Kamis, 28 April 2016

Menarinya Waktuku Waktumu

Habiskan gelisah muda
Menua tanpa tersedu pilu
Menampung sakit sederas mungkin
Menampik senang sedewasa mungkin


Sisi yang baik hanya dalam langit
Namun ini bumi yang terpuruk


Sedih dalam sedih
Senang dalam senang
Lupa melihat ke atas
Lupa melihat ke bawah


Mari menari disaatnya memang menari
Tiada henti disaatnya berhenti
Dengan caranya sendiri
Keajaiban langit akan mengunjungi bumi

Sabtu, 09 April 2016

Tanah, Air, Udara, dan Hati

Mengapa sekarang berbeda
Tanah, air, udara tak lagi bebas bertuan
Namun aku bahagia walau hanya sekedar hidup dengan...

Menginjak tanah penuh was was
Menenggak dahaga penuh sangka
Menghirup nafas penuh cemas

Oooo...

Kemudian
Kau datang dengan sendiri
Menawarkan apa yang tak bisa ku beli
Lalu ku coba barterkan dengan cinta
Penuh sepenuhnya bersahaja
Dan kaupun seperti membalasnya

Cintaa...

Namun aku sedih apabila ternyata kau
Memandangku sama seperti tanah, air, udara..
Bukan hati~

Jumat, 01 April 2016

Dapur atau Daur Ulang Mimpi ya?

Hmm aku sedang sibuk kerja aja akhir-akhir ini. Kesibukan lainnya yaitu menemani yang sedang tidak sibuk, alias pacar mengisi hari-harinya. Aku berpikir sepertinya seru juga ini punya kegiatan yang bisa bareng, alias tidak tentang cinta melulu yang membosankan. Berbekal dia memiliki kemampuan rajut, jahit, daur ulang sampah, dan suka tentang sastra. Maka ada sedikit yang ingin kita buat inih buat follow up skillnya. Ada sediki inspirasi dari karya sawokecikcraft dan rumah Omuniuum bandung, silahkan kalian cek juga yaa siapa tahu berminat usaha bersama pasangan. Entah kapan ini akan terwujud. Setidaknya tulisan ini mengawali, ijab qabul, mengikat, kalau gak jadi usaha kan nanti baca tulisan ini jadi malu sendiri, lagian siapa tahu Tuhan sedang berpihak pada kami, siapa tahu ada setan yang membujuk untuk mengkapitalisasikan softskills ini, siapa tahu yaaa buat kontinyuitas modal hidup kelak nanti. Kita mengawali semuanya. Lebih nyentrik mana ya namanya, dapur mimpi atau daur ulang mimpi kah? kamingsun!

Orkes Gerobak Gethuk

Gethuk? Jajanan yang biasanya ada di pasar tradisional. Dicari orang-orang ketika pagi hari, bekal teman meminum teh atau kopi. Kemaren ini-dulu juga pernah- melihat ada gerobak yang menjual gethuk. Tampaknya memang terlihat biasa. Namun yang membuatku tertarik mempertanyakannya yaitu ia memiliki "sirine" khas untuk memanggil pembelinya. Mengapa kok begitu ya, bukankah gethuk dicari orang, mengapa ini malah mencari orang. Apakah tanpa sirine orang tidak akan ngeh terhadap apa isi gerobak dagangannya, mungkin iya mungkin juga tidak, karena orang-orang juga akan ngeh nya gethuk itu di pasar. Masyarakat perlu waktu yang panjang untuk membiasakan diri melihat fenomena gerobak gethuk keliling menggunakan sirine yang memekakan telinga itu, karena lagunya lagu dangdut dengan pitch control volume yang menggelegar, dan juga tampak nyentrik. Mungkin pengelolanya ngerti bahwa orang indonesia memang bukan sebagai pendengar yang baik, terbiasa sebagai makhluk vokal yang selalu ingin didengar, manja. Apakah dengan suara yang kecil ketika gerobak mungil itu melewati perumahan yang mewah/istana akan terdengar? Kan ya tidak, kan rumah yang gedongan biasanya "kedap suara"-sengaja-, mereka hanya ingin di dengar, kok ribet ya, maksutnya perjuangan banget. Keliling melewati jalanan, entah itu pagi, siang, sore, atau bahkan malam, mereka masih setia dengan cincingan mata yang tidak suka dengan suara gerobaknya. Semangat :)
Maulana Arif Hidayat. Diberdayakan oleh Blogger.

Followers