Kamis, 31 Maret 2016

Aku Kembali Memantai

Aku pernah bosan terhadap pantai. Bosan secara wajar, karena tumbuh besarku berada dalam lingkungan yang didominasi sekumpulan pantai yang berjajaran, sangat mendukungku untuk mengistirahatkan badan mengunjungi pantai. Namun...kemaren entah mengapa berbeda. Aku kembali berani mengunjunginya, melawan kejenuhan yang pernah terjalin mesra. Pagi hari yang cerah melesatlah menuju bibir pantai. Mendekati aroma kebalikan dari kebisingan. Menciumi apa yang tidak bisa aku dapati dalam nuansa kota. Bertiduran di bawah rindangnya pohon cemara. Melihat jelas bayang-bayang sisa kegagahan pohon cemara yang menua. Melemparkan pandang ke depan untuk menikmati memandangi butiran pasir terhempaskan ombak. Hingga lama sekali berada disana, berwaktukan bayang-bayang diri yang mulanya berada di sisi barat tubuhku, memindah ke timur tubuhku. Lalu kuambil buku cerita yang menarik dari dalam tas, ku coba membacakannya dengan bersuara, walaupun tidak banyak aksara yang sempat terbaca, namun setidaknya aku tidak sedang menceritakannya kepada diri sendiri. Ku akhiri bacaku, bertanpakan kursi, jendela, meja makan, ku bersiap menyantap bekal makan siang kita. Tidak mahal dan sederhana. Biasa saja rasa makanannya, namun yang berbeda dalam cara memakannya, menceritakan sebuah perjalanan panjang yang telah menepi, lelah dan kembali berpulang pada satu. Inilah rumahku tanpa jendela. Sebuah hari yang pendek dalam waktu, panjang dalam kenangan. Aku mencintainya.

Related Articles

0 komentar:

Maulana Arif Hidayat. Diberdayakan oleh Blogger.

Followers