Kamis, 31 Maret 2016

Aku Kembali Memantai

Aku pernah bosan terhadap pantai. Bosan secara wajar, karena tumbuh besarku berada dalam lingkungan yang didominasi sekumpulan pantai yang berjajaran, sangat mendukungku untuk mengistirahatkan badan mengunjungi pantai. Namun...kemaren entah mengapa berbeda. Aku kembali berani mengunjunginya, melawan kejenuhan yang pernah terjalin mesra. Pagi hari yang cerah melesatlah menuju bibir pantai. Mendekati aroma kebalikan dari kebisingan. Menciumi apa yang tidak bisa aku dapati dalam nuansa kota. Bertiduran di bawah rindangnya pohon cemara. Melihat jelas bayang-bayang sisa kegagahan pohon cemara yang menua. Melemparkan pandang ke depan untuk menikmati memandangi butiran pasir terhempaskan ombak. Hingga lama sekali berada disana, berwaktukan bayang-bayang diri yang mulanya berada di sisi barat tubuhku, memindah ke timur tubuhku. Lalu kuambil buku cerita yang menarik dari dalam tas, ku coba membacakannya dengan bersuara, walaupun tidak banyak aksara yang sempat terbaca, namun setidaknya aku tidak sedang menceritakannya kepada diri sendiri. Ku akhiri bacaku, bertanpakan kursi, jendela, meja makan, ku bersiap menyantap bekal makan siang kita. Tidak mahal dan sederhana. Biasa saja rasa makanannya, namun yang berbeda dalam cara memakannya, menceritakan sebuah perjalanan panjang yang telah menepi, lelah dan kembali berpulang pada satu. Inilah rumahku tanpa jendela. Sebuah hari yang pendek dalam waktu, panjang dalam kenangan. Aku mencintainya.

Selasa, 29 Maret 2016

Dari dan Untukku

"Aku tidak berlindung dibalik agama agar oranglain melihatku baik, aku melindungi agama dari anggapan oranglain melihat kekuranganku sebagai bagian dari pengandaian keburukan akan agamaku".

Senin, 28 Maret 2016

Aku Seperti Melihat Kampung Halaman

Semingguan terakhir ini saya mendapatkan teman baru. Dia berbeda, ataupun mungkin akupun dianggap berbeda pula oleh dia. Berbeda memang menarik. Banyak ketertarikan yang berada dalam diri setiap orang. Dalam bahasa sok kerennya dianggap ketertarikan pesona inklusi (inklusi dalam artian bahasa perasaan, yaitu semua manusia memang dilahirkan secara berbeda). Anak ini berasal dari Manokwari. Ya, dan sayapun berasal dari Kabupaten Sarmi Mararena Jayapura, dimana kota ini menjadi tempat pertama kalinya saya menghirupkan nafas di bumi. Berada tidak cukup lama disana yang hanya sekitar delapan tahun membuat ingatanku akan kampung halaman sedikit mengabur. Maka dari itu setiap melihat teman-teman yang berasal dari Irianjaya seperti ada "keymisteri", merasa sudah pernah dan akan selalu satu sepernasiban sepenanggungan. Semua yang terjadi disana memang berat dan selalu diberatkan, entah oleh keadaan, diri sendiri, oranglain, ataupun yang lebih besar lagi tepatnya pemerintahan. Dari kerutan wajah orangtua saya sudah menampakkan pesan sasmita kepada alam, seperti ingin mengutarakan sesuatu, menyampaikan pesan, bahwa hidup disana berat nak, keras nak. Tinggal dalam lingkungan sekolahan, sudah seperti rumah subsidi dari pihak pemerintah ataupun sekolahan, mungkin yang lebih terkesannya seperti belas kasihan buah dari pengabdian. Oh tidak, bukan belas kasihan, lebih tepatnya buah kerjakeras, yappp...terdengar lebih patriotis kan. Dulu sewaktu melahirkan anak pertamanya, bukan main sekali jarak rumah dengan rumah sakit. Dengan sepedah motor pinjaman, berangkatlah mereka dari rumah menuju rumah sakit, jauuuhh sekali, tak usah dibayangkan. Hmm begitulah gambaran sedikit kepedihan keseriusan hidup. Dalam bagian kesenangannya saya teringat akan permainan yang paling mewah yang pernah dimiliki, bermain dengan alam, bermain dengan anak-anak sesama perantauan ataupun masyarakat asli, sepakbola, atau apapun memanfaatkan kebermanfaatan alam. Oh iya ada satu permainan lagi dink. Sebuah yoyo yang mampu menyala dan berlampu. Itu sudah terpaling mewah kalau dirunut ukuran ekonomis. Sudah sangat menyenangkan, karena pada saat itu kata menyenangkan masih suci sekali, polos sekali, masih menggunakan ruh yang sangat sederhana sekali, belum dirumit-rumitkan seperti yang telah menjadi budaya orang modern. Saya rasanya ingin kembali merasakan kampung halaman, menaiki kapal selama satu minggu dilautan, bertiduran di kelas ekonomi, ayam sama manusia jadi satu. Ah! Hahahaha aku tak mungkin menceritakan temanku. Tentang kampung halaman lebih menarik.

