Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Senin, 21 Maret 2016
Jangan adzan Bapak, jangan!
Remaja tanggung yang sedang menikmati liburan akhir semester di kampungnya selama dua minggu ke depan, baru saja semalam datang dari jauh disana tempatnya kuliah berasal. Rasa-rasanya senang sekali pagi ini dapat berkumpul dengan teman sepermainannya semasa kanak-kanak. Titik nadir kangen setelah tiga semester berpisah sejenak. Perkumpulan itu berbeda dengan perjumpaan dengan teman lama pada umumnya. Terjadilah suasana perkuliahan informal yang diharapkan Zulfa. Pembagian pengalaman intelektual secara vertikal. Dari atas ke bawah menukik tajam. Zulfa menjelaskan panjang lebar ini itu (ilmu keagamaan semester satu hingga tiga di universitas islam swasta Jakarta) kepada teman-temannya, seperti sedang menuangkan air ke dalam gelas kosong, bahkan yang akan meminumnya kebingungan akan mengapakankah, dihabiskan langsung, atau setengah dahulu sesuai kebutuhan dahaga, ataupun memang tidak butuh sama sekali air yg diberikan Zulfa.
"Hebat kamu zull!!", pungkas Rahmat pada teman sejawatnya.
"Ah biasa saja mat, sudah jadi kewajibanku menyampaikan, walau satu dua ayat".
Zulfa merupakan satu-satunya remaja yang berkesempatan meneruskan studinya ke jenjang perkuliahan. Kedua orangtuanya juragan sembako di Kampung Wereng Kabupaten Blora. Harapannya, agar Zulfa menjadi orang yang "bener" di tengah kampung yang terisoler dari pergumulan zaman, sejarah, sosial, politik budaya, maupun keagamaan.
Perjalanan pengalaman bathin dan pikiran Zulfa selama di kota besar menjadikannya sebagai acuan dalam usahanya mengkritisi zaman. Keadaan kota yang lebih pluralis dalam segala bidang, menyulitkannya dalam berpegangan sudut pandang. Kecenderungan orang luar (pendatang) memiliki nafsu struktur konsumstif yang premature, terburu-buru, lebih kepada -impossibility of representation- kemustahilan dalam menghadirkan sesuatu. Dalam hal ini yakni kebelummungkinan menghadirkan pola kontruktif cara berpikir yang matang.
Komunitas A mengungkapkan pandangannya cenderung kepada hasil A. Komunitas B kontras dengan tujuan pandangan komunitas B. Belum lagi mengenai pergumulan sosial, politik, budaya, yang sulit untuk dinisbikan. Benar salah menang kalah susah diprediksi. Pribadi memiliki hak memilih yang sesuai "seleranya" masing-masing, kalo memungkinkan ya memilih yang paling untung.
Sudah merasa puasnya Zulfa mengisi kekosongan sudut pandang teman-temannya, rasa-rasanya masih ada perihal yang harus "dikunjunginya". Ada kebaikan yang menurutnya harus disampaikan. Sekumpulan benang rumit yang perlu dirajut agar lebih Islami (menurut si -aku-), setelah mendengar adzan yang dikumandangkan Bapak Haidir Shubuh tadi tidak berubah semenjak pertamakalinya Zulfa merantau kuliah.
"Assalamualaikum Bapak Haidir..", sapa Zulfa
"Walaikumsalam le, ono opo nggih le?"
"Boleh nanti saya saja yang adzan?"
"Kok tumben le, ono kesambet opo le?
"Saya hanya ingin mempraktekkan ke-Islamian pribadi saja pak, boleh kan pak?"
"Yawis mboten nopo-nopo le, ya Alkhamdulillah".
Sebelum mendatanginya, Zulfa teringat betul akan gencarnya isu wacana peningkatan kualitas Adzan oleh cendekiawan birokrat maupun muslim melalui pelbagai media. Teringat hal itu maka Zulfa berinisiatif menghadang Pak Haidir yang hendak Adzan Dhuhur. Menurut pandangan hematnya, praktisnya, membiarkan Adzan dikumandangkan dengan logat/langgam/aksen kejawen secara visual maupun artikulasi nada merupakan kesalahan lama yang telah terwajarkan oleh dangkalnya zaman yang lebih condong ke neriman. Dan aksen Pak Haidir merupakan lidah kejawen.
Namun perlu ada yang dicermati oleh Zulfa, peristiwa berlangsungnya qalam quran maulid nabi tahun 2015 menggunakan langgam jawa dalam istana kepresidenan (melalui izin menteri agama Luqman Hakim Saifuddin). Sebagai perwujudan Apresiasi akulturasi budaya arab dengan jawa, islam dengan jawa, agama "tamu" dengan masyarakat "tuan rumah". Sudah barang tentu menjadi polemik dalam tubuh keislaman negeri yang saling berbeda pandangan, politik, kepentingan-kepentingan golongan dalam islam. Sungguh menjadi dinamika yang baik bagi perkembangan keislaman guna menghadapi pengulangan suasana demikian yang tentunya dalam bentuk yang berbeda.
