Minggu, 30 Maret 2014

Persinggahan Hidup

Selamat pagi, selamat beraktifitas! Ucapan wajar lontaran dari kekasih, teman, dan saudara. Seakan pagi anak ini penuh dengan aktifitas. Mereka tidak tahu aktifitas paginya hanya berakhir di pikiran, dan bukan tanpa alasan karena dalam kehidupannya mengenal istilah maju kena mundur kena, pilihan berdiam dirilah saat ini yang terbijak. Semua berawal dari sini, tempat persinggahannya di Kota Yogyakarta. Bangunan besar, tempat persinggahan banyak orang, istana sebutannya. Ramai namun anak ini merasa sedang terdampar di Istana ini, acapkali dalam benak teriakannya terdengar lantang "tolong, tolong, tolong keluarkan saya dari sini!!". Dua pilihan yakni menurut atau membangkang kepada Sang Raja, penguasa setiap bathin raga di tempat ini. Belum ada pilihan yang menjadi jalan hidupnya sejauh ini. Dalam pencarian kepastian pilihannya, berkelanalah anak ini mencari ketenangan di luar sana, dunia yang siap membunuhnya dalam cengkeraman modernitas, dunia yang siap memukulinya puas dalam ruang waktu yang tak menentu, mengajarinya mengenal kapan berada di atas dan kapan di bawah. Semenjak pergolakan ini, dia memberanikan dirinya berkenalan dengan beberapa istana kecil di luar sana yang memiliki aktifitas lebih hidup selayak yang diinginkannya selama ini, ada beberapa istana yang sudah siap mengguncangkan hidupnya kedepan. Mendewasakan pemikirannya dari seorang anak menjadi seorang pria. Dimana pria ini sudah tidak sabar menunggu moment dimana kapan akan diumumkannya keberhasilan semua itu kepada mereka.
Sebentar lagi...

Serupa tapi Tak Sama, Kita

Anak kota duduk berjejeran di "Kaki Lima" produk Amrik. Bercanda-canda antar satu sama lain. Makanan dan minumannya pun aku latah menyebutnya. Bukan lantaran budaya yang berbeda, tapi putra daerah tak berkesempatan berkenalan baik dengannya, seindah kata ketika uang bisa turun dari langit Sang Pemberi, ataupun jatuh dari dedaunan rimbun pohon. Mungkin mereka juga sepertinya tak sempat berkenalan baik dengan angkringan, hanya sesekali ketika sama, atas dasar tali kencang persabatan. Jamuan makan malam yang hangat, ada moment ketika mahal dan murah bergantian menyambut. Seperti saling sapa saja semua ini, menunggu giliran siapa sebagai tamu ataupun siapa sebagai tuan rumah di tempat istimewa itu.
Sebenarnya tempat kenyamanan bukan suatu permasalahan yang besar, yang besar adalah ketika kita benar-benar bisa saling memanusiakan manusia. Sudah banyak di luar sana manusia lupa akan memanusiakan manusia, seakan manusia hanya dirinya sendiri dan yang lainnya hanyalah sesosok bayangan di matanya, bayangan antara ada dan tiada. Tidak mungkin hal semu semacam ini ada di mata kalian.

Duduk di "Kaki Lima" Amrik maupun angkringan merupakan dua sisi yang serupa tapi tak sama, tawa canda suka duka selalu ada terselip dalam sajiannya, persahabatan. Dunia memiliki suguhan kenikmatan berbeda-beda pada setiap insan individu, indahkan bila kita saling menyatu?
Seperti ini :)

Sabtu, 29 Maret 2014

Malam Memori Kental

Aku rindu malam ini, setidaknya badha maghrib hingga shubuh moment setahun silam. Bertemu segelintir dalam balutan ramah, cuek, kaya, miskin, iya sifat manusia. Budaya yang berbeda merona pada wajah mereka, tersalurkan lewat satu senyuman yang tersimpul akan kubalas dengan siratan "selamat datang". Tiga bulan sudah aku tinggalkan dunia ini, tapi tak pernah sepenuhnya karena pengalamanku tertinggal kental dalam ruangan itu. Mengendap seperti milik kopi, pahit manis bersatu kalem.
Dua puluh mesin berotakkan manusia aku jaga, tak ketat namun menandakan perhatianku padanya seperti berhadapan dengan sesama. Mengenalinya dengan baik acapkali sesekali beradu argumen, walau cuman selalu dalam sepihak yaitu dalam pihakku. Terkadang langsung terbalaskan, sering juga berbalas nanti ketika seorang manusia telah menyadarkannya, sadar sepenuhnya.
Jam dimana sewaktu cinderella berlarian meninggalkan Istana dalam kisah setelan negeri dongeng, 24.00 mengharuskan memisahkan kita sejenak, berpisah dengan saling meninggalkan percaya kepada penjaga Istana selanjutnya.
Titip...