Minggu, 27 Maret 2016

Dik, Maemku Nasi dik..

Aku dahulu pemakan segalanya. Dari makanan sederhana hingga bahkan pernah menetap di makanan hits. Makanan sederhana disini dimaksudkan hanya (sadar) akan mengkonsumsi makanan yang sesuai dengan kemampuan kantong. Sedangkan hits dalam kamus indonesia berartikan terkenal, makanan terkenal, walaupun dalam perkembangan pergumulannya dengan jaman menjadikannya makanan yang mampu (sepertinya) menjadikan konsumennya dianggap "ada" oleh orang lain. Persoalan makanan sendiri memang sangat berkembang pesat, dari yg awalnya di kampungku hanya mengenal tiwul, bahkan kini telah mengenal junkfood kebarat-baratan pula. Ada yang tergoda untuk mencoba, atau bahkan berpindah lifestyle makanan sekalian dari yg sebelumnya apa menjadi apa yg lain-lainnya. Dugaan awalku semua ini hanyalah propaganda dari nafsu. Bagaimanapun juga dahulu kakek nenekku hanya mengenal tiwul, yang hingga saat inipun belum mengenal junkfood. Apabila sudah mengenal junkfood, apakah kakek nenekku akan mencobanya sungguh menarik untuk dinanti, atau mungkin juga tidak akan mencoba karena sadar apabila tidak makan junkfoodpun tidak akan pula merubah dirinya menjadi seseorang yang baru. Oh iya sudah pasti juga ya kakek nenekku pernah kaget mengalami perpindahan transisi makanan dari tiwul menuju nasi. Akupun generasi yang mengenal nasi dengan baik, dan penganut paham kalau tidak nasi tidak kenyang garis keras. Sedangkan pada masaku pula nasi kini sedang menghadapi krisis ketidakpercayaandiri. Tapi sepertinya dia (nasi) mampu cuek-cuek saja, walaupun dunia import eksport beras sedang keras. Beruntung ya tiwul pada masanya hanya memiliki saingan nasi. Sial bener ya nasi, sekarang memiliki saingan yang beragam. Saingannya berupa ragam makanan yang seakan seolah-olah ketika dimakan menjadikan konsumennya sebagai seseorang yang berbeda, seperti sedang mengkonsumsi gagasan, strata sosial. Kemudian ruh dari makan untuk lapar perut menjadi bergeser makan untuk sebuah lapar mata, bathin, pemikiran, gengsi.

Selera Pria yang Dipolitisi Kahanan


Senin pake kemeja warna putih, selasa pake kemeja warna hitam, rabu pake kemeja warna putih, rabu pake kemeja warna hitam, kamis pake kemeja warna hitam, Jumat pake kemeja warna putih, Sabtu pake kemeja warna hitam, minggu pake kemeja hitam, senin sampai minggu depan samain lagi pake metode minggu sebelumnya. Minggu jauh kedepannya konsisten idem seperti minggu lusa sampai tiba masanya. Masalah muncul ketika musim menikah, musim ulangtahun, musim lahiran, musim sebelum nikahan sudah lahir duluan, musim pura-pura kaya, musim trend swag, musim wul-awul bertebaran, musim campaign baju putih pro pemerintah, dan musim musim yang lainnya tiba. Kebutuhan sekunder sekunder mengular-panjang. Sulitnya menyederhanakan kebutuhan. Demn svsah!