Pernah dakwah kejawen semacam ini digunakan oleh Sunan Kalijaga sebagai "kulonuwun" terhadap masyarakat yang dijadikan obyek dari subyek keislamian. Hasilnya menjadi luar biasa terhadap perjalanan islam hingga saat ini. Apakah agama tak boleh sedinamis/selentur/seelastis demikian?
Apakah agama islam selalu melalui kampanye arabisasi, kalau iya, mengapa? Kalau tidak, sejauh manakah batasan peran kelokalan dalam ikut campur agar tidak kelewat batas?
Menurutnya, logat Pak Haidir yang telah dihafal oleh Zulfa semenjak kanak-kanak adalah "false" keislaman. Kekeliruan historis keislaman. Ini yang menjadi kegundahan jiwa muda Zulfa.
"Jangan Adzan Pak, Jangan!"
"Hebat kamu zull!!", pungkas Rahmat pada teman sejawatnya.
"Ah biasa saja mat, sudah jadi kewajibanku menyampaikan, walau satu dua ayat".
Zulfa merupakan satu-satunya remaja yang berkesempatan meneruskan studinya ke jenjang perkuliahan. Kedua orangtuanya juragan sembako di Kampung Wereng Kabupaten Blora. Harapannya, agar Zulfa menjadi orang yang "bener" di tengah kampung yang terisoler dari pergumulan zaman, sejarah, sosial, politik budaya, maupun keagamaan.
Perjalanan pengalaman bathin dan pikiran Zulfa selama di kota besar menjadikannya sebagai acuan dalam usahanya mengkritisi zaman. Keadaan kota yang lebih pluralis dalam segala bidang, menyulitkannya dalam berpegangan sudut pandang. Kecenderungan orang luar (pendatang) memiliki nafsu struktur konsumstif yang premature, terburu-buru, lebih kepada -impossibility of representation- kemustahilan dalam menghadirkan sesuatu. Dalam hal ini yakni kebelummungkinan menghadirkan pola kontruktif cara berpikir yang matang.
Komunitas A mengungkapkan pandangannya cenderung kepada hasil A. Komunitas B kontras dengan tujuan pandangan komunitas B. Belum lagi mengenai pergumulan sosial, politik, budaya, yang sulit untuk dinisbikan. Benar salah menang kalah susah diprediksi. Pribadi memiliki hak memilih yang sesuai "seleranya" masing-masing, kalo memungkinkan ya memilih yang paling untung.
Sudah merasa puasnya Zulfa mengisi kekosongan sudut pandang teman-temannya, rasa-rasanya masih ada perihal yang harus "dikunjunginya". Ada kebaikan yang menurutnya harus disampaikan. Sekumpulan benang rumit yang perlu dirajut agar lebih Islami (menurut si -aku-), setelah mendengar adzan yang dikumandangkan Bapak Haidir Shubuh tadi tidak berubah semenjak pertamakalinya Zulfa merantau kuliah.
"Assalamualaikum Bapak Haidir..", sapa Zulfa
"Walaikumsalam le, ono opo nggih le?"
"Boleh nanti saya saja yang adzan?"
"Kok tumben le, ono kesambet opo le?
"Saya hanya ingin mempraktekkan ke-Islamian pribadi saja pak, boleh kan pak?"
"Yawis mboten nopo-nopo le, ya Alkhamdulillah".
Sebelum mendatanginya, Zulfa teringat betul akan gencarnya isu wacana peningkatan kualitas Adzan oleh cendekiawan birokrat maupun muslim melalui pelbagai media. Teringat hal itu maka Zulfa berinisiatif menghadang Pak Haidir yang hendak Adzan Dhuhur. Menurut pandangan hematnya, praktisnya, membiarkan Adzan dikumandangkan dengan logat/langgam/aksen kejawen secara visual maupun artikulasi nada merupakan kesalahan lama yang telah terwajarkan oleh dangkalnya zaman yang lebih condong ke neriman. Dan aksen Pak Haidir merupakan lidah kejawen.
Namun perlu ada yang dicermati oleh Zulfa, peristiwa berlangsungnya qalam quran maulid nabi tahun 2015 menggunakan langgam jawa dalam istana kepresidenan (melalui izin menteri agama Luqman Hakim Saifuddin). Sebagai perwujudan Apresiasi akulturasi budaya arab dengan jawa, islam dengan jawa, agama "tamu" dengan masyarakat "tuan rumah". Sudah barang tentu menjadi polemik dalam tubuh keislaman negeri yang saling berbeda pandangan, politik, kepentingan-kepentingan golongan dalam islam. Sungguh menjadi dinamika yang baik bagi perkembangan keislaman guna menghadapi pengulangan suasana demikian yang tentunya dalam bentuk yang berbeda.
