Orkes Gerobak Gethuk
Gethuk? Jajanan yang biasanya ada di pasar tradisional. Dicari orang-orang ketika pagi hari, bekal teman meminum teh atau kopi. Kemaren ini-dulu juga pernah- melihat ada gerobak yang menjual gethuk. Tampaknya memang terlihat biasa. Namun yang membuatku tertarik mempertanyakannya yaitu ia memiliki "sirine" khas untuk memanggil pembelinya. Mengapa kok begitu ya, bukankah gethuk dicari orang, mengapa ini malah mencari orang. Apakah tanpa sirine orang tidak akan ngeh terhadap apa isi gerobak dagangannya, mungkin iya mungkin juga tidak, karena orang-orang juga akan ngeh nya gethuk itu di pasar. Masyarakat perlu waktu yang panjang untuk membiasakan diri melihat fenomena gerobak gethuk keliling menggunakan sirine yang memekakan telinga itu, karena lagunya lagu dangdut dengan pitch control volume yang menggelegar, dan juga tampak nyentrik. Mungkin pengelolanya ngerti bahwa orang indonesia memang bukan sebagai pendengar yang baik, terbiasa sebagai makhluk vokal yang selalu ingin didengar, manja. Apakah dengan suara yang kecil ketika gerobak mungil itu melewati perumahan yang mewah/istana akan terdengar? Kan ya tidak, kan rumah yang gedongan biasanya "kedap suara"-sengaja-, mereka hanya ingin di dengar, kok ribet ya, maksutnya perjuangan banget. Keliling melewati jalanan, entah itu pagi, siang, sore, atau bahkan malam, mereka masih setia dengan cincingan mata yang tidak suka dengan suara gerobaknya. Semangat :)
0 komentar:
Posting Komentar