Akad Gadget Anunya Akad Mulut
Si Bujang akhirnya memutuskan memilih duduk di tengah keramaian, Dia tidak sendirian. Bujang memesan bubur kacang hijau hangat dengan satu kopi panas di cangkir lainnya. Sejauh ini setidaknya ia sedang bersama perasaan dan pikirannya dengan mengikat seseorang duduk di sampingnya. Ikatan yang menurutnya ganjil, kok ya bisa dua insan terikat akad oleh telepati yang dianggap pada masanya dahulu tabu. Bujang berpikir jaman sekarang itu edan, seperangkat handphone engga boleh disebut klenik, ghaib, walau mampu mendatangkan petaka ataupun rejeki dari jarak yang tak kasat mata!!. Semasa kecilnya, padahal orang pada massanya yang berani berpikiran maju meninggalkan badaniyahnya dianggap gila, sembrono ngawur!.
Selama Bujang sedang memainkan perasaan dan pikirannya sewaktu dulu tahun dimana sebelum adanya handphone, ditepuknya seronok pundak Bujang oleh oranglain yang memintanya berbagi tempat duduk di pojokan warung kopi itu. "Huuhh!" dalam bathin, ia mengira itu temannya yang terbiasa jahil padanya. Bergeserlah Bujang ke sedikit samping dengan gerakan pantat yang memalu kikuk.
Satu jam sudah pojokan warung kopi itu disesaki hentakan nafas keluh kesah Bujang, nampak jelas ujung bibir gelas yang tak kunjung bersih oleh sapuan tegukan bibir selanjutnya. Bujang melampiaskan sebalnya dengan mengayunkan jarinya pada kaki meja dengan nada yang beraturan, tuk tuk tuk berirama.
Jauh hari sebelumnya Bujang telah mengikat kehadiran temannya dengan sebuah pesan singkat, sempat terasakan penantiannya berkesudahan dengan kekalahan menunggu. Pendek melayang lagi lamunannya mengudara jauh, mengingat masa kecilnya yang tak banyak ini itu dalam hal ber-akad, datang langsung begitu saja tanpa memikirkan keuntungan apa yang disuguhkan, asal penting srawung. Tukar karya dan karsa. Bujang maunya diginiin, bukan digituin.
Tegukan keduanya pada kopi disahdu-kan. Ada sedikit rasa lupa pada kekesalannya. Sekitar 15 menitan lagi tepat si Bujang telah memakukan dalam-dalam perasaannya pada kursi kayu ini selama dua jam. Sekilas pandang pada tegukan ketiga ada lambaian tangan dibalik jalanan ibukota yang memekakan penglihatan Bujang. "Hei Bujang!" Seru temannya, teduh.
0 komentar:
Posting Komentar