Pernah dakwah kejawen semacam ini digunakan oleh Sunan Kalijaga sebagai "kulonuwun" terhadap masyarakat yang dijadikan obyek dari subyek keislamian. Hasilnya menjadi luar biasa terhadap perjalanan islam hingga saat ini. Apakah agama tak boleh sedinamis/selentur/seelastis demikian?
Apakah agama islam selalu melalui kampanye arabisasi, kalau iya, mengapa? Kalau tidak, sejauh manakah batasan peran kelokalan dalam ikut campur agar tidak kelewat batas?
Menurutnya, logat Pak Haidir yang telah dihafal oleh Zulfa semenjak kanak-kanak adalah "false" keislaman. Kekeliruan historis keislaman. Ini yang menjadi kegundahan jiwa muda Zulfa.
"Jangan Adzan Pak, Jangan!"
Rabu, 27 Januari 2016
Mbook...Simbok...
Simbok Daryun menanak nasi sembari duduk disamping tungku meniupi api yang membara sekenanya. Mata simbok penuh tertuju pada tungku yang sedang berisi. Namun pikiran dan pendengarannya tak terlalu peduli lagi pada kualitas api yang menganga. Pusat perhatiannya ditumpahkan pada berita di televisi yang sedang menyiarkan berita dengan topik yang sama secara berulang-ulang dan berkelanjutan semingguan terakhir ini. Simbok begitu menikmati tayangan itu seperti seakan sedang berdialog tatap muka langsung dengan pembawa acara salah satu televisi swasta. Disamping tampan mengenakan pakaian setelan jas, pembawa acara memiliki aura lihai dalam memainkan emosi para pendengarnya, sehingga perasaan yang mendengarnya terbuaikan oleh emosi yang dibuat naik turun olehnya. Padahal simbok hanya bisa mendengar suaranya saja karena ruangan televisi dengan dapur terpisahkan dinding yang terbuat dari anyaman bambu. Sosok pembawa acara memang telah melekat cakap dalam benak Simbok Daryun. Setidaknya hanya melalui suara yang empuk didengar sudah mampu mewakili kehadiran sosok gagahnya pembawa acara. Sedari disetel semenjak siang td telah diputarlah suara televisi dengan tinggi menjelas.
“Duh kasian banget nih eneng geuliss pisan dibunuh temennya sendiri pakai racun, ngeri pisan atuh!”, keluh simbok.
Mirna, tiba-tiba putri bungsunya masuk ke dapur tanpa permisi dan sedikit mengeluh.
“Mbooook....Cepet atuh masak nasinya, sebentar lagi acara pengajian di masjid dimulai. Malu ah sama tetangga sudah pada nganterin makanannya ke masjid, suara televisinya kecilin atuh, gak enak sama tetangga kedengeran dari luar”.
“Tenang Mirna, tenang. Simbok sudah siapkan semua masakannya. Waah jangan dikecilin, berita televisi itu penting untuk nambah wawasan, biarkan saja, beritanya menarik”.
Acara pengajian rutin akhir pekan di kampung Simbok Daryun dimulai badha maghrib. Simbok yang telah ditinggal suaminya meninggal setahun yang lalu itu, sebelum memiliki televisi selalu menyempatkan ibadah shalat maghrib berjamaah di masjid. Namun seminggu yang lalu semenjak memiliki televisi, Simbok mulai sedikit berubah. Simbok mulai berani menafsirkan tentang segala sesuatu. Terutama tentang esensi shalat berjamaah di masjid menurut tafsirannya.
Akhirnya masakan Simbok Daryun telah siap dibawa ke masjid sebagai hidangan bersama warga sekampung selepas pengajian selesai. Simbok sedang duduk santai melepas lelah di hadapan televisi sembari tangannya aktif mengganti-ganti salurannya yang dianggap seru dan lucu dengan remotenya.
“Mboook, ayo berangkat ke masjid, sudah adzan”, Mirna mengingatkan sembari berjalan ke tempat wudhu di dapur.
“Duluan aja mirna, simbok masih letih, nanti simbok susul ya”.
“Yaudah deh mbok, jangan sampai kalah dengan televisi lho ya, ini makanannya Mirna langsung bawa sekalian ya mbok”.
“Hahahaha ya tidak mungkin kalah laah, sembarangan aja. Tapi ini kebetulan atau apa ya, acara sewaktu maghrib kok bagus-bagus semua. Jangan khawatir sebentar lagi simbok menyusul ke masjid, iya bawakan rantangnya sekalian ya nduk”.
