Sabtu, 28 Februari 2015

Rumah Perbatasan Batas

Sejauh ini apabila didengar maupun dilaksanakan, berbalas budi sungguh perilaku yg mulia. Namun apabila "kamu" bertempat tinggal di dalamnya, selama apakah setiap inci sikapmu selalu berbau balas budi? Balas budi tentu ada baiknya terbatas dan dibatasi, walaupun lingkungan menuntutmu demikian. Tak jauh berbeda dengan para manusia yang mengaku menjadi pemangku negara. Mereka tinggal di rumah partai politik. Makan, tidur, dan bercinta di dalamnya. Tentunya sang tuan rumah akan menuntut "kamu" untuk berbuat sesuatu terhadapnya, yang dinamakan balas budi. Apa yang akan "kamu" perbuat? Ya, sudah tentu berbuat baik pada si empunya rumah. Sejauh apa? Ya, sejauh kadar batasan yang sudah "saya" tentukan. Bukan dari batasan yang "mereka" tentukan.
Budaya Jawa memang mengajarkan untuk berbalas budi, barang tentu juga beserta batasannya. Namun sepertinya rakyatlah yang belajar balas budi hanya setengah-setengah. Sepenggal kalimat yang penting luput tuk diamalkan: batasan. Sehingga tak ayal hingga sampai kapanpun kata "manut" di jawa akan mendominasi pikiran dan tindakan teman-teman"ku".

Related Articles

0 komentar:

Maulana Arif Hidayat. Diberdayakan oleh Blogger.

Followers