Sabtu, 09 April 2016

Tanah, Air, Udara, dan Hati

Mengapa sekarang berbeda
Tanah, air, udara tak lagi bebas bertuan
Namun aku bahagia walau hanya sekedar hidup dengan...

Menginjak tanah penuh was was
Menenggak dahaga penuh sangka
Menghirup nafas penuh cemas

Oooo...

Kemudian
Kau datang dengan sendiri
Menawarkan apa yang tak bisa ku beli
Lalu ku coba barterkan dengan cinta
Penuh sepenuhnya bersahaja
Dan kaupun seperti membalasnya

Cintaa...

Namun aku sedih apabila ternyata kau
Memandangku sama seperti tanah, air, udara..
Bukan hati~

Related Articles

0 komentar:

Maulana Arif Hidayat. Diberdayakan oleh Blogger.

Followers