Mirna dengan ringan kaki telah terbiasa berjalan ke masjid karena ajaran dari mendiang bapaknya. Kebiasaan shalat berjamaah dimasjid telah dipikulnya dengan ringan semenjak kanak-kanak. Suara iqomat telah mengumandang setelah beberapa langkah Mirna meninggalkan rumahnya, namun Mirna masih mendengar dengan jelas suara televisi yang terlampau keras beserta canda tawaan Simbok Daryun di tengah sunyinya sekitar yang sudah semestinya sepi dikala maghrib, sehingga memberatkan hatinya meninggalkan Simbok sendirian di rumah dengan penuh perasaan was-was. Namun dengan langkah yang tergopoh-gopoh sambil menenteng rantang makanan, akhirnya sampai juga Mirna di masjid.
Setelah shalat maghrib berjamaah dilakukanlah pengajian bersama bapak, ibu, dan remaja-remaja sekampung dengan kusyuk. Ditengah kekusyukan diam-diam Mirna mencari kehadiran Simbok Daryun diantara barisan duduk jamaah ibu-ibu. Namun Mirna belum sempat melihat batang hidung simboknya.
“Ah mungkin yang sedang duduk di belakang Ibu Yuni itu simbok, tapi kok keliyatan pucat begitu simbok, kelelahan mungkin”, pikir Mirna. Mirna sempat mendapat tatapan sebersit senyuman oleh simbok. Sehingga membuatnya yakin itu simbok.
Satu jam kemudian pengajian selesai dan dilanjutkan dengan ibadah shalat isya berjamaah. Namun Mirna dan Simbok Daryun masih berada pada tempat yang saling berjauhan terhalangi oleh jamaah ibu-ibu yang lainnya. Mirna menjalankan ibadah sahalat isya dengan khusyuk. Mirna tak lupa mendoakan kesehatan Simbok Daryun.
Setelah jamaah shalat isya selesai, Mirna berjalan menuju rumahnya berjalan beriringan dengan Ibu Yuni. Banyak hal yang mereka perbincangkan terutama mengenai keadaan kampungnya. Namun ada perasaan Ibu Yuni yang mengganjal dan perlu segera ditanyakan kepada Mirna pada saat itu juga.
“Eh Mirna, Simbok Daryun kemana kok sudah semingguan gak ikut shalat jamaah dan pengajian tadi?” Tanya Ibu Yuni dengan penuh penasaran.
“Asataga ibuu, tadi simbok duduk dibelakang ibu lho, kalau kemaren emang iya simbok jd jarang ke masjid”.
Dengan sesaat Ibu Yuni kelabakan kebingungan. Sedang berpikir akan apa yang barusan Mirna ucapkan. Kemudian kembali bertanya dan memastikan kebenaran ucapan Mirna barusan.
“Mirna, maaf, tadi dibelakang ibu tidak ada siapa-siapa”, ungkap Ibu Yuni.
Mirna menjadi gantian kelabakan dengan ucapan Ibu Yuni. Namun dengan sigap dengan segera dapat menangani situasi sementara.
“Ah ibuu bisa aja hehehe, tadi beneran Mirna lihat simbok dibelakang ibu, tapi simbok terlihat pucat kecapekan, sehingga memilih duduk dibelakang agar tidak dikhawatirkan oleh ibu-ibu sekalian”.
Ibu Yuni jadi kebingungan. Beberapa meter kemudian Mirna dan Ibu Yuni telah berada di depan rumah Simbok Daryun. Mereka mendengar suara televisi yang bersuara dengan keras. Sesaat mereka bersalaman berpisah karena berbeda arah rumah.
Mendengar suara televisi yang masih tetap sama kerasnya sewaktu Mirna meninggalkan rumah, dalam benak Mirna merasakan ada yang tidak beres. Ketika Mirna membuka pintu, sedang terlihat simbok duduk tenang melihat acara komedi segar dengan remot yang masih berada di genggamannya. Komedi televisi gantian terlihat puas membalas telak menertawakan simbok yg tak lagi nampak tertawa. Ketika Mirna mengucapkan salam, salam itu tak pernah terbalaskan untuk selamanya oleh Simbok Daryun.
Selasa, 29 September 2015
Gang Sunyi Nyaring Bunyinya
Cerita dari mertua istrinya, kampung ini dengan Gang sederhananya selalu ramai oleh hiruk pikuk kegiatan, bunyi-bunyian nyanyian ekonomi.
Seharian sudah Badrus mengamati Gang ini, semakin memuncak perasaan bingung Badrus pada kesorean hari, mengapa Gang di kampung ini terasa berbeda dari cerita mertuanya, tak ada gairah ekonomi, bahkan perkumpulan tukang sayurpun tak sudi membolehkan member-nya mengitari Gang kampung, klakson khasnya pun membisu! “Kemana perginya bapak, ibu, pemuda, atau calon pemimpin negara seharian ini? Mengapa sepi?”, desaknya pada Fatimeh, istrinya. Badrus merupakan kaum pendatang, dari kota. Baru sehari ini “diculik” oleh istrinya untuk mengikuti mertuanya di kampung barang sehari dua hari. Itupun dilakoninya demi menyenangkan mertuanya yang sedang merindu pada anaknya, Fatimeh.
