Minggu, 27 September 2015

Twitter Land

 
       Dua jam yang rasanya memanjang, sengaja menunda dengan lambat usaha Roby tuk meninggalkan kesedihannya dari depan layar kata. Serial bacaan novel romantis yang didalaminya mengajaknya bepergian ke suatu waktu silam, di kala Roby bertemu kebahagiaan sekaligus kesedihannya beberapa hari yang lalu. Diselaminya mendalam sepenggal-sepenggalan kalimat perucapan antara tokoh utama lelaki dengan tentunya wanita dengan penuh semangat imajiner. Memposisikan dirinya sendiri –Roby- pada tingkat ke-aku-an tokoh utama yang akurat, dimana pernah dijumpainya seorang wanita yang dalam kenyataan dengan imajinasinya menyatu. Imut, tinggi, berambut terurai, dengan lesung pipi yang menggoda.
       Silam lalu, bertempat di sebuah Kedai Kopi Malang, lokasi yang cukup tepat, iklim yang dingin bertemu  hangatnya secangkir kopi dengan kue pie. Duduk menghadap meja bartender, Roby memandangi jenuh satu persatu timeline twitter dalam laptopnya, deras hujan menjadi temannya dari luar jendela. Dibukanya jendela pemikirannya tentang cinta, teman, ataupun keluarga. Semua ditumpahkan pada kicauannya dalam twitter, entah itu perasaannya sendiri maupun skala sosial yang dirasakan sekitarnya. Satu..dua..tiga..hingga puluhan kicauan yang telah dilemparkan pada konsumsi massa. Di luar itu, Roby sering membaca buku milik para pemikir-pemikir filsafat, mencoba membagikannya sesuai pengalaman pribadinya sendiri, namun nampak terancam gagal karena jauh dari kemiripan kemampuan pola pikir yang dimilikinya dengan tokoh idolanya, setidaknya Roby pernah merasakan beratnya terus mencoba.
“Retweet!”, Ucap Jack Dorsey sang empunya twitter melalui notifikasi. Senyum Roby mengembang dikala ada respon terhadap apa yang disampaikannya melalui deretan kalimat yang dibuatnya. Pikir Roby hanya terbayang ingin membahas tentang cinta, hanya yang khusus cinta, dengan orang yang mereseponnya, tidak lebih, apabila bisa lebih juga itu hanya kebetulan ke sepersekian enol persen semata, fana!. ia sebenarnya sadar akan apa yang dilakukannya, semua itu terjadi ketika kapasitas teman yang dimilikinya tidak sanggup lagi menerima pola perasaannya, ia mencari tempat baru untuk berbahas cinta, yang ia sadari belum tentu lebih baik dari apa yang sudah dimilikinya. Yakni Roby mengerti akan apa yang ada didepan matanya: mempersilahkan kembali terbukanya ruang kosong pada hatinya yang semakin meluas termakan usia, bermain harapan yang tersia-sia.
Sosok yang dijumpainya bernamakan Rani. Seorang pemerhati kicauan manusia yang cukup rajin berjalan-jalan dalam beranda, pengamat ahli, apapun yang menarik hatinya ia pasti sukai tanpa alasan, karena menyukai tanpa alasan bukanlah suatu tindak kriminal, pikirnya.
“Hai?”, sapa Roby senatural mungkin, membayangkan Rani ada didepannya  duduk dalam ruang waktu dan tempat yang sama, sewajarnya manusia saling sapa, semudah itu sembari berbalas saling mengecup bibir cangkir hangat masing-masing, yang semakin kesini makin menghangat oleh suasana.
Semenit...satujam...tigajam...sehari... hingga dua hari kemudian, menunggu.
Roby menyedihi apa yang telah dilakukannya. Setelah beranjak dari kedai kopi, tampaknya hingga dua hari lamanya menghabiskan seribu halaman tetralogi novel romantis yang menemaninya tetap tak akan terjawabkan pesannya kepada si Rani, ah.

Related Articles

0 komentar:

Maulana Arif Hidayat. Diberdayakan oleh Blogger.

Followers