Selasa, 29 September 2015

Gang Sunyi Nyaring Bunyinya


Cerita dari mertua istrinya, kampung ini dengan Gang sederhananya selalu ramai oleh hiruk pikuk kegiatan, bunyi-bunyian nyanyian ekonomi.

Seharian sudah Badrus mengamati Gang ini, semakin memuncak perasaan bingung Badrus pada kesorean hari, mengapa Gang di kampung ini terasa berbeda dari cerita mertuanya, tak ada gairah ekonomi, bahkan perkumpulan tukang sayurpun tak sudi membolehkan member-nya mengitari Gang kampung, klakson khasnya pun membisu! “Kemana perginya bapak, ibu, pemuda, atau calon pemimpin negara seharian ini? Mengapa sepi?”, desaknya pada Fatimeh, istrinya. Badrus merupakan kaum pendatang, dari kota. Baru sehari ini “diculik” oleh istrinya untuk mengikuti mertuanya di kampung barang sehari dua hari. Itupun dilakoninya demi menyenangkan mertuanya yang sedang merindu pada anaknya, Fatimeh.

Fatimeh mencoba menjawab sekenanya, “Mana ku tahu mas, sudah setahun ini aku meninggalkan kampung ini bersamamu, dulu tak sebegini sepi”. Semenjak pernikahannya dengan Badrus, Fatimeh dibawanya pergi “menjauh” dari kampung, guna mencari penghidupan yang lebih baik, mereka berdua bertekad agar dapur selalu mengepul wangi, tak melulu ketela rebus, kebiasaan konsumsi keluarga Fatimeh dahulu sebelum menikah.

“Bagaimana bisa maju ini kampung! Hah! Tak becus, apa mereka sudah merasa kaya, sehingga bermalas-malasan di dalam rumah! Ini ada yang tak beres”, ujar Badrus menggebu. “Sudahlah mas, sejak kapan mas ini mengurusi kepentingan oranglain seprotektif ini? Masih ada hal lain yang lebih penting mas, usaha sampingan meubel kita”, coba Fatimeh meredam pikiran negatif suaminya itu.

“Kamu ini bagaimana sih, tugasku di kota sana kan memang mengatur ini itu kehidupan oranglain dengan segala macam tetek bengek peraturan pemerintahan, sejatinya dimanapun ku berada sudahlah pasti harus mencoba ku atur! Demi mereka! Kalau untuk usaha meubel itu untuk masa depan anak kita kelak”. “Sudah mas sudah, tak baik bicara terlalu keras di kampung, nanti ada yang tersinggung, kalau tahu mas pekerjaannya begituan, nanti salah persepsi, maksud mas kan baik”, Fatimeh khawatir tetangga ada yang salah menangkap percakapannya dengan suami.

“Ah kamu ini, selalu begitu. Coba kamu lihat pemuda yang lewat depan rumah kita, mau kemana dia, mengapa membawa bekal sebegitu banyaknya? Coba cepat kamu tanyakan padanya”, rasa penasaran Badrus.

Fatimeh mengiyakan permintaan suaminya, “Dhek-dhek tunggu, kamu hendak kemana? Kok...kok...sepertinya akan bepergian jauh”.

“Nganu..disuruh bapak, merantau mbak!”, jawab Rudi sekenanya sambil akan berlalu, ia hanyalah lulusan sekolah menengah atas yang mentereng, anak seorang petani, orangtuanya tak sanggup lagi meneruskan Rudi ke jenjang perkuliahan, walaupun Rudi orang yang cerdas, namun ia menolak melanjutkan pendidikan karena menyadari kondisi keluarganya dan memilih membantu di sawah orangtuanya yang sudah tua. Keluarga Rudi setahun ini selalu gagal panen semenjak musim kemarau yang tak kunjung bersahabat dengan rakyat kecil. Orangtuanya mengharapkan Rudi bekerja di kota, agara mendapatkan rupiah yang lebih banyak, syukur-syukur mendapatkan dollar, yang katanya televisi akhir-akhir tahun 2015 ini melonjak seperti kurs mata uang yang sedang obesitas.

Badrus menyaut, “Loh loh sebentar, kenapa gak kuliah saja dulu dhek!? Bagaimana bisa bersaing diluar sana? Cobalah jual tanah keluargamu, ini demi kehidupan yang lebih baik, pendidikan! Kamu bisa ambil jurusan ekonomi, bisnis, hukum, atau apalah, untuk memakmurkan membela rakyat kampungmu”.

Rudi diajak merenung, mengingatkan kembali padanya teman-temannya yang lebih dulu telah kuliah di kota besar, setiap dua semester sekali ada saja tanah warganya yang dijual secara ikhlas tak ikhlas, untuk biaya perkuliahan anak-anaknya. Namun beberapa tahun kemudian setelah lulus, kebanyakan dari mereka teman-temannya melupakan tugas utamanya membalas budi, membangun ekonomi desa. Mereka tertidur dalam kesadarannya, sadar dalam enaknya terlelap tidur, hingga terus bermimpi. Hasil pekerjaannya hanya untuk memikirkan perut-perut keluarga dan individu. Tak pernah mau meninggalkan hal “mewah” pada kampungnya yang turut membesarkannya, lapangan pekerjaan. “Mas, Mbak, aku takut kualat!, bila tak bisa berbalas budi pada kampung halaman, coba tengok kampung kita ini, aku percaya sepinya ini sepi bencana struktural, turun temurun!”, akhir dari perenungan Rudi.

“Jangan terlalu mudah putus asa, kamu harus berusaha lebih keras dari mereka, kamu bisa lebih baik dhek”, sanggah Fatimeh mendinginkan perasaan Rudi.

“Mahasiswa yang berasal dari kampung semenjak dahulu sudah terkena kutukan mas, mbak. Terbelenggu, lepas kontrol, seenaknya udelnya sendiri”. Tanya Badrus yang kebingungan, “Maksut kamu?”. Rudi memahami Badrus yang memang berasal dari kota, Rudi mengerti akan keganjilan sosial ini, “Kebanyakan lulusan mahasiswa dicetak sebagai pemimpi ulung, mengandai-andai yang jelas tak bisa dicapainya, pekerjaan yang diharapkan juga aneh-aneh, yang jelas-jelas tak ada dampaknya secara langsung terhadap kampungnya yang miskin. Selalu ingin meninggalkan kampungnya sendiri, menjauh. Mereka juga tak tahu apa yang sedang diperjuangkannya. Setelah sukses, lagi-lagi rakyat kecil juga yang dicaplok-nya lahap!”.

Dengus Badrus dengan istrinya, “Kurang ajar! Lalu terus peruuut warga, khususnya warga gang ini mau dikemanakan??”

“Ya begini lah mas, Gang yang sunyi nyaring bunyinya, krucuk...krucuk...!”

Rudi sambil pamit berlalu menuju kota, bekerja sebagai office boy gedung DPR, yang katanya wakil rakyat di bumi.


.29/09/2015.

Related Articles

0 komentar:

Maulana Arif Hidayat. Diberdayakan oleh Blogger.

Followers