Ironi Wayah Rolasan (sometimes)
"Hai warteg??!", Celetuk masjid kepada teman karibnya sejak tahun 1999 itu sambil menundukkan kepala sembilan puluh derajat menghadap bumi. "Ada apa jid?", sapa lembut senyum sapa warteg sambil meneduhi umatnya yang sedang bersantap siang ayam goreng dan es teh dengan nikmatnya, terkadang mereka sembari mengobrol-obrolan santai yang menenangkan pikiran dan bathin. Perut kenyang, pikiran dan bathin senang. Warteg melihat mimik sedih masjid merasa tidak enak hati, nampak warteg sedang memikirkan kalimat demi kalimat yang tepat tuk bisa membalas keluh kesah sahabat karibnya tanpa harus menjadi sosok yang maha hebat. Pada akhirnya warteg memilih sementara cukup mendengarkan saja hingga ada waktu yang tepat untuk membalas obrolan dari hati ke hati.
"Aku akhir-akhir ini sering iri melihat kesejukan kamu dalam melayani urusan perut umat manusia, kenapa umat yang mampir padaku jarang sekali yang merasa kenyang?", keluh masjid dengan suara parau. Telah berbagai cara masjid "berteriak" memanggil-manggil manusia untuk sudi mampir menjenguknya. Engga banyak yang diminta masjid, walaupun masjid juga paham yang sebenarnya lebih membutuhkannya adalah manusia, bukan sebaliknya. Akan tetapi masjid sepenuhnya paham, untuk apa ia dibangun apabila cuman sekedar sebagai formalitas administrasi sebuah kampung saja agar disebut taat dan bisa terhindar jauh dari bencana. Masjid merasa ada yang kurang, tetap saja kurang tanpa ada yang menjenguknya. "Fiuuhhhh hufftt..!", nafas masjid mengendus lirih.
"Sudahlah jid, aku selalu mengerti apa yang kamu khawatirkan, mungkin juga ini yang mengakibatkan engkau tak pernahnya terlelap istirahat dengan tenang. Engkau sungguh punya perasaan yang baik hati, pintumu terbuka lebar teruntuk siapa dan kapan saja", suara warteg teduh merasuki hati masjid. Menguatkan keyakinan padanya. Walau sesekali masjid cemburu pada kondisi masyarakat yang jarang memperhatikannya. Masjid mengerti, pastilah manusia setelah mampir dari warteg selalu singgah padanya. Namun yang kurang dimengerti masjid, mengapa kok ya cuman mampir pipis. "Apakaaah jangan-jangan? astagfirullah...", hmmm....nampaknya masjid tidak mau berburuk sangka lebih jauh, mencoba menenangkan pikirannya dengan selalu berpikiran lurus dengan mewajarkan apa yang sering terjadi padanya.
"Urusan perut memang tidak sepenuhnya bisa disalahkan jid, kalau perut kenyang sudah barang tentu aku selalu mendoakan manusia agar saat beribadah menjadi lebih semangat dan bertenaga, sungguh lah jid, itu yang ada dalam doaku ketika manusia selesai bersantap siang disini". Mata warteg berkaca-kaca ketika menjelaskan pada masjid, berharap akan dimengerti olehnya. "Perut memang tidak sulit untuk dikenyangkan. prosesnya cukup masuk lewat mulut, tenggorokan, dan berhenti beberapa waktu di perut. Perihal kesenangan pikiran dan bathin itu perkara lain lagi, bukan lagi sepenuhnya menjadi urusanku karena manusia sangatlah pintar memainkannya dengan cara-cara yang sebenarnya ironi. Apa yang tidak dikerjakan seringkali digembor-gemborkan dengan lekukan mimik wajah yang membangga. Aku juga heran dengan tabiat yang seperti itu jid".
"Aku sepenuhnya mengerti teg, karena seringkali juga aku mendengar obrolan mereka yang kelihatan agak semu, aku sudah sering curiga, namun apalah dayaku. Perihal demikian bukan juga sepenuhnya urusanku, aku hanyalah media untuk menggapai kebenaran dan kebahagiaan mutlak dengan beragam rupa". Masjid lalu menguatkan kesadarannya, bahwa kenyang di dalam masjid itu memang sulit untuk dicapai. Makanya manusia-manusia dengan tampang pragmatisnya enggan berurusan dengannya. Apabila di warteg jelas juntrungannya, ketika sampai di perut akan kenyang wujudnya. "Fiuuuhh...aku telah berusaha teg", terdapat sinar bahagia dalam senyum masjid yang ditujukan pada warteg ketika melempar jauh pandangan mata pada hamparan tanah di bawah kaki beton-beton baja bertingkat.
"Tuh tuh tuh ada manusia yang menyaut adzanmu jid!! Dia meminta izin pada rekan muslimnya untuk beribadah di tempatmu! Ternyata doaku dikhabulkan jidd, alhamdulillah!". Satu orang melangkahkan kakinya ke dalam masjid meninggalkan puluhan orang yang sedang bermain dengan perutnya.
0 komentar:
Posting Komentar