Selasa, 29 September 2015

Gang Sunyi Nyaring Bunyinya


Cerita dari mertua istrinya, kampung ini dengan Gang sederhananya selalu ramai oleh hiruk pikuk kegiatan, bunyi-bunyian nyanyian ekonomi.

Seharian sudah Badrus mengamati Gang ini, semakin memuncak perasaan bingung Badrus pada kesorean hari, mengapa Gang di kampung ini terasa berbeda dari cerita mertuanya, tak ada gairah ekonomi, bahkan perkumpulan tukang sayurpun tak sudi membolehkan member-nya mengitari Gang kampung, klakson khasnya pun membisu! “Kemana perginya bapak, ibu, pemuda, atau calon pemimpin negara seharian ini? Mengapa sepi?”, desaknya pada Fatimeh, istrinya. Badrus merupakan kaum pendatang, dari kota. Baru sehari ini “diculik” oleh istrinya untuk mengikuti mertuanya di kampung barang sehari dua hari. Itupun dilakoninya demi menyenangkan mertuanya yang sedang merindu pada anaknya, Fatimeh.

Fatimeh mencoba menjawab sekenanya, “Mana ku tahu mas, sudah setahun ini aku meninggalkan kampung ini bersamamu, dulu tak sebegini sepi”. Semenjak pernikahannya dengan Badrus, Fatimeh dibawanya pergi “menjauh” dari kampung, guna mencari penghidupan yang lebih baik, mereka berdua bertekad agar dapur selalu mengepul wangi, tak melulu ketela rebus, kebiasaan konsumsi keluarga Fatimeh dahulu sebelum menikah.

“Bagaimana bisa maju ini kampung! Hah! Tak becus, apa mereka sudah merasa kaya, sehingga bermalas-malasan di dalam rumah! Ini ada yang tak beres”, ujar Badrus menggebu. “Sudahlah mas, sejak kapan mas ini mengurusi kepentingan oranglain seprotektif ini? Masih ada hal lain yang lebih penting mas, usaha sampingan meubel kita”, coba Fatimeh meredam pikiran negatif suaminya itu.

“Kamu ini bagaimana sih, tugasku di kota sana kan memang mengatur ini itu kehidupan oranglain dengan segala macam tetek bengek peraturan pemerintahan, sejatinya dimanapun ku berada sudahlah pasti harus mencoba ku atur! Demi mereka! Kalau untuk usaha meubel itu untuk masa depan anak kita kelak”. “Sudah mas sudah, tak baik bicara terlalu keras di kampung, nanti ada yang tersinggung, kalau tahu mas pekerjaannya begituan, nanti salah persepsi, maksud mas kan baik”, Fatimeh khawatir tetangga ada yang salah menangkap percakapannya dengan suami.

“Ah kamu ini, selalu begitu. Coba kamu lihat pemuda yang lewat depan rumah kita, mau kemana dia, mengapa membawa bekal sebegitu banyaknya? Coba cepat kamu tanyakan padanya”, rasa penasaran Badrus.

Fatimeh mengiyakan permintaan suaminya, “Dhek-dhek tunggu, kamu hendak kemana? Kok...kok...sepertinya akan bepergian jauh”.

“Nganu..disuruh bapak, merantau mbak!”, jawab Rudi sekenanya sambil akan berlalu, ia hanyalah lulusan sekolah menengah atas yang mentereng, anak seorang petani, orangtuanya tak sanggup lagi meneruskan Rudi ke jenjang perkuliahan, walaupun Rudi orang yang cerdas, namun ia menolak melanjutkan pendidikan karena menyadari kondisi keluarganya dan memilih membantu di sawah orangtuanya yang sudah tua. Keluarga Rudi setahun ini selalu gagal panen semenjak musim kemarau yang tak kunjung bersahabat dengan rakyat kecil. Orangtuanya mengharapkan Rudi bekerja di kota, agara mendapatkan rupiah yang lebih banyak, syukur-syukur mendapatkan dollar, yang katanya televisi akhir-akhir tahun 2015 ini melonjak seperti kurs mata uang yang sedang obesitas.