Fatimeh mencoba menjawab sekenanya, “Mana ku tahu mas, sudah setahun ini aku meninggalkan kampung ini bersamamu, dulu tak sebegini sepi”. Semenjak pernikahannya dengan Badrus, Fatimeh dibawanya pergi “menjauh” dari kampung, guna mencari penghidupan yang lebih baik, mereka berdua bertekad agar dapur selalu mengepul wangi, tak melulu ketela rebus, kebiasaan konsumsi keluarga Fatimeh dahulu sebelum menikah.
“Bagaimana bisa maju ini kampung! Hah! Tak becus, apa mereka sudah merasa kaya, sehingga bermalas-malasan di dalam rumah! Ini ada yang tak beres”, ujar Badrus menggebu. “Sudahlah mas, sejak kapan mas ini mengurusi kepentingan oranglain seprotektif ini? Masih ada hal lain yang lebih penting mas, usaha sampingan meubel kita”, coba Fatimeh meredam pikiran negatif suaminya itu.
“Kamu ini bagaimana sih, tugasku di kota sana kan memang mengatur ini itu kehidupan oranglain dengan segala macam tetek bengek peraturan pemerintahan, sejatinya dimanapun ku berada sudahlah pasti harus mencoba ku atur! Demi mereka! Kalau untuk usaha meubel itu untuk masa depan anak kita kelak”. “Sudah mas sudah, tak baik bicara terlalu keras di kampung, nanti ada yang tersinggung, kalau tahu mas pekerjaannya begituan, nanti salah persepsi, maksud mas kan baik”, Fatimeh khawatir tetangga ada yang salah menangkap percakapannya dengan suami.
“Ah kamu ini, selalu begitu. Coba kamu lihat pemuda yang lewat depan rumah kita, mau kemana dia, mengapa membawa bekal sebegitu banyaknya? Coba cepat kamu tanyakan padanya”, rasa penasaran Badrus.
Fatimeh mengiyakan permintaan suaminya, “Dhek-dhek tunggu, kamu hendak kemana? Kok...kok...sepertinya akan bepergian jauh”.
“Nganu..disuruh bapak, merantau mbak!”, jawab Rudi sekenanya sambil akan berlalu, ia hanyalah lulusan sekolah menengah atas yang mentereng, anak seorang petani, orangtuanya tak sanggup lagi meneruskan Rudi ke jenjang perkuliahan, walaupun Rudi orang yang cerdas, namun ia menolak melanjutkan pendidikan karena menyadari kondisi keluarganya dan memilih membantu di sawah orangtuanya yang sudah tua. Keluarga Rudi setahun ini selalu gagal panen semenjak musim kemarau yang tak kunjung bersahabat dengan rakyat kecil. Orangtuanya mengharapkan Rudi bekerja di kota, agara mendapatkan rupiah yang lebih banyak, syukur-syukur mendapatkan dollar, yang katanya televisi akhir-akhir tahun 2015 ini melonjak seperti kurs mata uang yang sedang obesitas.
Badrus menyaut, “Loh loh sebentar, kenapa gak kuliah saja dulu dhek!? Bagaimana bisa bersaing diluar sana? Cobalah jual tanah keluargamu, ini demi kehidupan yang lebih baik, pendidikan! Kamu bisa ambil jurusan ekonomi, bisnis, hukum, atau apalah, untuk memakmurkan membela rakyat kampungmu”.
Rudi diajak merenung, mengingatkan kembali padanya teman-temannya yang lebih dulu telah kuliah di kota besar, setiap dua semester sekali ada saja tanah warganya yang dijual secara ikhlas tak ikhlas, untuk biaya perkuliahan anak-anaknya. Namun beberapa tahun kemudian setelah lulus, kebanyakan dari mereka teman-temannya melupakan tugas utamanya membalas budi, membangun ekonomi desa. Mereka tertidur dalam kesadarannya, sadar dalam enaknya terlelap tidur, hingga terus bermimpi. Hasil pekerjaannya hanya untuk memikirkan perut-perut keluarga dan individu. Tak pernah mau meninggalkan hal “mewah” pada kampungnya yang turut membesarkannya, lapangan pekerjaan. “Mas, Mbak, aku takut kualat!, bila tak bisa berbalas budi pada kampung halaman, coba tengok kampung kita ini, aku percaya sepinya ini sepi bencana struktural, turun temurun!”, akhir dari perenungan Rudi.
“Jangan terlalu mudah putus asa, kamu harus berusaha lebih keras dari mereka, kamu bisa lebih baik dhek”, sanggah Fatimeh mendinginkan perasaan Rudi.
