Senin, 16 Mei 2016

Nakal Boleh Bodoh Jangan


Semenjak ku konsumsi iklan tahun duaribuan hingga kini sudah duaribuenambelas, terhitungpun sedari memiliki dan menonton tipi hitam putih hingga menumpang tipinya tetangga yang lebih berada, ada hal yang menggelitik geli-geli menggemaskan otakku yang mulai sedikit mau dewasa ini. Sebuah produk minuman kaleng mengaku memiliki rasa paling yahut dari yang lain, ada produk balon mengaku memiliki ketipisan yang luar biasa hingga Mister Dick seperti jalan-jalan dalam kenikmatan yang riil, produk elektronikpun turut demikian, bahkan produk politik lebih mendahului segalanya ketimbang produk keagamaan yang zaman modern ini telah dicover sedemikian lembutnya, hingga hadits “agamamu agamamu, agamaku agamaku” ndak berlaku merdeka lagi. Parahnya lagi kesemuanya pernah ku “beli” semenjak masih belum pubertas dulu. Semua kefanaan ini tak luput dari pengakuan demi pengakuan setiap pihak atas pencapaian keakuan yang ironi kronis. Budaya membaca masyarakat yang bernyawa di negeriku dan negerimu ini kecil, apalagi yang mati, sedangkan dalam buku terdapat ragam kebenaran yang telanjang bahagia, so proud of you –penerbitbuku-pemusik-sastrawan-seniman-masyarakat indie yang tetap fulgar dalam mengungkapkan kebenaran, merdeka dari belenggu titipan-titipan manifest kebohongan elit politik, semoga mereka selalu setia menyetubuhi kebenaran. Sayangnya minus minat baca literasi rakyat pribumi/proletar yang jauh dibawah rata-rata tingginya minat menulis membaca nan mengumbar indah putus cinta dalam sosial media, telah disadari oleh sekelompok orang yang tak pernah bingung besok akan makan apa dan makan siapa, mereka melihat syahdunya ladang hijau rakyat yang komersil ditanami doktrin racun korupt menggunakan pupuk instan yang berbahaya. Faktanya sudah banyak remeh temeh yang berdebat minuman kaleng ini lebih nikmat dari kefanaan tingkat sosial kepunyaanmu, makanan junkfood strata highclass ini lebih diakui dunia maya dari keaslian sedapnya keserhanaan angkringan di sudut jogja, ideologi komunis ini tak lebih memiliki ruh agamais dari ideologi versi ormas wahabi karbitan yang didominasi preman-preman urban, dsb setelah awam lebih memilih menonton visual buruk iklan telepisi. Budaya konsumtif apapun, khususnya sebuah ideologi tak selamanya mampu dikelola individu dengan baik, semisal haus ya minum sesuai takaran kehausannya saja, agar tidak tersedak gagapisme intoleransi dari yang seharusnya mampu menghasilkan produktifitas penalaran rasa gemati yang toleran. Statement teman kita dari pejuang antitankproject mengungkapkan bahwa beberapa kelompok perusak hutan kalimantan yang tidak pernah berteriak terhadap kasus-kasus korupsi yang merugikan harga diri bangsa, calon guberbur DKI Jakarta Sandiago Uno beserta Menkopolhukan Luhut Panjaitan yang terkena skandal Panama Papers, beserta kasus-kasus underground negara lainnya memanfaatkan pengalihan isu terhadap bahaya laten komunis, mereka merupakan mertua yang buruk. Sasaran mereka kepada jutaan manusia bernyawa yang seperti mati dengan kebiasaan membaca yang rendah, yang terlahir tidak butuh peka membaca dan mengkaji ulang tentang komunisme, yang sebenarnya penerapan ruhnya komunisme di negeri ini sangat baik sebagai wadah perlawanan terhadap penindasan dalam bentuk ekonomi, sosial, budaya, bahkan mungkin hingga kekerasan dalam berpacaran yang tidak safety sekalipun terhadap pemerintahan. Begitu peduli hati ideologinya. Setelah membaca di situs website indie terpercaya literasi.co, aku akhirnya menemukan jenis mertua yang baik, terdapat penjelasan dan kutipan statement pengakuan bahwa dengan percaya diri dan sesadar-sadarnya Bapak Soekarno (Proklamator), D.N Aidit (ketua PKI), Haji Misbach (tokoh keagamaan Surakarta) merupakan suri tauladan tokoh komunis negeri yang santun dan penganut agama yang baik, tentunya percaya Tuhan. Pengalihan isu terhadap agenda boboroknya ironi nasional telah meluputkan mata hati masyarakat awam termasuk aku sendiri, sehingga sejenak mampu menumpulkan nalar pemuda-pemudi negeri bahwa mereka sedang menghadapi bahaya laten korupsi, bahaya laten gagap haram mengharamkan, bahaya laten perusakan lingkungan, bahaya laten selingkuh, bahaya laten menikung pacar teman, dan bahaya laten-laten lainnya yang abadi. Segala isme-isme yang ada dalam dunia ini sebaiknya dikaji terlebih dahulu secara terpelajar, meresapi segala kebaikan yang ada didalamnya, memfilter segenap kekurangannya, sembari begadang dan mengisi waktu sulitnya tidur sambil berjalan.

Related Articles

0 komentar:

Maulana Arif Hidayat. Diberdayakan oleh Blogger.

Followers