Mbook...Simbok...
Simbok Daryun menanak nasi sembari duduk disamping tungku meniupi api yang membara sekenanya. Mata simbok penuh tertuju pada tungku yang sedang berisi. Namun pikiran dan pendengarannya tak terlalu peduli lagi pada kualitas api yang menganga. Pusat perhatiannya ditumpahkan pada berita di televisi yang sedang menyiarkan berita dengan topik yang sama secara berulang-ulang dan berkelanjutan semingguan terakhir ini. Simbok begitu menikmati tayangan itu seperti seakan sedang berdialog tatap muka langsung dengan pembawa acara salah satu televisi swasta. Disamping tampan mengenakan pakaian setelan jas, pembawa acara memiliki aura lihai dalam memainkan emosi para pendengarnya, sehingga perasaan yang mendengarnya terbuaikan oleh emosi yang dibuat naik turun olehnya. Padahal simbok hanya bisa mendengar suaranya saja karena ruangan televisi dengan dapur terpisahkan dinding yang terbuat dari anyaman bambu. Sosok pembawa acara memang telah melekat cakap dalam benak Simbok Daryun. Setidaknya hanya melalui suara yang empuk didengar sudah mampu mewakili kehadiran sosok gagahnya pembawa acara. Sedari disetel semenjak siang td telah diputarlah suara televisi dengan tinggi menjelas.
“Duh kasian banget nih eneng geuliss pisan dibunuh temennya sendiri pakai racun, ngeri pisan atuh!”, keluh simbok.
Mirna, tiba-tiba putri bungsunya masuk ke dapur tanpa permisi dan sedikit mengeluh.
“Mbooook....Cepet atuh masak nasinya, sebentar lagi acara pengajian di masjid dimulai. Malu ah sama tetangga sudah pada nganterin makanannya ke masjid, suara televisinya kecilin atuh, gak enak sama tetangga kedengeran dari luar”.
“Tenang Mirna, tenang. Simbok sudah siapkan semua masakannya. Waah jangan dikecilin, berita televisi itu penting untuk nambah wawasan, biarkan saja, beritanya menarik”.
Acara pengajian rutin akhir pekan di kampung Simbok Daryun dimulai badha maghrib. Simbok yang telah ditinggal suaminya meninggal setahun yang lalu itu, sebelum memiliki televisi selalu menyempatkan ibadah shalat maghrib berjamaah di masjid. Namun seminggu yang lalu semenjak memiliki televisi, Simbok mulai sedikit berubah. Simbok mulai berani menafsirkan tentang segala sesuatu. Terutama tentang esensi shalat berjamaah di masjid menurut tafsirannya.
Akhirnya masakan Simbok Daryun telah siap dibawa ke masjid sebagai hidangan bersama warga sekampung selepas pengajian selesai. Simbok sedang duduk santai melepas lelah di hadapan televisi sembari tangannya aktif mengganti-ganti salurannya yang dianggap seru dan lucu dengan remotenya.
“Mboook, ayo berangkat ke masjid, sudah adzan”, Mirna mengingatkan sembari berjalan ke tempat wudhu di dapur.
“Duluan aja mirna, simbok masih letih, nanti simbok susul ya”.
“Yaudah deh mbok, jangan sampai kalah dengan televisi lho ya, ini makanannya Mirna langsung bawa sekalian ya mbok”.
“Hahahaha ya tidak mungkin kalah laah, sembarangan aja. Tapi ini kebetulan atau apa ya, acara sewaktu maghrib kok bagus-bagus semua. Jangan khawatir sebentar lagi simbok menyusul ke masjid, iya bawakan rantangnya sekalian ya nduk”.