Badrus menyaut, “Loh loh sebentar, kenapa gak kuliah saja dulu dhek!? Bagaimana bisa bersaing diluar sana? Cobalah jual tanah keluargamu, ini demi kehidupan yang lebih baik, pendidikan! Kamu bisa ambil jurusan ekonomi, bisnis, hukum, atau apalah, untuk memakmurkan membela rakyat kampungmu”.

Rudi diajak merenung, mengingatkan kembali padanya teman-temannya yang lebih dulu telah kuliah di kota besar, setiap dua semester sekali ada saja tanah warganya yang dijual secara ikhlas tak ikhlas, untuk biaya perkuliahan anak-anaknya. Namun beberapa tahun kemudian setelah lulus, kebanyakan dari mereka teman-temannya melupakan tugas utamanya membalas budi, membangun ekonomi desa. Mereka tertidur dalam kesadarannya, sadar dalam enaknya terlelap tidur, hingga terus bermimpi. Hasil pekerjaannya hanya untuk memikirkan perut-perut keluarga dan individu. Tak pernah mau meninggalkan hal “mewah” pada kampungnya yang turut membesarkannya, lapangan pekerjaan. “Mas, Mbak, aku takut kualat!, bila tak bisa berbalas budi pada kampung halaman, coba tengok kampung kita ini, aku percaya sepinya ini sepi bencana struktural, turun temurun!”, akhir dari perenungan Rudi.

“Jangan terlalu mudah putus asa, kamu harus berusaha lebih keras dari mereka, kamu bisa lebih baik dhek”, sanggah Fatimeh mendinginkan perasaan Rudi.

“Mahasiswa yang berasal dari kampung semenjak dahulu sudah terkena kutukan mas, mbak. Terbelenggu, lepas kontrol, seenaknya udelnya sendiri”. Tanya Badrus yang kebingungan, “Maksut kamu?”. Rudi memahami Badrus yang memang berasal dari kota, Rudi mengerti akan keganjilan sosial ini, “Kebanyakan lulusan mahasiswa dicetak sebagai pemimpi ulung, mengandai-andai yang jelas tak bisa dicapainya, pekerjaan yang diharapkan juga aneh-aneh, yang jelas-jelas tak ada dampaknya secara langsung terhadap kampungnya yang miskin. Selalu ingin meninggalkan kampungnya sendiri, menjauh. Mereka juga tak tahu apa yang sedang diperjuangkannya. Setelah sukses, lagi-lagi rakyat kecil juga yang dicaplok-nya lahap!”.

Dengus Badrus dengan istrinya, “Kurang ajar! Lalu terus peruuut warga, khususnya warga gang ini mau dikemanakan??”

“Ya begini lah mas, Gang yang sunyi nyaring bunyinya, krucuk...krucuk...!”

Rudi sambil pamit berlalu menuju kota, bekerja sebagai office boy gedung DPR, yang katanya wakil rakyat di bumi.


.29/09/2015.

Senin, 28 September 2015

Ghibah dan Kopi Perkotaan


Sepulang dari pekerjaannya, Mumtaz, seorang pegawai semi permanen, tukang semen tembok menembok dari rumah ke rumah di area kompleks bangunan gedongan, berjalan pulang dengan Afif sahabatnya sembari menggandeng nasibnya masing-masing. Sinar matahari yang gagah sore itu mulai rapuh oleh tingginya bangunan disana-sini, menghilang dalam baliknya, menggelapkan sekitaran Jalan Cendrawasih yang panjang oleh keluh kesah Mumtaz.

“Bangsat!”

“Astgfirullahalazim, nyebut nyebut, ada apa mas?”

“Tak mengapa, hehe suka keceplosan kalau melihat seseorang yang bahagia dalam ke-semu-annya, terlalu lama tenggelam dalam takhayul”.

Afif selalu tak mengerti apa yang ada dalam pikiran sahabatnya, keceplosan yang rutin, dan selalu Afif lah yang didapuk menyampaikan istigfar pada Tuhan mewakili sahabatnya itu.

