Minggu, 30 Maret 2014

Serupa tapi Tak Sama, Kita

Anak kota duduk berjejeran di "Kaki Lima" produk Amrik. Bercanda-canda antar satu sama lain. Makanan dan minumannya pun aku latah menyebutnya. Bukan lantaran budaya yang berbeda, tapi putra daerah tak berkesempatan berkenalan baik dengannya, seindah kata ketika uang bisa turun dari langit Sang Pemberi, ataupun jatuh dari dedaunan rimbun pohon. Mungkin mereka juga sepertinya tak sempat berkenalan baik dengan angkringan, hanya sesekali ketika sama, atas dasar tali kencang persabatan. Jamuan makan malam yang hangat, ada moment ketika mahal dan murah bergantian menyambut. Seperti saling sapa saja semua ini, menunggu giliran siapa sebagai tamu ataupun siapa sebagai tuan rumah di tempat istimewa itu.
Sebenarnya tempat kenyamanan bukan suatu permasalahan yang besar, yang besar adalah ketika kita benar-benar bisa saling memanusiakan manusia. Sudah banyak di luar sana manusia lupa akan memanusiakan manusia, seakan manusia hanya dirinya sendiri dan yang lainnya hanyalah sesosok bayangan di matanya, bayangan antara ada dan tiada. Tidak mungkin hal semu semacam ini ada di mata kalian.

Duduk di "Kaki Lima" Amrik maupun angkringan merupakan dua sisi yang serupa tapi tak sama, tawa canda suka duka selalu ada terselip dalam sajiannya, persahabatan. Dunia memiliki suguhan kenikmatan berbeda-beda pada setiap insan individu, indahkan bila kita saling menyatu?
Seperti ini :)

Related Articles

0 komentar:

Maulana Arif Hidayat. Diberdayakan oleh Blogger.

Followers