Dingin, sementara.
Dia. Aku menganggap akhir-akhir ini Dia dingin, sedingin es batu dalam es teh buatan ala angkringan. Perasaan bingung ada di depan mata, aku harus bagaimana, menenggak minuman itu atau menggantinya dengan air teh yang hangat kah ? Bingung. Aku pegang bibir gelas ini, aku
pun ikut berubah menjadi dingin, setidaknya sementara, sewaktu kebingungan memilih tindakan. Dan akhirnya aku memilih menggantinya dengan air teh hangat, maaf.
Hari ini, ketika cek-cok dalam hubungan kita bersuara, meninggi. Saling membawa
individu menuju puncak kemenangan emosi, hingga lupa kalau kita itu satu. Iya memang Pria cukup memiliki modal untuk gengsi hati yang tinggi, dan iya juga memang terkadang bisa seegois orangtua Siti Nurbaya yang memandang dari satu sisi, kebahagiaan semu sepihak. Pria memandang hal kecil dalam kehidupan itu selalu besar, karena dari kecil lah sesuatu mampu menjadi besar, kelak. Merasa didiamkan maka seorang pria pasti membalasnya, berharap Dia lah yang mulai berbicara, karena diamnya Dia selalu tidak beralasan.
Perdebatan komunikasi dalam singkat selayak mampu merubah domba menjadi serigala. Buas. Selebihnya, komunikasi yang hanya layak sebagai konsumsi pribadi. Pertengkaran ini berakhir dengan "D", berarti Delivery dalam bbm, tanpa "R", Replay. Replay pun dengan pembahasan yang mengenakkan, bermaafan.
Di akhir, setidaknya aku tak merasakan lagi sebuah dingin itu, mulai ada hangat lagi di antara kita, kehangatan melalui pertengkaran kecil yang menarik untuk diambil hikmah.
Semoga kamu berpikiran sama. Indah.
0 komentar:
Posting Komentar