“Afif, coba kau tengok! Adhek-adhek putih itu, celana tanggung sepaha”

“Astagfirullah, jangan kau lihat mas, aku pun tak sudi, dosa, neraka!”

“Bukan itu Afif, lihatlah pakai hatimu, jangan terlalu mudah menyimpulkan, kan masih bisa kita negosiasikan kebenaran yang kita bahas ini, dosa kan tawar menawar pemikiran yang dianggap benar itu masih ada kebenaran lagi didalamnya, tidak mutlak.”

“Apa maksudmu mas Mumtaz? Aku selalu ketinggalan se-dua langkah darimu”.

“Aku teringat kampung kita fif, kopi fif, kopi!” Mumtaz terbayang kenikmatan pahitnya kopi buatan orangtuanya, orangtua umam, orangtua joko, orangtua tohari disuatu waktu silam. Untuk masalah kopi, Mumtaz tak pernah membeli, begini enaknya di kampung, cukup dengan bertamu sudahlah pasti kopi pahit dengan pisang goreng disajikan. Mumtaz memilik daftar tunggu bertamu senin-minggu, kepicikan yang telah mengurangi beban uang saku semasa sekolah.

“Ah sejauh itu pikiranmu mas? Aku saja mikir nanti malam akan makan apa saja berat, engga kuat mas”.

“Di zaman modern ini kita harus progresif, harus! Pasti nanti ada menu, entah menu mau makan apa atau makan siapa, selalu halal, itu yang diajarkan para pendahulu kita yang keseleo. Biarkan aku menjelaskan babakan kopi ini dahulu”. Mumtaz dan Afif dahulu di kampung bertempat tinggal saling berdekatan, 9 kilometer jaraknya, setidaknya itu bahasa dekatnya orang kampung, di kampung penghasil Q-tela terbesar seprovinsi. Mereka dipertemukan tidak sengaja di kota ini.

“Djancuk! Disini kesenangan itu bayar fif! Aku sudah berprasangka baik begitu semenjak kepindahan awal kita minggu lalu, dan benar. Tengoklah wahana bernyanyi, kebugaran, seruput kopi, sepertinya bersahabat namun sejatinya musuh dalam selimut. Mungkin sewaktu berangkat dari rumah mereka sumringah, namun setelah balik kembali sumeleh, selalu ada hati yang kosong dari manusia modern ini. Merasa ada yang kurang-kurang-kurang-dan-selalu-kurang, senantiasa”.

“Kamu kok ya mikirin hal sepele ini to mas Mumtaz! Ya biarin to, ini hidup mereka, sudah jaman kebebasan, toleransi! Berdamailah dengan dirimu sendiri mas”. Afif merajuk setelah berjalan bersama sejauh pertigaan terakhir panjangnya jalan sore itu telah dibikin pusing oleh Mumtaz.

“Hehehe hidup itu kan cuman mampir ngopi, ya sudah barang tentu ada lah ya ghibah-ghibahnya untuk menambah kenikmatan kopi itu sendiri, hukumnya makruh”. Ghibah di pulau jawa ini hak paten kepunyaan orang kampung, untuk saling menghangatkan khasanah kekeluargaan, selalu berakhir dengan jalan keluar yang baik bagi kemaslahatan masyarakat. Kebiasaan ini “direbut” oleh orang perkotaan, menjadi konsumsi massal, jual beli pemberitaan, yang tak jarang berakhir nista di kedua belah pihak.

“Nah itu dia! Kamu sudah teracuni Ghibah yang keliru mas Mumtaz! Sudahlah kurangi konsumsi pikiranmu terhadap hal beginian, pokoknya tidak usah berpikir jauh-jauh, cukuplah kita pikirkan nanti malam kita akan makan siapa”.

“Bangsat! Hahaha yaudah kita balik sekali lagi melewati jalan ini yuk sekarang, pasti adhek-adhek celana tanggung tadi belum beranjak pergi, teman sejati kopi dan ghibah perkotaan”.~


.28/09/2015.

