Kamis, 03 April 2014

Senja, Rembulan, Dan Ribuan Cahaya

Rabu 2 April 2014. Senja di kota istimewa ini mulai menyambut para penghuninya, ke agungan oranye mewarna di langit yang indah, hingga sentuhan hangatnya langsung menerpa kulit kuning langsatku. Senja itu telah menghasutku untuk menjemput seseorang, dia yang selalu aku dambakan ada disampingku dalam sore kali ini hingga sore-sore selanjutnya. Tak pikir panjang kemudian berangkatlah kami berdua pergi menuju bukit bintang, tempat yang mampu melihat kota ini terasa amat kecil dalam sekejap mata memandang.

Sesampainya di Bukit Bintang sesegera mungkin mencari tempat duduk untuk makan malam bersama, dengan memesan dua ayam bakar dengan dua cangkir kopi takaran berbeda, takaran pria dan wanita. Dia menemaniku saat-saat dimana mata ingin jauh memandang ke depan dengan sesekali beradu mata saling pandang satu sama lain. Ah sore itu memang sempurna untuk dua orang ini yang sedang mencoba merasakan kehangatan kesempurnaan sebuah hubungan, dalam peluk senja-Nya. Walaupun waktu terus berjalan diiringi dengan senja berpamitan pergi, senja sore itu tak pernah hilang dalam hati kami berdua selamanya. Kini senja mempersilahkan rembulan untuk bergantian menemani kami berdua disana malam itu.

Makan malam tiba, seorang ibu mempersilahkan hidangan dalam meja kami sembari berucap “selamat menikmati”, dalam hati dan simpulan senyumnya. Obrolan kecil menjadi menu pembuka makan malam dalam rooftop rumah makan ini. Makan malam kini akhirnya berlangsung dengan nyaman, tenteram, dan tenang. Berjam-jam kemudian, tiba saatnya kami turun dari atap rumah makan itu, perasaan tenang meninggalkan tempat itu dengan senyuman. Berganti tempat dan suasana untuk memperbarui suasana malam itu, mampirlah kami berdua di pinggir jalan Bukit Bintang menikmati jagung bakar. Aroma pedas manis tercium ketika terbakarnya jagung dalam panggangan, disusul penguknya asap yang sesaat terasa seperti parfum mahal di malam itu, hmmm jagung bakar menjadi penutup yang tepat untuk makan malam ini.
*dua pasang mata memandang rembulan, bintang, dan ribuan cahaya lampu warna-warni kota dalam kebersamaan*

Terimakasih jangkrik yang sudah menemani dengan suaranya, terimakasih rembulan yang sedang malu-malu melihat kami, terimakasih bintang yang menghujam tajam memandang kami. Terimakasih atas malam itu yang sungguh terasa sempurna, bagi kami berdua.

Related Articles

0 komentar:

Maulana Arif Hidayat. Diberdayakan oleh Blogger.

Followers