh iya sudah pasti juga ya kakek nenekku pernah kaget mengalami perpindahan transisi makanan dari tiwul menuju nasi. Akupun generasi yang mengenal nasi dengan baik, dan penganut paham kalau tidak nasi tidak kenyang garis keras. Sedangkan pada masaku pula nasi kini sedang menghadapi krisis ketidakpercayaandiri. Tapi sepertinya dia (nasi) mampu cuek-cuek saja, walaupun dunia import eksport beras sedang keras. Beruntung ya tiwul pada masanya hanya memiliki saingan nasi. Sial bener ya nasi, sekarang memiliki saingan yang beragam. Saingannya berupa ragam makanan yang seakan seolah-olah ketika dimakan menjadikan konsumennya sebagai seseorang yang berbeda, seperti sedang mengkonsumsi gagasan, strata sosial. Kemudian ruh dari makan untuk lapar perut menjadi bergeser makan untuk sebuah lapar mata, bathin, pemikiran, gengsi.
0 komentar:
Posting Komentar