“Mahasiswa yang berasal dari kampung semenjak dahulu sudah terkena kutukan mas, mbak. Terbelenggu, lepas kontrol, seenaknya udelnya sendiri”. Tanya Badrus yang kebingungan, “Maksut kamu?”. Rudi memahami Badrus yang memang berasal dari kota, Rudi mengerti akan keganjilan sosial ini, “Kebanyakan lulusan mahasiswa dicetak sebagai pemimpi ulung, mengandai-andai yang jelas tak bisa dicapainya, pekerjaan yang diharapkan juga aneh-aneh, yang jelas-jelas tak ada dampaknya secara langsung terhadap kampungnya yang miskin. Selalu ingin meninggalkan kampungnya sendiri, menjauh. Mereka juga tak tahu apa yang sedang diperjuangkannya. Setelah sukses, lagi-lagi rakyat kecil juga yang dicaplok-nya lahap!”.
Dengus Badrus dengan istrinya, “Kurang ajar! Lalu terus peruuut warga, khususnya warga gang ini mau dikemanakan??”
“Ya begini lah mas, Gang yang sunyi nyaring bunyinya, krucuk...krucuk...!”
Rudi sambil pamit berlalu menuju kota, bekerja sebagai office boy gedung DPR, yang katanya wakil rakyat di bumi.
.29/09/2015.
Senin, 28 September 2015
Ghibah dan Kopi Perkotaan
Sepulang dari pekerjaannya, Mumtaz, seorang pegawai semi permanen, tukang semen tembok menembok dari rumah ke rumah di area kompleks bangunan gedongan, berjalan pulang dengan Afif sahabatnya sembari menggandeng nasibnya masing-masing. Sinar matahari yang gagah sore itu mulai rapuh oleh tingginya bangunan disana-sini, menghilang dalam baliknya, menggelapkan sekitaran Jalan Cendrawasih yang panjang oleh keluh kesah Mumtaz.
“Bangsat!”
“Astgfirullahalazim, nyebut nyebut, ada apa mas?”
“Tak mengapa, hehe suka keceplosan kalau melihat seseorang yang bahagia dalam ke-semu-annya, terlalu lama tenggelam dalam takhayul”.
Afif selalu tak mengerti apa yang ada dalam pikiran sahabatnya, keceplosan yang rutin, dan selalu Afif lah yang didapuk menyampaikan istigfar pada Tuhan mewakili sahabatnya itu.
“Afif, coba kau tengok! Adhek-adhek putih itu, celana tanggung sepaha”
“Astagfirullah, jangan kau lihat mas, aku pun tak sudi, dosa, neraka!”
“Bukan itu Afif, lihatlah pakai hatimu, jangan terlalu mudah menyimpulkan, kan masih bisa kita negosiasikan kebenaran yang kita bahas ini, dosa kan tawar menawar pemikiran yang dianggap benar itu masih ada kebenaran lagi didalamnya, tidak mutlak.”
“Apa maksudmu mas Mumtaz? Aku selalu ketinggalan se-dua langkah darimu”.
“Aku teringat kampung kita fif, kopi fif, kopi!” Mumtaz terbayang kenikmatan pahitnya kopi buatan orangtuanya, orangtua umam, orangtua joko, orangtua tohari disuatu waktu silam. Untuk masalah kopi, Mumtaz tak pernah membeli, begini enaknya di kampung, cukup dengan bertamu sudahlah pasti kopi pahit dengan pisang goreng disajikan. Mumtaz memilik daftar tunggu bertamu senin-minggu, kepicikan yang telah mengurangi beban uang saku semasa sekolah.
“Ah sejauh itu pikiranmu mas? Aku saja mikir nanti malam akan makan apa saja berat, engga kuat mas”.
“Di zaman modern ini kita harus progresif, harus! Pasti nanti ada menu, entah menu mau makan apa atau makan siapa, selalu halal, itu yang diajarkan para pendahulu kita yang keseleo. Biarkan aku menjelaskan babakan kopi ini dahulu”. Mumtaz dan Afif dahulu di kampung bertempat tinggal saling berdekatan, 9 kilometer jaraknya, setidaknya itu bahasa dekatnya orang kampung, di kampung penghasil Q-tela terbesar seprovinsi. Mereka dipertemukan tidak sengaja di kota ini.
“Djancuk! Disini kesenangan itu bayar fif! Aku sudah berprasangka baik begitu semenjak kepindahan awal kita minggu lalu, dan benar. Tengoklah wahana bernyanyi, kebugaran, seruput kopi, sepertinya bersahabat namun sejatinya musuh dalam selimut. Mungkin sewaktu berangkat dari rumah mereka sumringah, namun setelah balik kembali sumeleh, selalu ada hati yang kosong dari manusia modern ini. Merasa ada yang kurang-kurang-kurang-dan-selalu-kurang, senantiasa”.
“Kamu kok ya mikirin hal sepele ini to mas Mumtaz! Ya biarin to, ini hidup mereka, sudah jaman kebebasan, toleransi! Berdamailah dengan dirimu sendiri mas”. Afif merajuk setelah berjalan bersama sejauh pertigaan terakhir panjangnya jalan sore itu telah dibikin pusing oleh Mumtaz.
