Senin, 28 Maret 2016

Aku Seperti Melihat Kampung Halaman

Semingguan terakhir ini saya mendapatkan teman baru. Dia berbeda, ataupun mungkin akupun dianggap berbeda pula oleh dia. Berbeda memang menarik. Banyak ketertarikan yang berada dalam diri setiap orang. Dalam bahasa sok kerennya dianggap ketertarikan pesona inklusi (inklusi dalam artian bahasa perasaan, yaitu semua manusia memang dilahirkan secara berbeda). Anak ini berasal dari Manokwari. Ya, dan sayapun berasal dari Kabupaten Sarmi Mararena Jayapura, dimana kota ini menjadi tempat pertama kalinya saya menghirupkan nafas di bumi. Berada tidak cukup lama disana yang hanya sekitar delapan tahun membuat ingatanku akan kampung halaman sedikit mengabur. Maka dari itu setiap melihat teman-teman yang berasal dari Irianjaya seperti ada "keymisteri", merasa sudah pernah dan akan selalu satu sepernasiban sepenanggungan. Semua yang terjadi disana memang berat dan selalu diberatkan, entah oleh keadaan, diri sendiri, oranglain, ataupun yang lebih besar lagi tepatnya pemerintahan. Dari kerutan wajah orangtua saya sudah menampakkan pesan sasmita kepada alam, seperti ingin mengutarakan sesuatu, menyampaikan pesan, bahwa hidup disana berat nak, keras nak. Tinggal dalam lingkungan sekolahan, sudah seperti rumah subsidi dari pihak pemerintah ataupun sekolahan, mungkin yang lebih terkesannya seperti belas kasihan buah dari pengabdian. Oh tidak, bukan belas kasihan, lebih tepatnya buah kerjakeras, yappp...terdengar lebih patriotis kan. Dulu sewaktu melahirkan anak pertamanya, bukan main sekali jarak rumah dengan rumah sakit. Dengan sepedah motor pinjaman, berangkatlah mereka dari rumah menuju rumah sakit, jauuuhh sekali, tak usah dibayangkan. Hmm begitulah gambaran sedikit kepedihan keseriusan hidup. Dalam bagian kesenangannya saya teringat akan permainan yang paling mewah yang pernah dimiliki, bermain dengan alam, bermain dengan anak-anak sesama perantauan ataupun masyarakat asli, sepakbola, atau apapun memanfaatkan kebermanfaatan alam. Oh iya ada satu permainan lagi dink. Sebuah yoyo yang mampu menyala dan berlampu. Itu sudah terpaling mewah kalau dirunut ukuran ekonomis. Sudah sangat menyenangkan, karena pada saat itu kata menyenangkan masih suci sekali, polos sekali, masih menggunakan ruh yang sangat sederhana sekali, belum dirumit-rumitkan seperti yang telah menjadi budaya orang modern. Saya rasanya ingin kembali merasakan kampung halaman, menaiki kapal selama satu minggu dilautan, bertiduran di kelas ekonomi, ayam sama manusia jadi satu. Ah! Hahahaha aku tak mungkin menceritakan temanku. Tentang kampung halaman lebih menarik.

Related Articles

0 komentar:

Maulana Arif Hidayat. Diberdayakan oleh Blogger.

Followers