Senin, 23 Februari 2015

Hidup Tak Pernah Menawarkan Harga Mati

Pernahkah kau bermimpi, atau mungkin bersahabat dengannya: harapan?. Tentunya bila semua mimpi bisa diwujudkan, tanah suci Umat Islam mungkin bisa dipindahkan ke negara ini, kota Jogjakarta memiliki presiden sendiri dengan 5 provinsinya (Bantul, Kulonprogo, Sleman, Gunungkidul, Yogyakarta), atau mungkin Charlie Caplin menjadi presiden seumur hidup di negaranya itu: Inggris.
Benarkah apa yang dimimpikan Soekarno untuk negeri ini berhenti di "merdeka"?, sudah menjadi konsumsi publik sejauh ini yang tertuang dalam mata pelajaran ips semenjak Sekolah Dasar berkata demikian. Sejarah yang dibentuk oleh Soekarno tentunya penuh aksi heroik seperti kisah pewayangan Rama mengejar mati-matian terhadap Dewi Shinta, bercinta diantara titik jenuh perjuangan, harapan, dan mimpi. Sepertinya mimpi Soekarno lebih jauh dari sekedar merdeka, yakni membentuk pribadi luhur masyarakat yang baik yang sedari dulu sedang dipikul oleh generasi-generasi selanjutnya hingga sekarang. Hasilnya bagaimana? Bukan sang guru besar Soekarno yang mampu menjawabnya, melainkan para penerusnya yang sanggup menjawabnya, rakyat. Rakyat, yang saya maksutkan disini tentunya termasuk presiden, anggota DPR, MPR, atau mungkin hanya tetangga rumah saya yang mampu menjawabnya: rakyat yang sering dipanggil kalangan bawah oleh kalangan atas. Hanya di negara ini lah yang mampu memetakan harga martabat pribadi melalui pergerakan ekonomi dan sosial, finansial manusia. Satu orang kalangan atas berbicara kepada teman-teman golongan bawah sudah barang tentu akan diperhatikan secara bijaksana. Namun ketika golongan kalangan bawah mencoba berdialog bahkan hingga berteriak keras di balik jeruji pagar istana akan jauh berbeda perhatiannya, tetap sama, sejauh ini hanya angin lalu yang miris.
Mirip percintaan Rama Shinta klasik jaman dahulu, kini tiap generasi muda maupun semi tua mencoba peraduan kisah klasik tersebut dibawa ke dalam kehidupannya pribadi. Mendekati gadis yang mereka cintai, mencoba berkenalan dengan fase kehidupan selanjutnya, rumah tangga.
Mereka boleh bermimpi memiliki kekasih berparas cantik, seiman, dan ideal. Para gadispun berhak memimpikan balik memiliki kekasih tampan, tinggi, mapan, hingga hal yang paling detail-tak berjambang. Disitu Tuhan akan mencoba masuk mengambil peran, melihat sejauh mana usaha mereka. Tuhan tak mengurus hal remeh temeh berjambang ataupun tidak, tentu usaha para lelakilah yang ditimbang-timbang untuk bahan kesimpulan akhir. Dicerita ini dan kebanyakan cerita lain nampaknya sama, gadis masih ditakdirkan untuk cukup menunggu. Tentang kehidupan, tak pernah ada tempat untuk harga mati. Semua bisa dikondisikan sesuai kemampuan usaha dan bercakap: tanggungjawab. Hidup seperti ini sangat asik untuk bertahan hidup, sebagai pemilik usaha, sudah pasti tak perlu mengambil keuntungan terlalu berlebihan. Bahagia itu masih sederhana.

Related Articles

0 komentar:

Maulana Arif Hidayat. Diberdayakan oleh Blogger.

Followers