Masa lalu, Janti Net.

Jumat, 28 Maret 2014

Dingin, sementara.

Dia. Aku menganggap akhir-akhir ini Dia dingin, sedingin es batu dalam es teh buatan ala angkringan. Perasaan bingung ada di depan mata, aku harus bagaimana, menenggak minuman itu atau menggantinya dengan air teh yang hangat kah ? Bingung. Aku pegang bibir gelas ini, aku pun ikut berubah menjadi dingin, setidaknya sementara, sewaktu kebingungan memilih tindakan. Dan akhirnya aku memilih menggantinya dengan air teh hangat, maaf.
Hari ini, ketika cek-cok dalam hubungan kita bersuara, meninggi. Saling membawa individu menuju puncak kemenangan emosi, hingga lupa kalau kita itu satu. Iya memang Pria cukup memiliki modal untuk gengsi hati yang tinggi, dan iya juga memang terkadang bisa seegois orangtua Siti Nurbaya yang memandang dari satu sisi, kebahagiaan semu sepihak. Pria memandang hal kecil dalam kehidupan itu selalu besar, karena dari kecil lah sesuatu mampu menjadi besar, kelak. Merasa didiamkan maka seorang pria pasti membalasnya, berharap Dia lah yang mulai berbicara, karena diamnya Dia selalu tidak beralasan.
Perdebatan komunikasi dalam singkat selayak mampu merubah domba menjadi serigala. Buas. Selebihnya, komunikasi yang hanya layak sebagai konsumsi pribadi. Pertengkaran ini berakhir dengan "D", berarti Delivery dalam bbm, tanpa "R", Replay. Replay pun dengan pembahasan yang mengenakkan, bermaafan.

Di akhir, setidaknya aku tak merasakan lagi sebuah dingin itu, mulai ada hangat lagi di antara kita, kehangatan melalui pertengkaran kecil yang menarik untuk diambil hikmah.

Semoga kamu berpikiran sama. Indah.

Kamis, 27 Maret 2014

Jangan Lupa Jumat'an

Seperti biasanya dia mengingatkanku untuk Ibadah Jumatan, tapi kemarin beberapa bulan yang lalu hingga minggu kemarin, masih. Hari ini tidak tahu ada angin apa, entah lupa atau apa, tak ada peringatan itu yang datang. Iya memang benang merah bukan padanya, saya berangkat pergi ibadah jumat semata karena Allah SWT. Namun seperti senormalnya orang, ketika sudah menjadi terbiasa rutinitas, dan sewaktu sesekali rutinitas itu hilang, ada yang hilang. Mungkin ia memiliki pertimbangan lain entah apapun itu, hanya dia yang tahu. Semoga mengarah pada positif, walau acap kali perassaan khawatir lebih dominan, akumulasi dari kekhawatiran semenjak dulu hingga masa depan terakumulasi dalam satu hari, Jumat.

Cocard

Apa sih yang orang ketahui tentang cocard? Iya benar, pasti banyak menyebut hanyalah sebuah kertas, hanya itu. Tapi bagi saya, cocard adalah bukti kita pernah memainkan peran penting dalam sebuah event. Iya yang "mereka" sebut hanya kegiatan melelahkan tak menghasilkan apa-apa. Masih kah di zaman sekarang ini masih melihat dari sekedar segi materi? ya banyak. Hidup tak bahagia dengan sekedar materi, materi, materi, macam raga tak bernyawa saja ini macam orang. Saya tak melihat materi hanya sekedar bonus, iya bonus macam kita beli jajan ciki dapat hadiah, menurutku. Disini saya mendapat teman, baik wanita maupun pria, mereka baik. Setidaknya di awal baik. Ada Fetty, Icha, Ravi, GT, Richard, Rifky, dan sebagainya. Semoga pertemanan ini tidak berakhir disini, karena kita tak layak berhenti sekedar disini, teman.

@eventTOGOEJOGFEST

Selasa, 07 Januari 2014

Mie Ayam 24 Jam Yogyakarta

Siapa yang tidak suka Mie Ayam, sudah ditakdirkan juga sama Tuhan kalau Mie Ayam itu kuliner yang wajib disantap oleh sama semua orang di Indonesia, mulai dari anak kecil hingga orang tua, dan bahkan kakek nenek tak luput dari pesonanya. Seluruh para pecinta kuliner di negeri ini juga bisa dipastikan sudah pernah mencicipi kenikmatan mie ayam andalan masing-masing di kota tercintanya.