Sabtu, 26 Maret 2016

Rumah

Tempat mengadu pilu setelah lelah luar biasa menyederhanakan kesedihan walaupun...kenyataan di luar sana masih belum berlari mendekati  kebahagiaan. Tempat ketika disaat mengintip keluar jendela, terlihat di luar tirai sana hanya dipenuhi kisah kasih tanda tanya yang tak menentu, sedangkan tempat tinggal ini menyediakan sebaliknya. Sepenuhnya tentang kehangatan disaat yang lain hanya memberikan sekedarnya, bahkan mungkin mendinginkan. Tempat berteduh ketika terdengar di balik tirai kaca sedang turun hujan yang lebat. Tempat berpulang setelah pernah sepanjang waktu bepergian tanpa arah. Sebuah persemayaman rindu yang mewah dengan hal-hal sederhananya. Aku mulai menghuninya semenjak duapuluh maret duaribuenambelas.

Kamis, 24 Maret 2016

Pulpen Di Kantor Sering Hilang

Kamu siapa, karyawan bukan, buruh iya kali ya? Cie duduknya di meja frontdesk garis depan pelayanan ya. Ada pulpen ga di depannya tuh. Mungkin hari ini ada, besok udah engga ada lagi. Pulpen apa gebetan itu bro. Hilang melulu. Pulpen subsidi dari kantormu bagaimana bro. Di kantorku sih standard sekali. Buat nulis sering typo. Buat sok gagahan di depan mbak-mbak gemes juga engga pantas. Pulpen kok namanya pilot. Ah...Aku memilih bawa pulpen sendiri. Mungkin kamu juga pernah menjadi tipe seperti aku ini. Apa-apa membawa sendiri. Setia dengan kepunyaan sendiri. Tapi kalo temen punya yang lebih baik ya minjem, ngerasain sebentar aja, setelah itu langsung balikin lagi aja, karena udah pernah megang pulpen mahal berarti ya udah pernah numpang ngehits. Mungkin kamu juga pernah punya jiwa sodaqoh yang tinggi, bawa pulpen bejibun banyaknya ke kantor dengan harapan sebagai hibah, hibah. Namun kenyataannya ilang lagi ilang lagi kan. Kamu jadi sebel kan. Jadi geregetan kan. Lalu kemudian marah. Bertanya-tanya pada rumput yang bergoyang, kok bisa ilang lagi ya. Kamu berpikir keras. Mengalami kebuntuan, dan kemudian memutuskan marah-marah aja deh. Dan endingnya pahala ngehibahnya menghilang terkikis gemes yang tak berujung. Hiks hiks hiks. Aku suka memiliki teman seperti ini. Melihat tingkahnya sendiri usiaku menjadi memuda. Menjadi terhibur. Akhir kata aku sarankan bawalah pulpen sendiri kemudian sakuin terus kemanapun pergi selama di kantor. Karena pulpen pinjam sana sini itu bid'ah. Engga ada di jaman nabi.