“Hehehe hidup itu kan cuman mampir ngopi, ya sudah barang tentu ada lah ya ghibah-ghibahnya untuk menambah kenikmatan kopi itu sendiri, hukumnya makruh”. Ghibah di pulau jawa ini hak paten kepunyaan orang kampung, untuk saling menghangatkan khasanah kekeluargaan, selalu berakhir dengan jalan keluar yang baik bagi kemaslahatan masyarakat. Kebiasaan ini “direbut” oleh orang perkotaan, menjadi konsumsi massal, jual beli pemberitaan, yang tak jarang berakhir nista di kedua belah pihak.
“Nah itu dia! Kamu sudah teracuni Ghibah yang keliru mas Mumtaz! Sudahlah kurangi konsumsi pikiranmu terhadap hal beginian, pokoknya tidak usah berpikir jauh-jauh, cukuplah kita pikirkan nanti malam kita akan makan siapa”.
“Bangsat! Hahaha yaudah kita balik sekali lagi melewati jalan ini yuk sekarang, pasti adhek-adhek celana tanggung tadi belum beranjak pergi, teman sejati kopi dan ghibah perkotaan”.~
.28/09/2015.
Desaku Sunyi Kotaku Malang
Kepulangan Mas Fuad dan Bowo dari sebuah perantauan sehari semalam, sebuah kota yang menurutnya ramai akan pusat perhatian ekonomi, sekitaran istana kenegaraan ibukota. Kepentingannya mengantar kepala dukuh ke asrama haji telah usai. Ia jelas berbangga diri karena dalam semalam saja, akan banyak yang dapat dibawanya kembali ke masyarakat di desanya, bayangkan! Betapa bangga luar biasa orangtuanya. Dalam pikirannya saat ini ia menyebut dirinya berulang-ulang bak pahlawan sejati yang pantas disambut kedatangannya kelak, diarak keliling desa merupakan harga mati.
“Ooh ternyata menjadi kaya itu tidak dibutuhkan kepentingan dasar bathiniyah manusia yang paling mendalam, cukup memiliki mobil, rumah, perusahaan, istri cantik, jabatan mentereng saja sudah cukup, Wo!”. Ia berkesempatan mengamati kehidupan sekitaran istana negara selama perjalanan. Manusia disini terbiasa tak repot-repot menghabiskan waktunya untuk bertanya ini itu tentang kehidupan tetangganya, apakah si tetangga hari ini bisa makan atau tidak itu perkara lain, itu memang sudah tugas Tuhan yang harus langsung turun tangan, pikirnya.
“Hffttt gampang sekali, kenapa aku tidak terpikirkan hal mudah seperti ini, terimakasih kota, sudah mengajarkan cara cepat menjadi kaya!”, ketus Fuad sepanjang perjalanan menuju kembali ke desanya. Ia menyesalkan kenapa Bapak Dukuh tak sudi mengajarkan masyarakatnya hal yang sebegini mudahnya. Sungguh terkutuk. “Awas kau nanti! Aku akan jadi pelopor perubahan kehidupan di desa, melengserkanmu”.
“Apa sih yang terus kamu pikirkan mas Fuad?” Tanya Bowo dengan berperawakan tenangnya, setenang pikirannya menanggapi gemerlap lampu kota yang sedang ditinggalkannya, pikirannya sudah sangat bersyukur dapat melihat wanita-wanita cantik nan seksi disini, tak pelak senyumnya selalu mengembang sepanjang perjalanan menyetir mobil pick up.
“Ah kau ini Bowo, matamu terlalu mudah ditipu, kau tidak pernah belajar! Semua wanita disana itu palsu, mulai dari pakaian, bedak, maupun tutur perkatannya, Seharusnya kau melihat realitas kehidupan kota yang lebih mendalam lagi, huh!”, tutur Fuad sembari membayangkan Gadisnya yang ditinggal sebentar di desa yang anggun, yang tak pernah memulai pembicaraan terlebih dahulu dengan lawan jenis, seperti itulah wanita menurutnya.
“Mulai deh Mas Fuad ini, berfilsafat seenak jidatnya sendiri, kebanyakan berpikir! Hahaha sudah sana tidur, kau sudah terjaga sepuluh jam dari tidur mas, dua jam lagi sampai, akan ku bangunkan”, Nasehat ringan Bowo mengingatkan Fuad tuk beristirahat.
“Baiklah Wo, terimakasih”, tidurlah Fuad selama sisa perjalanan.
“Mak emaak Pak bapaaak!” Panggil Fuad dari luar pintu rumahnya, tergesa-gesanya ia berlari segera ingin memberi oleh-oleh dari kota kepada orangtuanya.
“Ada apa le?” Tanya dingin kedua orangtuanya pada Fuad.
“Kita akan kaya mak! Pak! Sebentar lagi! Harus ada revolusi pola kehidupan di desa”, Fuad tergopoh-gopoh dalam setiap kalimat yang dihaturkannya.