Desaku Sunyi Kotaku Malang


Kepulangan Mas Fuad dan Bowo dari sebuah perantauan sehari semalam, sebuah kota yang menurutnya ramai akan pusat perhatian ekonomi, sekitaran istana kenegaraan ibukota. Kepentingannya mengantar kepala dukuh ke asrama haji telah usai. Ia jelas berbangga diri karena dalam semalam saja, akan banyak yang dapat dibawanya kembali ke masyarakat di desanya, bayangkan! Betapa bangga luar biasa orangtuanya. Dalam pikirannya saat ini ia menyebut dirinya berulang-ulang bak pahlawan sejati yang pantas disambut kedatangannya kelak, diarak keliling desa merupakan harga mati.

“Ooh ternyata menjadi kaya itu tidak dibutuhkan kepentingan dasar bathiniyah manusia yang paling mendalam, cukup memiliki mobil, rumah, perusahaan, istri cantik, jabatan mentereng saja sudah cukup, Wo!”. Ia berkesempatan mengamati kehidupan sekitaran istana negara selama perjalanan. Manusia disini terbiasa tak repot-repot menghabiskan waktunya untuk bertanya ini itu tentang kehidupan tetangganya, apakah si tetangga hari ini bisa makan atau tidak itu perkara lain, itu memang sudah tugas Tuhan yang harus langsung turun tangan, pikirnya.

“Hffttt gampang sekali, kenapa aku tidak terpikirkan hal mudah seperti ini, terimakasih kota, sudah mengajarkan cara cepat menjadi kaya!”, ketus Fuad sepanjang perjalanan menuju kembali ke desanya. Ia menyesalkan kenapa Bapak Dukuh tak sudi mengajarkan masyarakatnya hal yang sebegini mudahnya. Sungguh terkutuk. “Awas kau nanti! Aku akan jadi pelopor perubahan kehidupan di desa, melengserkanmu”.

“Apa sih yang terus kamu pikirkan mas Fuad?” Tanya Bowo dengan berperawakan tenangnya, setenang pikirannya menanggapi gemerlap lampu kota yang sedang ditinggalkannya, pikirannya sudah sangat bersyukur dapat melihat wanita-wanita cantik nan seksi disini, tak pelak senyumnya selalu mengembang sepanjang perjalanan menyetir mobil pick up.

“Ah kau ini Bowo, matamu terlalu mudah ditipu, kau tidak pernah belajar! Semua wanita disana itu palsu, mulai dari pakaian, bedak, maupun tutur perkatannya, Seharusnya kau melihat realitas kehidupan kota yang lebih mendalam lagi, huh!”, tutur Fuad sembari membayangkan Gadisnya yang ditinggal sebentar di desa yang anggun, yang tak pernah memulai pembicaraan terlebih dahulu dengan lawan jenis, seperti itulah wanita menurutnya.

“Mulai deh Mas Fuad ini, berfilsafat seenak jidatnya sendiri, kebanyakan berpikir! Hahaha sudah sana tidur, kau sudah terjaga sepuluh jam dari tidur mas, dua jam lagi sampai, akan ku bangunkan”, Nasehat ringan Bowo mengingatkan Fuad tuk beristirahat.

“Baiklah Wo, terimakasih”, tidurlah Fuad selama sisa perjalanan.

“Mak emaak Pak bapaaak!” Panggil Fuad dari luar pintu rumahnya, tergesa-gesanya ia berlari segera ingin memberi oleh-oleh dari kota kepada orangtuanya.

“Ada apa le?” Tanya dingin kedua orangtuanya pada Fuad.

“Kita akan kaya mak! Pak! Sebentar lagi! Harus ada revolusi pola kehidupan di desa”, Fuad tergopoh-gopoh dalam setiap kalimat yang dihaturkannya.

“Le, kamu baru semalam di kota, bijaklah dalam berpikir bertindak le, bapak sudah paham yang akan kamu sampaikan, main lah kamu ke kota selama dua atau tiga hari lagi lamanya, maka dengan tambahan waktu yang sesingkat itu, kamu akan lebih tinggi lagi pencapaiaanmu terhadap realitas kehidupan disana!!“

“Kok...kok...kok...bapak tahu?”, tanya Fuad dengan tergagap-gagap.

