Twitter Land
Dua jam yang rasanya memanjang, sengaja menunda
dengan lambat usaha Roby tuk meninggalkan kesedihannya dari depan layar kata.
Serial bacaan novel romantis yang didalaminya mengajaknya bepergian ke suatu
waktu silam, di kala Roby bertemu kebahagiaan sekaligus kesedihannya beberapa
hari yang lalu. Diselaminya mendalam sepenggal-sepenggalan kalimat perucapan antara
tokoh utama lelaki dengan tentunya wanita dengan penuh semangat imajiner.
Memposisikan dirinya sendiri –Roby- pada tingkat ke-aku-an tokoh utama yang
akurat, dimana pernah dijumpainya seorang wanita yang dalam kenyataan dengan
imajinasinya menyatu. Imut, tinggi, berambut terurai, dengan lesung pipi yang
menggoda.
Silam lalu, bertempat di sebuah Kedai
Kopi Malang, lokasi yang cukup tepat, iklim yang dingin bertemu hangatnya secangkir kopi dengan kue pie.
Duduk menghadap meja bartender, Roby memandangi jenuh satu persatu timeline
twitter dalam laptopnya, deras hujan menjadi temannya dari luar jendela.
Dibukanya jendela pemikirannya tentang cinta, teman, ataupun keluarga. Semua
ditumpahkan pada kicauannya dalam twitter, entah itu perasaannya sendiri maupun
skala sosial yang dirasakan sekitarnya. Satu..dua..tiga..hingga puluhan kicauan
yang telah dilemparkan pada konsumsi massa. Di luar itu, Roby sering membaca
buku milik para pemikir-pemikir filsafat, mencoba membagikannya sesuai pengalaman
pribadinya sendiri, namun nampak terancam gagal karena jauh dari kemiripan
kemampuan pola pikir yang dimilikinya dengan tokoh idolanya, setidaknya Roby
pernah merasakan beratnya terus mencoba.
“Retweet!”, Ucap Jack Dorsey sang
empunya twitter melalui notifikasi. Senyum Roby mengembang dikala ada respon
terhadap apa yang disampaikannya melalui deretan kalimat yang dibuatnya. Pikir
Roby hanya terbayang ingin membahas tentang cinta, hanya yang khusus cinta,
dengan orang yang mereseponnya, tidak lebih, apabila bisa lebih juga itu hanya kebetulan
ke sepersekian enol persen semata, fana!. ia sebenarnya sadar akan apa yang
dilakukannya, semua itu terjadi ketika kapasitas teman yang dimilikinya tidak
sanggup lagi menerima pola perasaannya, ia mencari tempat baru untuk berbahas
cinta, yang ia sadari belum tentu lebih baik dari apa yang sudah dimilikinya. Yakni
Roby mengerti akan apa yang ada didepan matanya: mempersilahkan kembali
terbukanya ruang kosong pada hatinya yang semakin meluas termakan usia, bermain
harapan yang tersia-sia.
Sosok yang dijumpainya bernamakan Rani.
Seorang pemerhati kicauan manusia yang cukup rajin berjalan-jalan dalam beranda,
pengamat ahli, apapun yang menarik hatinya ia pasti sukai tanpa alasan, karena
menyukai tanpa alasan bukanlah suatu tindak kriminal, pikirnya.
“Hai?”, sapa Roby senatural mungkin,
membayangkan Rani ada didepannya duduk
dalam ruang waktu dan tempat yang sama, sewajarnya manusia saling sapa, semudah
itu sembari berbalas saling mengecup bibir cangkir hangat masing-masing, yang
semakin kesini makin menghangat oleh suasana.
Semenit...satujam...tigajam...sehari...
hingga dua hari kemudian, menunggu.
Roby menyedihi apa yang telah dilakukannya.
Setelah beranjak dari kedai kopi, tampaknya hingga dua hari lamanya menghabiskan
seribu halaman tetralogi novel romantis yang menemaninya tetap tak akan terjawabkan
pesannya kepada si Rani, ah.
0 komentar:
Posting Komentar