Jangan adzan Bapak, jangan!
Remaja tanggung yang sedang menikmati liburan akhir semester di kampungnya selama dua minggu ke depan, baru saja semalam datang dari jauh disana tempatnya kuliah berasal. Rasa-rasanya senang sekali pagi ini dapat berkumpul dengan teman sepermainannya semasa kanak-kanak. Titik nadir kangen setelah tiga semester berpisah sejenak. Perkumpulan itu berbeda dengan perjumpaan dengan teman lama pada umumnya. Terjadilah suasana perkuliahan informal yang diharapkan Zulfa. Pembagian pengalaman intelektual secara vertikal. Dari atas ke bawah menukik tajam. Zulfa menjelaskan panjang lebar ini itu (ilmu keagamaan semester satu hingga tiga di universitas islam swasta Jakarta) kepada teman-temannya, seperti sedang menuangkan air ke dalam gelas kosong, bahkan yang akan meminumnya kebingungan akan mengapakankah, dihabiskan langsung, atau setengah dahulu sesuai kebutuhan dahaga, ataupun memang tidak butuh sama sekali air yg diberikan Zulfa.
"Hebat kamu zull!!", pungkas Rahmat pada teman sejawatnya.
"Ah biasa saja mat, sudah jadi kewajibanku menyampaikan, walau satu dua ayat".
Zulfa merupakan satu-satunya remaja yang berkesempatan meneruskan studinya ke jenjang perkuliahan. Kedua orangtuanya juragan sembako di Kampung Wereng Kabupaten Blora. Harapannya, agar Zulfa menjadi orang yang "bener" di tengah kampung yang terisoler dari pergumulan zaman, sejarah, sosial, politik budaya, maupun keagamaan.
Perjalanan pengalaman bathin dan pikiran Zulfa selama di kota besar menjadikannya sebagai acuan dalam usahanya mengkritisi zaman. Keadaan kota yang lebih pluralis dalam segala bidang, menyulitkannya dalam berpegangan sudut pandang. Kecenderungan orang luar (pendatang) memiliki nafsu struktur konsumstif yang premature, terburu-buru, lebih kepada -impossibility of representation- kemustahilan dalam menghadirkan sesuatu. Dalam hal ini yakni kebelummungkinan menghadirkan pola kontruktif cara berpikir yang matang.
Komunitas A mengungkapkan pandangannya cenderung kepada hasil A. Komunitas B kontras dengan tujuan pandangan komunitas B. Belum lagi mengenai pergumulan sosial, politik, budaya, yang sulit untuk dinisbikan. Benar salah menang kalah susah diprediksi. Pribadi memiliki hak memilih yang sesuai "seleranya" masing-masing, kalo memungkinkan ya memilih yang paling untung.
Sudah merasa puasnya Zulfa mengisi kekosongan sudut pandang teman-temannya, rasa-rasanya masih ada perihal yang harus "dikunjunginya". Ada kebaikan yang menurutnya harus disampaikan. Sekumpulan benang rumit yang perlu dirajut agar lebih Islami (menurut si -aku-), setelah mendengar adzan yang dikumandangkan Bapak Haidir Shubuh tadi tidak berubah semenjak pertamakalinya Zulfa merantau kuliah.
"Assalamualaikum Bapak Haidir..", sapa Zulfa
"Walaikumsalam le, ono opo nggih le?"
"Boleh nanti saya saja yang adzan?"
"Kok tumben le, ono kesambet opo le?
"Saya hanya ingin mempraktekkan ke-Islamian pribadi saja pak, boleh kan pak?"
"Yawis mboten nopo-nopo le, ya Alkhamdulillah".
Sebelum mendatanginya, Zulfa teringat betul akan gencarnya isu wacana peningkatan kualitas Adzan oleh cendekiawan birokrat maupun muslim melalui pelbagai media. Teringat hal itu maka Zulfa berinisiatif menghadang Pak Haidir yang hendak Adzan Dhuhur. Menurut pandangan hematnya, praktisnya, membiarkan Adzan dikumandangkan dengan logat/langgam/aksen kejawen secara visual maupun artikulasi nada merupakan kesalahan lama yang telah terwajarkan oleh dangkalnya zaman yang lebih condong ke neriman. Dan aksen Pak Haidir merupakan lidah kejawen.
Namun perlu ada yang dicermati oleh Zulfa, peristiwa berlangsungnya qalam quran maulid nabi tahun 2015 menggunakan langgam jawa dalam istana kepresidenan (melalui izin menteri agama Luqman Hakim Saifuddin). Sebagai perwujudan Apresiasi akulturasi budaya arab dengan jawa, islam dengan jawa, agama "tamu" dengan masyarakat "tuan rumah". Sudah barang tentu menjadi polemik dalam tubuh keislaman negeri yang saling berbeda pandangan, politik, kepentingan-kepentingan golongan dalam islam. Sungguh menjadi dinamika yang baik bagi perkembangan keislaman guna menghadapi pengulangan suasana demikian yang tentunya dalam bentuk yang berbeda.
Pernah dakwah kejawen semacam ini digunakan oleh Sunan Kalijaga sebagai "kulonuwun" terhadap masyarakat yang dijadikan obyek dari subyek keislamian. Hasilnya menjadi luar biasa terhadap perjalanan islam hingga saat ini. Apakah agama tak boleh sedinamis/selentur/seelastis demikian?
Apakah agama islam selalu melalui kampanye arabisasi, kalau iya, mengapa? Kalau tidak, sejauh manakah batasan peran kelokalan dalam ikut campur agar tidak kelewat batas?
Menurutnya, logat Pak Haidir yang telah dihafal oleh Zulfa semenjak kanak-kanak adalah "false" keislaman. Kekeliruan historis keislaman. Ini yang menjadi kegundahan jiwa muda Zulfa.
"Jangan Adzan Pak, Jangan!"