“Apa yang kamu lihat itu belum seberapa le, kurang greget”. Tandas bapak Fuad sembari beranjak ke sawah, mencangking pacul dipundaknya yang masih bugar termakan usia sembilan puluh tahun kehidupan.

“Sialan!”, kesal Fuad kepada dirinya sendiri.


.28/9/2015.

Minggu, 27 September 2015

Twitter Land

 
       Dua jam yang rasanya memanjang, sengaja menunda dengan lambat usaha Roby tuk meninggalkan kesedihannya dari depan layar kata. Serial bacaan novel romantis yang didalaminya mengajaknya bepergian ke suatu waktu silam, di kala Roby bertemu kebahagiaan sekaligus kesedihannya beberapa hari yang lalu. Diselaminya mendalam sepenggal-sepenggalan kalimat perucapan antara tokoh utama lelaki dengan tentunya wanita dengan penuh semangat imajiner. Memposisikan dirinya sendiri –Roby- pada tingkat ke-aku-an tokoh utama yang akurat, dimana pernah dijumpainya seorang wanita yang dalam kenyataan dengan imajinasinya menyatu. Imut, tinggi, berambut terurai, dengan lesung pipi yang menggoda.
       Silam lalu, bertempat di sebuah Kedai Kopi Malang, lokasi yang cukup tepat, iklim yang dingin bertemu  hangatnya secangkir kopi dengan kue pie. Duduk menghadap meja bartender, Roby memandangi jenuh satu persatu timeline twitter dalam laptopnya, deras hujan menjadi temannya dari luar jendela. Dibukanya jendela pemikirannya tentang cinta, teman, ataupun keluarga. Semua ditumpahkan pada kicauannya dalam twitter, entah itu perasaannya sendiri maupun skala sosial yang dirasakan sekitarnya. Satu..dua..tiga..hingga puluhan kicauan yang telah dilemparkan pada konsumsi massa. Di luar itu, Roby sering membaca buku milik para pemikir-pemikir filsafat, mencoba membagikannya sesuai pengalaman pribadinya sendiri, namun nampak terancam gagal karena jauh dari kemiripan kemampuan pola pikir yang dimilikinya dengan tokoh idolanya, setidaknya Roby pernah merasakan beratnya terus mencoba.
“Retweet!”, Ucap Jack Dorsey sang empunya twitter melalui notifikasi. Senyum Roby mengembang dikala ada respon terhadap apa yang disampaikannya melalui deretan kalimat yang dibuatnya. Pikir Roby hanya terbayang ingin membahas tentang cinta, hanya yang khusus cinta, dengan orang yang mereseponnya, tidak lebih, apabila bisa lebih juga itu hanya kebetulan ke sepersekian enol persen semata, fana!. ia sebenarnya sadar akan apa yang dilakukannya, semua itu terjadi ketika kapasitas teman yang dimilikinya tidak sanggup lagi menerima pola perasaannya, ia mencari tempat baru untuk berbahas cinta, yang ia sadari belum tentu lebih baik dari apa yang sudah dimilikinya. Yakni Roby mengerti akan apa yang ada didepan matanya: mempersilahkan kembali terbukanya ruang kosong pada hatinya yang semakin meluas termakan usia, bermain harapan yang tersia-sia.
Sosok yang dijumpainya bernamakan Rani. Seorang pemerhati kicauan manusia yang cukup rajin berjalan-jalan dalam beranda, pengamat ahli, apapun yang menarik hatinya ia pasti sukai tanpa alasan, karena menyukai tanpa alasan bukanlah suatu tindak kriminal, pikirnya.
“Hai?”, sapa Roby senatural mungkin, membayangkan Rani ada didepannya  duduk dalam ruang waktu dan tempat yang sama, sewajarnya manusia saling sapa, semudah itu sembari berbalas saling mengecup bibir cangkir hangat masing-masing, yang semakin kesini makin menghangat oleh suasana.
Semenit...satujam...tigajam...sehari... hingga dua hari kemudian, menunggu.
Roby menyedihi apa yang telah dilakukannya. Setelah beranjak dari kedai kopi, tampaknya hingga dua hari lamanya menghabiskan seribu halaman tetralogi novel romantis yang menemaninya tetap tak akan terjawabkan pesannya kepada si Rani, ah.

