Jam Tangan mati, semuanya belum berakhir.
Sudah sebulan lebih ini gua pake jam tangan mati. Ya bukan jam tangan yang mahal sih, buruk rupa juga lagi. Tapi apa coba yang gag bangga kalo beli dari hasil keringat sendiri? Bangga di bangga-banggakan aja dong ya.
Kondisi warna mulai memudar, jarum lepas. Akrab sudah menjadi hiasan tangan gua beberapa dekade bulan ini. Ketika teman bertanya tentang ini pukul berapa, maka gua biarkan aja jam tangan ini istirahat diam tak bekerja, gua tengok lah jam pada hape.
Ya sering juga sih jadi bahan ledekan, bahkan anehnya gua duluan yang mulai pembahasan ledek meledek ini. Orang yang kelewat percaya diri ya kaya gini masa bodho amat. Yang penting sana senang, dan sini juga senang. Terhibur aja ada pembahasan ledek-meledek bareng shohib.
Ditertawakannya dia, ia tidak lelah, ingin membalas dengan senyum, tapi ia tak bernyawa. Oh sederhananya dia.
Boleh juga sebagian orang memandang penampilan dari luar, ya gua sih masih sering kaya gitu juga sih sesekali. Sah-sah saja pola pikir sebagian dari teman-teman seperti itu. Soo why not?? fine saja. Seperti hukum alam saja biarkan air mengalir ke hulu.
Tapi nanti, kelak...
Kalau kalian sudah mulai merasakan beli barang ini itu pakai hasil keringat uang sendiri, merasakan aktifitas disaat mereka istirahat, mengencangkan ikat pinggang ketika mereka terbangun. Iya benar, rasanya seakan ingin menghargai setiap barang sekecil apapun yang kita dimiliki, respect.
Iya..
Suatu saat jam tangan ini benar akan istirahat juga, dengan tenang duduk di pojokan meja belajar kamar, memberikan kesempatan jam tangan lain menghiasi tangan gua. Tentunya ia memberi ijin sang pengganti, menghargai hasil keringatku dengan mengijinkan yang lain melingkari tangan gua.
#NB:
Nyok bergerak bagi teman-teman yang masih merengek minta ini itu terhadap orang tua. Dimana dunia nanti juga akan berputar dan kehidupan peranmu akan berlanjut digantikan sang putra-putri kalian.
0 komentar:
Posting Komentar