Nah kali ini siapa diantara teman-teman pecinta kuliner yang pernah dimintai permintaan makanan aneh atau mungkin diajak makan diwaktu-waktu khusus yang bisa dibilang aneh juga dari pasangannya. Duh dan pasti apapun dilakukan, ya kan ya biasanya begitu. Makan Mie Ayam tepat jam 24.00 tengah malam, ini pasangan nantangin, ngidam, atau bagaimana ya dalam benak pikiran ??!!

Sepulang berjalan-jalan menikmati suasanan malam Tugu Yogyakarta, untung ada solusi tempat makan malam yang identik nuansa berkuah kental ini. Solusi tersebut yakni Mie Ayam milik Pak Thoyong yang berlokasi di Jl. Profesor Herman Yohanes Sagan Yogyakarta (utara Galeria Mall), buka juga hingga larut malam. Dalam cita rasa tentunya semua Mie Ayam mempunyai cita rasa yang berbeda, Mie Ayam Pak Thoyong ini yang sangat mampu memanjakan lidah penikmat kuliner dengan pilihan-pilihan menu andalannya.

Warung Mie Ayam Pak Thoyong pada pagi hari hingga sore memang masih berfungsi sebagai toko figura lukisan, namun beranjak sore hari mulai pukul 17.00 hingga larut malam toko ini mulai berubah alih fungsi menjadi Warung Mie Ayam milik Pak Thoyong. Dengan kisaran harga dari 8-10 ribuan warung ini selalu ramai tiap harinya oleh para pecinta kuliner. Dengan background tumpukan figura dengan lukisan berjejer di dinding, setiap angkatan sumpit dalam menikmati santap malam mie ayam kali ini bagaikan berada di sanggar seni lukis. Nuansa yang bagus tentunya mendukung selera nafsu makan para penikmatnya.

Bagi yang penasaran akan kelezatan Mie Ayam ini, silahkan langsung saja berangkat hari apapun mulai petang hingga larut malam, dijamin tak ada rasa kecewa dalam menikmati suasana pra makan dan paska makan Mie Ayam. Silahkan mencoba!

Selasa, 03 Desember 2013

Saling sendiri..

Dalam beberapa hari kedepan, aku akan membiarkan kamu terbang sendiri menikmati duniamu selama aku tidak muncul di permukaan. Di dunia baruku yang akan sementara ini aku hanya ingin mengamatimu dari kejauhan, menggunakan feeling. Membiarkan rasa khawatir menguasaiku untuk tetap merasa dekat denganmu.

Hawa dinginnya kutub mungkin telah atau sedang melekat pada sikapmu terhadapku akhir ini, apakah kamu benar sesibuk itu? Sudah lelah dengan duniamu sendiri? Atau mungkin bosan, tentunya kata-kata yang tidak ingin aku dengar. Aku tidak punya pilihan lain ketika hati ingin mencoba memberi ruangan sendiri terhadapmu, membiarkanmu merasakan secara alami apa yang ku rasa dengan lontaran-lontaran dugamu.

Bukan melupakan atau meninggalkanmu. Aku hanya memberimu waktu mengenalku dengan kesepian. Aku suka bermain waktu, membiarkan apapun terjadi tanpa aku sentuh, menarik bukan?

Aku tak suka ketika pikiranku merasuk, beranggapan mulai diacuhkannya diri ini. Sepinya hidup ini  kedepan, seakan aku enggan meninggalkan kemarin lusa yang ramai oleh hadirmu. Namun kapan lagi bila bukan saat ini aku membuktikan semuanya.

Marah, benci, sedih, atau bahkan diam saja kah tanggapanmu nanti? Tuhan tak pernah memberitahuku.

Penasaran..
Bukan jawaban "diam" kan yang akan kamu ungkapkan di akhir semua ini, sudah seakan mati saja semua ini dengan jawaban itu.

Semoga kamu baik-baik saja merasakan sepi yang indah, untuk kedepan yang lebih baik.

Maaf....
Aku terlalu cakap dalam menuntut, untuk menjadi jati dirimu sendiri. Bila ini memang sudah sikapmu yang sebenarnya, ijinkan aku meminta maaf aku belum baik mengenalmu. Seakan sadar dari tamparan, sulit dipercaya ternyata aku belum mengenalmu dengan baik.

Sebaiknya kita bertemu..
Akan aku tunggu kamu dimana tempat pertama kali aku menyentuh hatimu. Jumat, pukul 19.00, Yogyakarta.

Senin, 02 Desember 2013

Jam Tangan mati, semuanya belum berakhir.

Sudah sebulan lebih ini gua pake jam tangan mati. Ya bukan jam tangan yang mahal sih, buruk rupa juga lagi. Tapi apa coba yang gag bangga kalo beli dari hasil keringat sendiri? Bangga di bangga-banggakan aja dong ya.