Minggu, 13 September 2015

Elakan Normatif Cucu Pada Simbah

"Hmmmm....ingin rasanya setiap pulang larut pagi ke rumah mengelus-elus dada terlebih dahulu biar agak tenangan", ungkap Basir pada cermin spion sepedah motor bututnya ketika hendak membersihkan tetes embun yang merembes di jok busanya. "Kok bisa ya aku ini dianggap masih melakukan kesalahan kalo pulang larut pagi?", Basir setia memandangi spion mencari letak kesalahannya pada retina mata yang polos sesejuk langit pagi yang mengharu biru. Ia baru saja selesai menonton pertandingan sepakbola antar club di nun jauh Italia sana melalui layar tancep panitia. Pikirannya masih saja kalut atas kekalahan club kebanggaan turunan ayahnya di kampung.

"Tin..tin..!" Suara klakson motor yang berhasil menggertak lamunan basir menatap kesialannya. "Huft mentang-mentang motor mahal kau seenaknya saja dibunyikan, padahal kita mencintai club bola yang sama woi!" Teriak Basir sedalam-dalamnya di benak.

Ketika berhasil keluar dari arena layar tancep, sembari melamun Basir mengendarai roda duanya dengan kecepatan sesuai dengan kemampuan lamunannya terhadap apa yang sebentar lagi akan menimpanya. Ya, amarah simbahnya, sangat pelan lamunan menggerus pikiran Basir dalam menerka, membayangkan apa yang akan terjadi sangatlah sulit dalam keadaan kurang tidur begini. Selama semingguan terakhir ini simbahnya dari kampung menginap di rumahnya di kawasan padat penduduk, pusat sentra industri kota. Wajah kusam kota nampaknya kekeh tak merubah prinsip kehidupan desa simbahnya yang mengental.

"Ah sudahlah, setahuku aku ndak salah-salah banget, mengurangi satu tanggungjawab dengan menggugurkan tanggungjawab yang lainnya dengan sepadan". Yang ada dipikiran Basir hanya kalut sunyi, dia memposisikan dirinya berada di kursi plastik rapuh dengan ditemani omelan simbahnya yang teliti. Sebenarnya dia ingin rasanya melakukan pembelaan sewajarnya, namun hatinya entah mengapa kok meng-rasis-kan usia, menghormati yang tua ala-ala jawa dengan yang muda manut-manut gitu saja.

"Leee tole! Kok yahmene lagi balii! Mau jadi apa kamu?", kekesalan simbah nampak begitu tepat mengenai sasaran jantung Basir bak eksekutor penembak jitu tersangka perdagangan narkoba internasional, door! Seakan tembakan mati dapat menyelesaikan masalah. Iya menyelesaikan, sejauh ini selalu hanya sementara.

Di perkotaan menjadi hal wajar apabila pulang larut pagi. Namun rupa kewajaran tersebut jelas tak sanggup menggoyahkan tabiat simbah yang terikat kaku dengan nilai-nilai desa yang normatif.

"Nganu mbahh nganu..." Basir hanya bisa diam seribu langkah menghadapi tembakan simbahnya yang bukan lagi amatiran, sungguh layak sudah simbahnya ini main peran sniper dalam gala aksi james bond. Basir ingin meminta maaf karena lalai secara tidak langsung mengajarkan kebiasaan buruk pada adheknya pulang larut pagi, namun bukan itu niatan Basir, niatan sesungguhnya justru ingin mengajarkan tanggungjawab yakni walaupun pulang larut pagi namun tidak larut begitu saja meninggalkan pekerjaan rumah, beres-beres dan lainnya, ini yang akan Basir ajarkan pada adheknya, tanggungjawab yang menurutnya ada baiknya. Walaupun ditanggapi beda oleh simbahnya.

