Minggu, 13 September 2015

Elakan Normatif Cucu Pada Simbah

"Hmmmm....ingin rasanya setiap pulang larut pagi ke rumah mengelus-elus dada terlebih dahulu biar agak tenangan", ungkap Basir pada cermin spion sepedah motor bututnya ketika hendak membersihkan tetes embun yang merembes di jok busanya. "Kok bisa ya aku ini dianggap masih melakukan kesalahan kalo pulang larut pagi?", Basir setia memandangi spion mencari letak kesalahannya pada retina mata yang polos sesejuk langit pagi yang mengharu biru. Ia baru saja selesai menonton pertandingan sepakbola antar club di nun jauh Italia sana melalui layar tancep panitia. Pikirannya masih saja kalut atas kekalahan club kebanggaan turunan ayahnya di kampung.

"Tin..tin..!" Suara klakson motor yang berhasil menggertak lamunan basir menatap kesialannya. "Huft mentang-mentang motor mahal kau seenaknya saja dibunyikan, padahal kita mencintai club bola yang sama woi!" Teriak Basir sedalam-dalamnya di benak.

Ketika berhasil keluar dari arena layar tancep, sembari melamun Basir mengendarai roda duanya dengan kecepatan sesuai dengan kemampuan lamunannya terhadap apa yang sebentar lagi akan menimpanya. Ya, amarah simbahnya, sangat pelan lamunan menggerus pikiran Basir dalam menerka, membayangkan apa yang akan terjadi sangatlah sulit dalam keadaan kurang tidur begini. Selama semingguan terakhir ini simbahnya dari kampung menginap di rumahnya di kawasan padat penduduk, pusat sentra industri kota. Wajah kusam kota nampaknya kekeh tak merubah prinsip kehidupan desa simbahnya yang mengental.

"Ah sudahlah, setahuku aku ndak salah-salah banget, mengurangi satu tanggungjawab dengan menggugurkan tanggungjawab yang lainnya dengan sepadan". Yang ada dipikiran Basir hanya kalut sunyi, dia memposisikan dirinya berada di kursi plastik rapuh dengan ditemani omelan simbahnya yang teliti. Sebenarnya dia ingin rasanya melakukan pembelaan sewajarnya, namun hatinya entah mengapa kok meng-rasis-kan usia, menghormati yang tua ala-ala jawa dengan yang muda manut-manut gitu saja.

"Leee tole! Kok yahmene lagi balii! Mau jadi apa kamu?", kekesalan simbah nampak begitu tepat mengenai sasaran jantung Basir bak eksekutor penembak jitu tersangka perdagangan narkoba internasional, door! Seakan tembakan mati dapat menyelesaikan masalah. Iya menyelesaikan, sejauh ini selalu hanya sementara.

Di perkotaan menjadi hal wajar apabila pulang larut pagi. Namun rupa kewajaran tersebut jelas tak sanggup menggoyahkan tabiat simbah yang terikat kaku dengan nilai-nilai desa yang normatif.

"Nganu mbahh nganu..." Basir hanya bisa diam seribu langkah menghadapi tembakan simbahnya yang bukan lagi amatiran, sungguh layak sudah simbahnya ini main peran sniper dalam gala aksi james bond. Basir ingin meminta maaf karena lalai secara tidak langsung mengajarkan kebiasaan buruk pada adheknya pulang larut pagi, namun bukan itu niatan Basir, niatan sesungguhnya justru ingin mengajarkan tanggungjawab yakni walaupun pulang larut pagi namun tidak larut begitu saja meninggalkan pekerjaan rumah, beres-beres dan lainnya, ini yang akan Basir ajarkan pada adheknya, tanggungjawab yang menurutnya ada baiknya. Walaupun ditanggapi beda oleh simbahnya.

Sembari tergopoh-gopoh menjawab, Basir tersentak dengan gerakannya sendiri yang kaget akan melengkingnya suara simbah. Gubrak! Patah sudah kaki kursi plastik ini akibat gerakannya! Namun entah mengapa kesadarannya menyentil, "Kok jatuhku tepat di bantal dan guling ya? Oh nampaknya ini kejadian kemarin yang baru saja diputar Tuhan dari daftar tunggu playlist mimpi, huh".

Related Articles

0 komentar:

Maulana Arif Hidayat. Diberdayakan oleh Blogger.

Followers