Senin, 28 September 2015

Ghibah dan Kopi Perkotaan


Sepulang dari pekerjaannya, Mumtaz, seorang pegawai semi permanen, tukang semen tembok menembok dari rumah ke rumah di area kompleks bangunan gedongan, berjalan pulang dengan Afif sahabatnya sembari menggandeng nasibnya masing-masing. Sinar matahari yang gagah sore itu mulai rapuh oleh tingginya bangunan disana-sini, menghilang dalam baliknya, menggelapkan sekitaran Jalan Cendrawasih yang panjang oleh keluh kesah Mumtaz.

“Bangsat!”

“Astgfirullahalazim, nyebut nyebut, ada apa mas?”

“Tak mengapa, hehe suka keceplosan kalau melihat seseorang yang bahagia dalam ke-semu-annya, terlalu lama tenggelam dalam takhayul”.

Afif selalu tak mengerti apa yang ada dalam pikiran sahabatnya, keceplosan yang rutin, dan selalu Afif lah yang didapuk menyampaikan istigfar pada Tuhan mewakili sahabatnya itu.

“Afif, coba kau tengok! Adhek-adhek putih itu, celana tanggung sepaha”

“Astagfirullah, jangan kau lihat mas, aku pun tak sudi, dosa, neraka!”

“Bukan itu Afif, lihatlah pakai hatimu, jangan terlalu mudah menyimpulkan, kan masih bisa kita negosiasikan kebenaran yang kita bahas ini, dosa kan tawar menawar pemikiran yang dianggap benar itu masih ada kebenaran lagi didalamnya, tidak mutlak.”

“Apa maksudmu mas Mumtaz? Aku selalu ketinggalan se-dua langkah darimu”.

“Aku teringat kampung kita fif, kopi fif, kopi!” Mumtaz terbayang kenikmatan pahitnya kopi buatan orangtuanya, orangtua umam, orangtua joko, orangtua tohari disuatu waktu silam. Untuk masalah kopi, Mumtaz tak pernah membeli, begini enaknya di kampung, cukup dengan bertamu sudahlah pasti kopi pahit dengan pisang goreng disajikan. Mumtaz memilik daftar tunggu bertamu senin-minggu, kepicikan yang telah mengurangi beban uang saku semasa sekolah.

“Ah sejauh itu pikiranmu mas? Aku saja mikir nanti malam akan makan apa saja berat, engga kuat mas”.

“Di zaman modern ini kita harus progresif, harus! Pasti nanti ada menu, entah menu mau makan apa atau makan siapa, selalu halal, itu yang diajarkan para pendahulu kita yang keseleo. Biarkan aku menjelaskan babakan kopi ini dahulu”. Mumtaz dan Afif dahulu di kampung bertempat tinggal saling berdekatan, 9 kilometer jaraknya, setidaknya itu bahasa dekatnya orang kampung, di kampung penghasil Q-tela terbesar seprovinsi. Mereka dipertemukan tidak sengaja di kota ini.

“Djancuk! Disini kesenangan itu bayar fif! Aku sudah berprasangka baik begitu semenjak kepindahan awal kita minggu lalu, dan benar. Tengoklah wahana bernyanyi, kebugaran, seruput kopi, sepertinya bersahabat namun sejatinya musuh dalam selimut. Mungkin sewaktu berangkat dari rumah mereka sumringah, namun setelah balik kembali sumeleh, selalu ada hati yang kosong dari manusia modern ini. Merasa ada yang kurang-kurang-kurang-dan-selalu-kurang, senantiasa”.

“Kamu kok ya mikirin hal sepele ini to mas Mumtaz! Ya biarin to, ini hidup mereka, sudah jaman kebebasan, toleransi! Berdamailah dengan dirimu sendiri mas”. Afif merajuk setelah berjalan bersama sejauh pertigaan terakhir panjangnya jalan sore itu telah dibikin pusing oleh Mumtaz.

“Hehehe hidup itu kan cuman mampir ngopi, ya sudah barang tentu ada lah ya ghibah-ghibahnya untuk menambah kenikmatan kopi itu sendiri, hukumnya makruh”. Ghibah di pulau jawa ini hak paten kepunyaan orang kampung, untuk saling menghangatkan khasanah kekeluargaan, selalu berakhir dengan jalan keluar yang baik bagi kemaslahatan masyarakat. Kebiasaan ini “direbut” oleh orang perkotaan, menjadi konsumsi massal, jual beli pemberitaan, yang tak jarang berakhir nista di kedua belah pihak.

“Nah itu dia! Kamu sudah teracuni Ghibah yang keliru mas Mumtaz! Sudahlah kurangi konsumsi pikiranmu terhadap hal beginian, pokoknya tidak usah berpikir jauh-jauh, cukuplah kita pikirkan nanti malam kita akan makan siapa”.

“Bangsat! Hahaha yaudah kita balik sekali lagi melewati jalan ini yuk sekarang, pasti adhek-adhek celana tanggung tadi belum beranjak pergi, teman sejati kopi dan ghibah perkotaan”.~


.28/09/2015.

Related Articles

0 komentar:

Maulana Arif Hidayat. Diberdayakan oleh Blogger.

Followers