Sembari tergopoh-gopoh menjawab, Basir tersentak dengan gerakannya sendiri yang kaget akan melengkingnya suara simbah. Gubrak! Patah sudah kaki kursi plastik ini akibat gerakannya! Namun entah mengapa kesadarannya menyentil, "Kok jatuhku tepat di bantal dan guling ya? Oh nampaknya ini kejadian kemarin yang baru saja diputar Tuhan dari daftar tunggu playlist mimpi, huh".

Ironi Wayah Rolasan (sometimes)

"Hai warteg??!", Celetuk masjid kepada teman karibnya sejak tahun 1999 itu sambil menundukkan kepala sembilan puluh derajat menghadap bumi. "Ada apa jid?", sapa lembut senyum sapa warteg sambil meneduhi umatnya yang sedang bersantap siang ayam goreng dan es teh dengan nikmatnya, terkadang mereka sembari mengobrol-obrolan santai yang menenangkan pikiran dan bathin. Perut kenyang, pikiran dan bathin senang. Warteg melihat mimik sedih masjid merasa tidak enak hati, nampak warteg sedang memikirkan kalimat demi kalimat yang tepat tuk bisa membalas keluh kesah sahabat karibnya tanpa harus menjadi sosok yang maha hebat. Pada akhirnya warteg memilih sementara cukup mendengarkan saja hingga ada waktu yang tepat untuk membalas obrolan dari hati ke hati.

"Aku akhir-akhir ini sering iri melihat kesejukan kamu dalam melayani urusan perut umat manusia, kenapa umat yang mampir padaku jarang sekali yang merasa kenyang?", keluh masjid dengan suara parau. Telah berbagai cara masjid "berteriak" memanggil-manggil manusia untuk sudi mampir menjenguknya. Engga banyak yang diminta masjid, walaupun masjid juga paham yang sebenarnya lebih membutuhkannya adalah manusia, bukan sebaliknya. Akan tetapi masjid sepenuhnya paham, untuk apa ia dibangun apabila cuman sekedar sebagai formalitas administrasi sebuah kampung saja agar disebut taat dan bisa terhindar jauh dari bencana. Masjid merasa ada yang kurang, tetap saja kurang tanpa ada yang menjenguknya. "Fiuuhhhh hufftt..!", nafas masjid mengendus lirih.

"Sudahlah jid, aku selalu mengerti apa yang kamu khawatirkan, mungkin juga ini yang mengakibatkan engkau tak pernahnya terlelap istirahat dengan tenang. Engkau sungguh punya perasaan yang baik hati, pintumu terbuka lebar teruntuk siapa dan kapan saja", suara warteg teduh merasuki hati masjid. Menguatkan keyakinan padanya. Walau sesekali masjid cemburu pada kondisi masyarakat yang jarang memperhatikannya. Masjid mengerti, pastilah manusia setelah mampir dari warteg selalu singgah padanya. Namun yang kurang dimengerti masjid, mengapa kok ya cuman mampir pipis. "Apakaaah jangan-jangan? astagfirullah...", hmmm....nampaknya masjid tidak mau berburuk sangka lebih jauh, mencoba menenangkan pikirannya dengan selalu berpikiran lurus dengan mewajarkan apa yang sering terjadi padanya.

"Urusan perut memang tidak sepenuhnya bisa disalahkan jid, kalau perut kenyang sudah barang tentu aku selalu mendoakan manusia agar saat beribadah menjadi lebih semangat dan bertenaga, sungguh lah jid, itu yang ada dalam doaku ketika manusia selesai bersantap siang disini". Mata warteg berkaca-kaca ketika menjelaskan pada masjid, berharap akan dimengerti olehnya. "Perut memang tidak sulit untuk dikenyangkan. prosesnya cukup masuk lewat mulut, tenggorokan, dan berhenti beberapa waktu di perut. Perihal kesenangan pikiran dan bathin itu perkara lain lagi, bukan lagi sepenuhnya menjadi urusanku karena manusia sangatlah pintar memainkannya dengan cara-cara yang sebenarnya ironi. Apa yang tidak dikerjakan seringkali digembor-gemborkan dengan lekukan mimik wajah yang membangga. Aku juga heran dengan tabiat yang seperti itu jid".