Mirna dengan ringan kaki telah terbiasa berjalan ke masjid karena ajaran dari mendiang bapaknya. Kebiasaan shalat berjamaah dimasjid telah dipikulnya dengan ringan semenjak kanak-kanak. Suara iqomat telah mengumandang setelah beberapa langkah Mirna meninggalkan rumahnya, namun Mirna masih mendengar dengan jelas suara televisi yang terlampau keras beserta canda tawaan Simbok Daryun di tengah sunyinya sekitar yang sudah semestinya sepi dikala maghrib, sehingga memberatkan hatinya meninggalkan Simbok sendirian di rumah dengan penuh perasaan was-was. Namun dengan langkah yang tergopoh-gopoh sambil menenteng rantang makanan, akhirnya sampai juga Mirna di masjid.
Setelah shalat maghrib berjamaah dilakukanlah pengajian bersama bapak, ibu, dan remaja-remaja sekampung dengan kusyuk. Ditengah kekusyukan diam-diam Mirna mencari kehadiran Simbok Daryun diantara barisan duduk jamaah ibu-ibu. Namun Mirna belum sempat melihat batang hidung simboknya.
“Ah mungkin yang sedang duduk di belakang Ibu Yuni itu simbok, tapi kok keliyatan pucat begitu simbok, kelelahan mungkin”, pikir Mirna. Mirna sempat mendapat tatapan sebersit senyuman oleh simbok. Sehingga membuatnya yakin itu simbok.
Satu jam kemudian pengajian selesai dan dilanjutkan dengan ibadah shalat isya berjamaah. Namun Mirna dan Simbok Daryun masih berada pada tempat yang saling berjauhan terhalangi oleh jamaah ibu-ibu yang lainnya. Mirna menjalankan ibadah sahalat isya dengan khusyuk. Mirna tak lupa mendoakan kesehatan Simbok Daryun.
Setelah jamaah shalat isya selesai, Mirna berjalan menuju rumahnya berjalan beriringan dengan Ibu Yuni. Banyak hal yang mereka perbincangkan terutama mengenai keadaan kampungnya. Namun ada perasaan Ibu Yuni yang mengganjal dan perlu segera ditanyakan kepada Mirna pada saat itu juga.
“Eh Mirna, Simbok Daryun kemana kok sudah semingguan gak ikut shalat jamaah dan pengajian tadi?” Tanya Ibu Yuni dengan penuh penasaran.
“Asataga ibuu, tadi simbok duduk dibelakang ibu lho, kalau kemaren emang iya simbok jd jarang ke masjid”.
Dengan sesaat Ibu Yuni kelabakan kebingungan. Sedang berpikir akan apa yang barusan Mirna ucapkan. Kemudian kembali bertanya dan memastikan kebenaran ucapan Mirna barusan.
“Mirna, maaf, tadi dibelakang ibu tidak ada siapa-siapa”, ungkap Ibu Yuni.
Mirna menjadi gantian kelabakan dengan ucapan Ibu Yuni. Namun dengan sigap dengan segera dapat menangani situasi sementara.
“Ah ibuu bisa aja hehehe, tadi beneran Mirna lihat simbok dibelakang ibu, tapi simbok terlihat pucat kecapekan, sehingga memilih duduk dibelakang agar tidak dikhawatirkan oleh ibu-ibu sekalian”.
Ibu Yuni jadi kebingungan. Beberapa meter kemudian Mirna dan Ibu Yuni telah berada di depan rumah Simbok Daryun. Mereka mendengar suara televisi yang bersuara dengan keras. Sesaat mereka bersalaman berpisah karena berbeda arah rumah.
Mendengar suara televisi yang masih tetap sama kerasnya sewaktu Mirna meninggalkan rumah, dalam benak Mirna merasakan ada yang tidak beres. Ketika Mirna membuka pintu, sedang terlihat simbok duduk tenang melihat acara komedi segar dengan remot yang masih berada di genggamannya. Komedi televisi gantian terlihat puas membalas telak menertawakan simbok yg tak lagi nampak tertawa. Ketika Mirna mengucapkan salam, salam itu tak pernah terbalaskan untuk selamanya oleh Simbok Daryun.
0 komentar:
Posting Komentar