Sekilas Senyuman Akhir Pekan
Akhirnya setelah berbulan-bulan hanya mampu melihat wajah Bapak, Ibu, Adhek via telepon seluler. Akhir pekan kemarin kesampaian berkunjung pulang ke tempat asal, Jawa Timur. Kesibukan di Kota Yogyakarta sengaja aku selesaikan sebelum dateline karena demi pulang, tuk mencium kening seorang Ibu yang telah membesarkanku selama ini dalam untaian raga, bathiniah, dan doa tulusnya. Sabtu pagi barang kemasanku sudah tertata rapi dalam bagasi. Baju, buku, dan berbagai keperluan lain yang selayaknya seperti orang pulang kampung ku masukkan. Setelah berpamitan dengan sang empunya hunian di Yogyakarta ini, segera ku kayuh waktuku pagi ini tak ku biarkan berjalan sia-sia.
3 jam kemudian...Mulai lah terlihat pemandangan alam yang luar biasa, dimana lagi aku mendapatkan ketenangan abadi seperti ini selain yang ku dapatkan di Yogyakarta bersamanya, kekasihku. Aku menemukan pendamping baru di kampung halamanku, lebih tepatnya kekasih lamaku yang sudah lama tak ku temui, alam desa ku yang aduhai menakjubkan mata.
Sesampai di pekarangan rumah, nampak rumah ini kosong di tinggal sementara oleh orangnya. Tak lama kemudian adhekku muncul dan memberiku sambutan yang terkesan ketus namun bagi kami sudah biasa karena keterikatan emosi yang kuat, "Ngopo we mulih mas?". Dalam bahasa Indonesia yakni, "kenapa kamu pulang kak?". Sekedar senyuman ketus yang mampu aku balas kepadanya, tanda kangen luar biasa.
Rasa lelah ku balaskan pada rebahan badan ini di kasur hangat yang tak dapat ku rasakan di kota rantau disana. Menunggu waktu berputar cepat sehingga sesegera mungkin ku bisa melihat wajah keluargaku, seutuhnya. Terlelap..
Siang ketika matahari terlihat gagah, tampak datanglah mereka dengan wajah kelelahan seperti seharian berpayungkan matahari. Bapak, Ibu, Adhek perempuan Si Fani. Ku ulurkan salam hangat sebagai pembuka obrolan siang itu, dengan balasan senyuman sempurna dari mereka. Oh hidup, moment seperti ini yang aku tunggu setelah sekian lama tak berjumpa.
3 hari 2 malam aku lewati bersama mereka, apa yang ku lihat di kota rantauan dengan kecemburuan melihat sebuah keluarga berkumpul, kini bisa aku rasakan langsung dengan keluargaku sendiri. Tumpah semua perasaan itu dalam moment ini, dalam kehangatan.
Aku sempatkan satu hari bermain penuh bersama adhekku, ku ajaklah mengunjungi pantai, sebuah karya cipta luar biasa Tuhan yang mampu mengajarkan arti bersyukur kita akan nikmatNya. Pantai dan pantai. Kita berdua menikmatinya moment yang jarang terjadi ini. 2 orang berkarakter beda dan keras saling menikmati suasana dengan baik. Mengalir bagaikan ombak yang jatuh ke tepian dan lalu kembali menjauh perlahan namun konsisten.
Akhirnya di hari terakhir, sudah saatnya aku berpamitan kepada keluarga untuk kembali pergi sejenak ke luar kota tuk melanjutkan mewujudkan cita-citaku yang sempat tertunda. Namun perjalananku pulang kurang berjalan dengan baik, ku terjatuh tersungkur dari motor di daerah hutan Jawa Tengah. Luka tersebut seakan tak ada apa-apanya daripada kebahagiaan akhir pekan yang menakjubkan ini, terimakasih senyuman-senyuman tulus kalian. My famm.
0 komentar:
Posting Komentar