Mengingat Merpus Klasik Yuks

Dari dahulu hingga kemaren sepertinya aku bukanlah diriku. Esok aku mungkin sudah tidak menjadi aku yang sekarang. Aku bisa menjadi siapa saja. Sejauh ini, inilah yang bisa aku pertahankan. Aku menyukai perpustakaan dengan segenap kesepiannya, aroma apeg ruangan oleh jejeran literatur lamanya, maupun pustakawannya yang -sedang- berperan galak. Kita hanya diperbolehkannya berteriak hanya selama dalam pikiran. Aku berpikir maka aku ada, sapa Descartes dari syurga sana. Hmmm kelembaban udaranya juga khas sekali dalam menyapa setiap hidung yang hidup. Membuat siapa saja rindu berada dalam ruangan itu ketika sedang jauh dari belajar. Kenangan khusus terhadap pustakawannya melintas kembali dalam benak ketika melalui kacamata tebal dan suaranya mengucapkan, "Ssssttt...jangan berisik!", sapa dia dari balik meja kerjanya, kemudian semuanya hanya membalas sikap mengiyakan dalam anggukan ritmis ke atas ke bawah mengangguk secara teratur. Buruknya konsep dalam mencoba pura-pura kritis, mengapa pula ya semenjak jaman dahulu, sekarang, hingga masa depan tetap masih akan ada moment kita bertegur sapa dalam senyum dengan peneliti musiman dalam perpustakaan. Maksudnya musiman khusus Indonesia. Selama sistem pendidikannya masih begini-begitu aja, berjayalah dalam lomba jalan di tempat. Datang ke perpustakaan hanya gugur kewajiban tugas, dan ending kisahnya gugur secara harfiah beneran. Musim kemarau. Itulah suasana baik-buruk yang sering ku rindukan saat ini, semasa kikuk berada di tengah pesatnya perkembangan sarana prasarana perpustakaan yang silau akan bling bling modern, dan belum siapnya makhluk Tuhan dalam menyetubuhinya, maka terjadilah hura-huraisme kunjungan wisata secara pribadi maupun pribadi's-lebih dari satu-pacaran-lembaga- yang kurang pada tempatnya. Menaikkan rating ruh perpustakaan sebagai lokasi refreshing yang padamulanya hanya menapaki fungsi pelengkap, menaik pesat ke dalam semi-struktur fungsi utama sebagai image kentalnya. Awam dalam hematku mengenalnya sebagai perpus-tainment semata. Hmmm bagaimana ya dengan keadaan yang di Yunani sana? Sebaik disinikah?

Selasa, 22 Maret 2016

Satu Mei Selamanya

Selamat hari buruh
Sekali lagi selamat hari buruh
Kemaren, sekarang, atau lusa
Setiap hari adalah harinya


Yogyakarta, 21 Maret 2016

Apa yang Kau Lihat?

Kaus kaki yang menggantung dalam cemara
Angpau yang disampaikan pada saku sesama
Ketupat yang dimasak dengan tangan kekasih
Apakah yang kau lihat sama dengan yang ku lihat?

Senin, 21 Maret 2016

Jangan adzan Bapak, jangan!