Kondisi warna mulai memudar, jarum lepas. Akrab sudah menjadi hiasan tangan gua beberapa dekade bulan ini. Ketika teman bertanya tentang ini pukul berapa, maka gua biarkan aja jam tangan ini istirahat diam tak bekerja, gua tengok lah jam pada hape.

Ya sering juga sih jadi bahan ledekan, bahkan anehnya gua duluan yang mulai pembahasan ledek meledek ini. Orang yang kelewat percaya diri ya kaya gini masa bodho amat. Yang penting sana senang, dan sini juga senang. Terhibur aja ada pembahasan ledek-meledek bareng shohib.
 
Ditertawakannya dia, ia tidak lelah, ingin membalas dengan senyum, tapi ia tak bernyawa. Oh sederhananya dia.

Boleh juga sebagian orang memandang penampilan dari luar, ya gua sih masih sering kaya gitu juga sih sesekali. Sah-sah saja pola pikir sebagian dari teman-teman seperti itu. Soo why not?? fine saja. Seperti hukum alam saja biarkan air mengalir ke hulu.

Tapi nanti, kelak...
Kalau kalian sudah mulai merasakan beli barang ini itu pakai hasil keringat uang sendiri, merasakan aktifitas disaat mereka istirahat, mengencangkan ikat pinggang ketika mereka terbangun. Iya benar, rasanya seakan ingin menghargai setiap barang sekecil apapun yang kita dimiliki, respect.

Iya..
Suatu saat jam tangan ini benar akan istirahat juga, dengan tenang duduk di pojokan meja belajar kamar, memberikan kesempatan jam tangan lain menghiasi tangan gua. Tentunya ia memberi ijin sang pengganti, menghargai hasil keringatku dengan mengijinkan yang lain melingkari tangan gua.

#NB:
Nyok bergerak bagi teman-teman yang masih merengek minta ini itu terhadap orang tua. Dimana dunia nanti juga akan berputar dan kehidupan peranmu akan berlanjut digantikan sang putra-putri kalian.

Minggu, 01 Desember 2013

Bagaimana cara berpamitan yang baik ?

Hari ini tepat tanggal 1 dimana semua karyawan menerima gaji. Entah ini sudah gaji keberapa yang aku terima selama kerja parttime paruh waktu. Bekerja semenjak semester 3 sudah setahun lebih juga aku bekerja tanpa berpindah tempat. Dapat bertahan bekerja di tempat yang sama dengan waktu lama di bidang internet. Iya benar, menjadi seorang operator warnet.

Kenapa bisa betah ya?

"Ya kagag tau juga sih", karena memiliki bos yang dermawan dan partner kerja yang cocok juga salah satu alasan kenapa bertahan bekerja disini lumayan lama. Pekerjaan ini mendukungku sebagai seorang mahasiswa, dengan fasilitasnya yang membantuku dalam mengerjakan berbagai tugas perkuliahan. Ya, sudah setahun pekerjaan ini membantuku dalam perkuliahan.

Suatu saat tiba waktunya juga rasa ingin mencari pengalaman kerja yang baru, pekerjaan sebagai operator warnet dirasa sudah cukup kenyang dengan pengalaman selama setahun lebih.

Sepertinya aku benar-benar harus melepaskan pekerjaanku sebagai operator warnet ini dan menggantinya dengan pekerjaan yang baru.

Selanjutnya ingin merasakan pengalaman baru lagi, pekerjaan apa sajalah yang penting halal. Kemarin di pertengahan bulan november mulailah pekerjaan sampingan lain aku ambil. Sebagai pedagang buku dari satu event ke event yang lain. Lumayan bisa menambal kekeringan uang jajan di akhir bulan. Tetapi, tidak selamanya ada event yang bisa diandalkan untuk mencari nafkah tambahan. Bisa dibilang masih serabutan.

Mulailah kembali mencari-cari lowongan pekerjaan dari teman maupun info twitter, semoga ada yang cocok dengan kondisiku sebagai pelajar di salah satu perguruan tinggi di Jogja ini. Namun belum juga sampai saat ini aku menemukannya.

Sebenarnya ingin mencoba pengalaman menjadi seorang waiters di salah satu cafe jogja. Sepertinya menyenangkan, berjumpa langsung dengan banyak orang adalah pekerjaan yang menyenangkan. Sebuah harapan baru.

Namun..
Semuanya tidak semudah itu dalam melepaskan sebuah pekerjaan yang sudah membuat selama ini kita nyaman.

Kata-kata apa yang pantas untuk berpamitan ?
Maulana Arif Hidayat. Diberdayakan oleh Blogger.

Followers