Senin, 28 September 2015

Desaku Sunyi Kotaku Malang


Kepulangan Mas Fuad dan Bowo dari sebuah perantauan sehari semalam, sebuah kota yang menurutnya ramai akan pusat perhatian ekonomi, sekitaran istana kenegaraan ibukota. Kepentingannya mengantar kepala dukuh ke asrama haji telah usai. Ia jelas berbangga diri karena dalam semalam saja, akan banyak yang dapat dibawanya kembali ke masyarakat di desanya, bayangkan! Betapa bangga luar biasa orangtuanya. Dalam pikirannya saat ini ia menyebut dirinya berulang-ulang bak pahlawan sejati yang pantas disambut kedatangannya kelak, diarak keliling desa merupakan harga mati.

“Ooh ternyata menjadi kaya itu tidak dibutuhkan kepentingan dasar bathiniyah manusia yang paling mendalam, cukup memiliki mobil, rumah, perusahaan, istri cantik, jabatan mentereng saja sudah cukup, Wo!”. Ia berkesempatan mengamati kehidupan sekitaran istana negara selama perjalanan. Manusia disini terbiasa tak repot-repot menghabiskan waktunya untuk bertanya ini itu tentang kehidupan tetangganya, apakah si tetangga hari ini bisa makan atau tidak itu perkara lain, itu memang sudah tugas Tuhan yang harus langsung turun tangan, pikirnya.

“Hffttt gampang sekali, kenapa aku tidak terpikirkan hal mudah seperti ini, terimakasih kota, sudah mengajarkan cara cepat menjadi kaya!”, ketus Fuad sepanjang perjalanan menuju kembali ke desanya. Ia menyesalkan kenapa Bapak Dukuh tak sudi mengajarkan masyarakatnya hal yang sebegini mudahnya. Sungguh terkutuk. “Awas kau nanti! Aku akan jadi pelopor perubahan kehidupan di desa, melengserkanmu”.

“Apa sih yang terus kamu pikirkan mas Fuad?” Tanya Bowo dengan berperawakan tenangnya, setenang pikirannya menanggapi gemerlap lampu kota yang sedang ditinggalkannya, pikirannya sudah sangat bersyukur dapat melihat wanita-wanita cantik nan seksi disini, tak pelak senyumnya selalu mengembang sepanjang perjalanan menyetir mobil pick up.

“Ah kau ini Bowo, matamu terlalu mudah ditipu, kau tidak pernah belajar! Semua wanita disana itu palsu, mulai dari pakaian, bedak, maupun tutur perkatannya, Seharusnya kau melihat realitas kehidupan kota yang lebih mendalam lagi, huh!”, tutur Fuad sembari membayangkan Gadisnya yang ditinggal sebentar di desa yang anggun, yang tak pernah memulai pembicaraan terlebih dahulu dengan lawan jenis, seperti itulah wanita menurutnya.

“Mulai deh Mas Fuad ini, berfilsafat seenak jidatnya sendiri, kebanyakan berpikir! Hahaha sudah sana tidur, kau sudah terjaga sepuluh jam dari tidur mas, dua jam lagi sampai, akan ku bangunkan”, Nasehat ringan Bowo mengingatkan Fuad tuk beristirahat.

“Baiklah Wo, terimakasih”, tidurlah Fuad selama sisa perjalanan.

“Mak emaak Pak bapaaak!” Panggil Fuad dari luar pintu rumahnya, tergesa-gesanya ia berlari segera ingin memberi oleh-oleh dari kota kepada orangtuanya.

“Ada apa le?” Tanya dingin kedua orangtuanya pada Fuad.

“Kita akan kaya mak! Pak! Sebentar lagi! Harus ada revolusi pola kehidupan di desa”, Fuad tergopoh-gopoh dalam setiap kalimat yang dihaturkannya.

“Le, kamu baru semalam di kota, bijaklah dalam berpikir bertindak le, bapak sudah paham yang akan kamu sampaikan, main lah kamu ke kota selama dua atau tiga hari lagi lamanya, maka dengan tambahan waktu yang sesingkat itu, kamu akan lebih tinggi lagi pencapaiaanmu terhadap realitas kehidupan disana!!“

“Kok...kok...kok...bapak tahu?”, tanya Fuad dengan tergagap-gagap.

“Apa yang kamu lihat itu belum seberapa le, kurang greget”. Tandas bapak Fuad sembari beranjak ke sawah, mencangking pacul dipundaknya yang masih bugar termakan usia sembilan puluh tahun kehidupan.

“Sialan!”, kesal Fuad kepada dirinya sendiri.


.28/9/2015.

Related Articles

0 komentar:

Maulana Arif Hidayat. Diberdayakan oleh Blogger.

Followers