Remaja tanggung yang sedang menikmati liburan akhir semester di kampungnya selama dua minggu ke depan, baru saja semalam datang dari jauh disana tempatnya kuliah berasal. Rasa-rasanya senang sekali pagi ini dapat berkumpul dengan teman sepermainannya semasa kanak-kanak. Titik nadir kangen setelah tiga semester berpisah sejenak. Perkumpulan itu berbeda dengan perjumpaan dengan teman lama pada umumnya. Terjadilah suasana perkuliahan informal yang diharapkan Zulfa. Pembagian pengalaman intelektual secara vertikal. Dari atas ke bawah menukik tajam. Zulfa menjelaskan panjang lebar ini itu (ilmu keagamaan semester satu hingga tiga di universitas islam swasta Jakarta) kepada teman-temannya, seperti sedang menuangkan air ke dalam gelas kosong, bahkan yang akan meminumnya kebingungan akan mengapakankah, dihabiskan langsung, atau setengah dahulu sesuai kebutuhan dahaga, ataupun memang tidak butuh sama sekali air yg diberikan Zulfa.
"Hebat kamu zull!!", pungkas Rahmat pada teman sejawatnya.
"Ah biasa saja mat, sudah jadi kewajibanku menyampaikan, walau satu dua ayat".
Zulfa merupakan satu-satunya remaja yang berkesempatan meneruskan studinya ke jenjang perkuliahan. Kedua orangtuanya juragan sembako di Kampung Wereng Kabupaten Blora. Harapannya, agar Zulfa menjadi orang yang "bener" di tengah kampung yang terisoler dari pergumulan zaman, sejarah, sosial, politik  budaya, maupun keagamaan.
Perjalanan pengalaman bathin dan pikiran Zulfa  selama di kota besar menjadikannya sebagai acuan dalam usahanya mengkritisi zaman. Keadaan kota yang lebih pluralis dalam segala bidang, menyulitkannya dalam berpegangan sudut pandang. Kecenderungan orang luar (pendatang) memiliki nafsu struktur konsumstif yang premature, terburu-buru, lebih kepada -impossibility of representation- kemustahilan dalam menghadirkan sesuatu. Dalam hal ini yakni kebelummungkinan menghadirkan pola kontruktif cara berpikir yang matang.
Komunitas A mengungkapkan pandangannya cenderung kepada hasil A. Komunitas B kontras dengan tujuan pandangan komunitas B. Belum lagi mengenai pergumulan sosial, politik, budaya, yang sulit untuk dinisbikan. Benar salah menang kalah susah diprediksi. Pribadi memiliki hak memilih yang sesuai "seleranya" masing-masing, kalo memungkinkan ya memilih yang paling untung.
Sudah merasa puasnya Zulfa mengisi kekosongan sudut pandang teman-temannya, rasa-rasanya masih ada perihal yang harus "dikunjunginya". Ada kebaikan yang menurutnya harus disampaikan. Sekumpulan benang rumit yang perlu dirajut agar lebih Islami (menurut si -aku-), setelah mendengar adzan yang dikumandangkan Bapak Haidir Shubuh tadi tidak berubah semenjak pertamakalinya Zulfa merantau kuliah.
"Assalamualaikum Bapak Haidir..", sapa Zulfa
"Walaikumsalam le, ono opo nggih le?"
"Boleh nanti saya saja yang adzan?"
"Kok tumben le, ono kesambet opo le?
"Saya hanya ingin mempraktekkan  ke-Islamian pribadi saja pak, boleh kan pak?"
"Yawis mboten nopo-nopo le, ya Alkhamdulillah".
Sebelum mendatanginya, Zulfa teringat betul akan gencarnya isu wacana peningkatan kualitas Adzan oleh cendekiawan birokrat maupun muslim melalui pelbagai media. Teringat hal itu maka Zulfa berinisiatif menghadang Pak Haidir yang hendak Adzan Dhuhur. Menurut pandangan hematnya, praktisnya, membiarkan Adzan dikumandangkan dengan logat/langgam/aksen kejawen secara visual maupun artikulasi nada merupakan kesalahan lama yang telah terwajarkan oleh dangkalnya zaman yang lebih condong ke neriman. Dan aksen Pak Haidir merupakan lidah kejawen.
Namun perlu ada yang dicermati oleh Zulfa, peristiwa berlangsungnya qalam quran maulid nabi tahun 2015 menggunakan langgam jawa dalam istana kepresidenan (melalui izin menteri agama Luqman Hakim Saifuddin). Sebagai perwujudan Apresiasi akulturasi budaya arab dengan jawa, islam dengan jawa, agama "tamu" dengan masyarakat "tuan rumah".  Sudah barang tentu menjadi polemik dalam tubuh keislaman negeri yang saling berbeda pandangan, politik, kepentingan-kepentingan golongan dalam islam. Sungguh menjadi dinamika yang baik bagi perkembangan keislaman guna menghadapi pengulangan suasana demikian yang tentunya dalam bentuk yang berbeda.
Pernah dakwah kejawen semacam ini digunakan oleh Sunan Kalijaga sebagai "kulonuwun" terhadap masyarakat yang dijadikan obyek dari subyek keislamian. Hasilnya menjadi luar biasa terhadap perjalanan islam hingga saat ini. Apakah agama tak boleh sedinamis/selentur/seelastis demikian?
Apakah agama islam selalu melalui kampanye arabisasi, kalau iya, mengapa? Kalau tidak, sejauh manakah batasan peran kelokalan dalam ikut campur agar tidak kelewat batas?
Menurutnya, logat Pak Haidir yang telah dihafal oleh Zulfa semenjak kanak-kanak adalah "false" keislaman. Kekeliruan historis keislaman. Ini yang menjadi kegundahan jiwa muda Zulfa.
"Jangan Adzan Pak, Jangan!"
Maulana Arif Hidayat. Diberdayakan oleh Blogger.

Followers