Sabtu, 14 Mei 2016

Bapakmu Zombie Bukan?

Barusan saja semalam aku mendapati pencerahan setelah membaca sepenggal kalimat dalam esai Alm. Romo Mangun yang berjudul "Sang Kopral" terbitan tahun 1977. Sang Kopral disini menjadi seorang sosok bapak yang "besar", memberikan kebebasan pada anaknya dalam berperilaku, dan bersedia pula menerimanya kembali andaikan sang anak gagal dalam menyetubuhi cita idealisnya. Menurut awamku yang belum pernah jadi bapak sih; wow emezing biyanget! Sejenak kemudian pikiranku terhempas sadar kembali pada hari ini, detik ini, modern ini, atau bahkan mungkin sudah beranjak dalam gaung zaman post-modernitas. Cita rasa kebapakan post-modern, menakutkan, mengapa menakutkan? Karena ukuran suksesnya menurut mereka sepertinya masih dominan ujung-ujungnya duit lagi, pegawai negeri sipil lagi, karyawan rendahan lagi, seperti penganut madzab bersyukur stadium akhir; nerima ing pandum. Marilah sejenak refreshing meninggalkan, lebih tepatnya piknik sebentar pergi dari kebijaksanaan bersyukur-buta semenjak dari rahim ibu tersebut yang telah membudaya. Terkadang terbesit nakal dalam pikiran bahwa selalu nerima ing pandum itu semacam kekurangan intensitas kreatifitas tanpa batasnya si pelaku yang selalu berakhir dengan kurang berkesan di hati dan pikiran. Idealisme berasal dari buah pikiran dan hati. Manusia yang terbiasa tak menuruti pikiran dan perasaannya sendiri, seperti zombie, menakutkan. Bayangkan saja sakitnya dunia akademisi -mungkin- mengetahui seorang alumnus mahasiswa komunikasi, pendidikan, pertanian, dan masih banyak segudang kejuruan lainnya hanya berakhir membusuk di perkantoran bank, karena pengalaman dari pengalaman yang pernah ada mengatakan siklus karyawan bank yang tak memiliki pasion ekonom yakni kerja-betahsebentar-resign. Idealisme dan pengalaman pahit manisnya semasa perkuliahan tidak belanjut di jenjang karir. Loh mengapa jenjang karir pada umumnya malah mengkhianati proses perkuliahan? Kuliahnya apa, kerjanya apaan. Bisa ditelisik lebih menjurus, semuanya bisa saja terjadi karena banyak sekali bapak-bapak modern mengkondisikan si anak untuk memiliki kenyamanan bernafas dalam ketiak sang induk. Anak model beginian sih biasanya sering dijumpai di sosmed-sosmed yang secara khususnya fokus menye-menye membahasa perihal cinta-cintaan produksinya sendiri, dampak dari lemahnya syahwat akan semangat hidup. Hmmm aku jadi mencoba membayangkan kehidupan ke-barat-barat-an, di eropa sana, antara korelasi hubungan intern sosio-kultural anak dengan bapak. Si anak memanggil bapaknya ringan-ringan saja tuh tanpa embel-embel panggilan bapak di depan nama aselinya. Oke bukan itu yang menjadi konten pembahasan, negara timur yang penuh moralitasisme ini tidak cukup siap mengunduhnya ke dalam keseharian. Namun yang menjadi keinginanku mendalaminya yakni; anak seusia 17 tahun yang sudah bisa terlepas dari belenggu kebiasaan dalam merepotkan orangtua. Bebas secara indie menggagahi idealismenya. Iya memang sih, akan banyak sisi negatifnya, namun kan ada sisi positifnya juga, ayolah kita ambil baiknya dan jauhi negatifnya, bukankah ini merupakan ruh dari para pemikir akademisi, yakni sebuah point bahwa si anak dapat bebas menentukan mau diapakankah idealismenya terlepas dari tekanan keluarga maupun lingkungan, menjadi free man, freedom. Sekali lagi ini bukannya berniat menggugurkan adat ketimuran yang begitu mengakar-moral. Namun cita luhur menjadi manusia-khususnya lelaki- merdeka. Dan bersikap adil terhadap idealismenya. Seperti kata Bapak Pram," Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan". Kalaupun bapakmu belum adil seperti itu, jadikanlah idealisme menjadi bapakmu sendiri, ataupun bercita-citalah menjadi bapak yang adil.

Related Articles

0 komentar:

Maulana Arif Hidayat. Diberdayakan oleh Blogger.

Followers