"Aku sepenuhnya mengerti teg, karena seringkali juga aku mendengar obrolan mereka yang kelihatan agak semu, aku sudah sering curiga, namun apalah dayaku. Perihal demikian bukan juga sepenuhnya urusanku, aku hanyalah media untuk menggapai kebenaran dan kebahagiaan mutlak dengan beragam rupa". Masjid lalu menguatkan kesadarannya, bahwa kenyang di dalam masjid itu memang sulit untuk dicapai. Makanya manusia-manusia dengan tampang pragmatisnya enggan berurusan dengannya. Apabila di warteg jelas juntrungannya, ketika sampai di perut akan kenyang wujudnya. "Fiuuuhh...aku telah berusaha teg", terdapat sinar bahagia dalam senyum masjid yang ditujukan pada warteg ketika melempar jauh pandangan mata pada hamparan tanah di bawah kaki beton-beton baja bertingkat.

"Tuh tuh tuh ada manusia yang menyaut adzanmu jid!! Dia meminta izin pada rekan muslimnya untuk beribadah di tempatmu! Ternyata doaku dikhabulkan jidd, alhamdulillah!". Satu orang melangkahkan kakinya ke dalam masjid meninggalkan puluhan orang yang sedang bermain dengan perutnya.

Jumat, 11 September 2015

Akad Gadget Anunya Akad Mulut

Si Bujang akhirnya memutuskan memilih duduk di tengah keramaian, Dia tidak sendirian. Bujang memesan bubur kacang hijau hangat dengan satu kopi panas di cangkir lainnya. Sejauh ini setidaknya ia sedang bersama perasaan dan pikirannya dengan mengikat seseorang duduk di sampingnya. Ikatan yang menurutnya ganjil, kok ya bisa dua insan terikat akad oleh telepati yang dianggap pada masanya dahulu tabu. Bujang berpikir jaman sekarang itu edan, seperangkat handphone engga boleh disebut klenik, ghaib, walau mampu mendatangkan petaka ataupun rejeki dari jarak yang tak kasat mata!!. Semasa kecilnya, padahal orang pada massanya yang berani berpikiran maju meninggalkan badaniyahnya dianggap gila, sembrono ngawur!.

Selama Bujang sedang memainkan perasaan dan pikirannya sewaktu dulu tahun dimana sebelum adanya handphone, ditepuknya seronok pundak Bujang oleh oranglain yang memintanya berbagi tempat duduk di pojokan warung kopi itu. "Huuhh!" dalam bathin, ia mengira itu temannya yang terbiasa jahil padanya. Bergeserlah Bujang ke sedikit samping dengan gerakan pantat yang memalu kikuk.

Satu jam sudah pojokan warung kopi itu disesaki hentakan nafas keluh kesah Bujang, nampak jelas ujung bibir gelas yang tak kunjung bersih oleh sapuan tegukan bibir selanjutnya. Bujang melampiaskan sebalnya dengan mengayunkan jarinya pada kaki meja dengan nada yang beraturan, tuk tuk tuk berirama.

Jauh hari sebelumnya Bujang telah mengikat kehadiran temannya dengan sebuah pesan singkat, sempat terasakan penantiannya berkesudahan dengan kekalahan menunggu. Pendek melayang lagi lamunannya mengudara jauh, mengingat masa kecilnya yang tak banyak ini itu dalam hal ber-akad, datang langsung begitu saja tanpa memikirkan keuntungan apa yang disuguhkan, asal penting srawung. Tukar karya dan karsa. Bujang maunya diginiin, bukan digituin.

Tegukan keduanya pada kopi disahdu-kan. Ada sedikit rasa lupa pada kekesalannya. Sekitar 15 menitan lagi tepat si Bujang telah memakukan dalam-dalam perasaannya pada kursi kayu ini selama dua jam. Sekilas pandang pada tegukan ketiga ada lambaian tangan dibalik jalanan ibukota yang memekakan penglihatan Bujang. "Hei Bujang!" Seru temannya, teduh.
Maulana Arif Hidayat. Diberdayakan oleh Blogger.

Followers