“Le, kamu baru semalam di kota, bijaklah dalam berpikir bertindak le, bapak sudah paham yang akan kamu sampaikan, main lah kamu ke kota selama dua atau tiga hari lagi lamanya, maka dengan tambahan waktu yang sesingkat itu, kamu akan lebih tinggi lagi pencapaiaanmu terhadap realitas kehidupan disana!!“
“Kok...kok...kok...bapak tahu?”, tanya Fuad dengan tergagap-gagap.
“Apa yang kamu lihat itu belum seberapa le, kurang greget”. Tandas bapak Fuad sembari beranjak ke sawah, mencangking pacul dipundaknya yang masih bugar termakan usia sembilan puluh tahun kehidupan.
“Sialan!”, kesal Fuad kepada dirinya sendiri.
.28/9/2015.
Minggu, 27 September 2015
Twitter Land
Dua jam yang rasanya memanjang, sengaja menunda
dengan lambat usaha Roby tuk meninggalkan kesedihannya dari depan layar kata.
Serial bacaan novel romantis yang didalaminya mengajaknya bepergian ke suatu
waktu silam, di kala Roby bertemu kebahagiaan sekaligus kesedihannya beberapa
hari yang lalu. Diselaminya mendalam sepenggal-sepenggalan kalimat perucapan antara
tokoh utama lelaki dengan tentunya wanita dengan penuh semangat imajiner.
Memposisikan dirinya sendiri –Roby- pada tingkat ke-aku-an tokoh utama yang
akurat, dimana pernah dijumpainya seorang wanita yang dalam kenyataan dengan
imajinasinya menyatu. Imut, tinggi, berambut terurai, dengan lesung pipi yang
menggoda.
Silam lalu, bertempat di sebuah Kedai
Kopi Malang, lokasi yang cukup tepat, iklim yang dingin bertemu hangatnya secangkir kopi dengan kue pie.
Duduk menghadap meja bartender, Roby memandangi jenuh satu persatu timeline
twitter dalam laptopnya, deras hujan menjadi temannya dari luar jendela.
Dibukanya jendela pemikirannya tentang cinta, teman, ataupun keluarga. Semua
ditumpahkan pada kicauannya dalam twitter, entah itu perasaannya sendiri maupun
skala sosial yang dirasakan sekitarnya. Satu..dua..tiga..hingga puluhan kicauan
yang telah dilemparkan pada konsumsi massa. Di luar itu, Roby sering membaca
buku milik para pemikir-pemikir filsafat, mencoba membagikannya sesuai pengalaman
pribadinya sendiri, namun nampak terancam gagal karena jauh dari kemiripan
kemampuan pola pikir yang dimilikinya dengan tokoh idolanya, setidaknya Roby
pernah merasakan beratnya terus mencoba.
“Retweet!”, Ucap Jack Dorsey sang
empunya twitter melalui notifikasi. Senyum Roby mengembang dikala ada respon
terhadap apa yang disampaikannya melalui deretan kalimat yang dibuatnya. Pikir
Roby hanya terbayang ingin membahas tentang cinta, hanya yang khusus cinta,
dengan orang yang mereseponnya, tidak lebih, apabila bisa lebih juga itu hanya kebetulan
ke sepersekian enol persen semata, fana!. ia sebenarnya sadar akan apa yang
dilakukannya, semua itu terjadi ketika kapasitas teman yang dimilikinya tidak
sanggup lagi menerima pola perasaannya, ia mencari tempat baru untuk berbahas
cinta, yang ia sadari belum tentu lebih baik dari apa yang sudah dimilikinya. Yakni
Roby mengerti akan apa yang ada didepan matanya: mempersilahkan kembali
terbukanya ruang kosong pada hatinya yang semakin meluas termakan usia, bermain
harapan yang tersia-sia.
Sosok yang dijumpainya bernamakan Rani.
Seorang pemerhati kicauan manusia yang cukup rajin berjalan-jalan dalam beranda,
pengamat ahli, apapun yang menarik hatinya ia pasti sukai tanpa alasan, karena
menyukai tanpa alasan bukanlah suatu tindak kriminal, pikirnya.
“Hai?”, sapa Roby senatural mungkin,
membayangkan Rani ada didepannya duduk
dalam ruang waktu dan tempat yang sama, sewajarnya manusia saling sapa, semudah
itu sembari berbalas saling mengecup bibir cangkir hangat masing-masing, yang
semakin kesini makin menghangat oleh suasana.
Semenit...satujam...tigajam...sehari...
hingga dua hari kemudian, menunggu.
Roby menyedihi apa yang telah dilakukannya.
Setelah beranjak dari kedai kopi, tampaknya hingga dua hari lamanya menghabiskan
seribu halaman tetralogi novel romantis yang menemaninya tetap tak akan terjawabkan
pesannya kepada si Rani, ah.
Maulana Arif Hidayat. Diberdayakan oleh Blogger.