Rantau
Malam ini bertemu lagi dengan seseorang yang bisa dibilang adhek, mengingat saya memiliki adhek yang seumuran dengan dia. Anak ini berasal dari Kota Purbalingga. Sejak lulus SD dia tidak bisa melanjutkan sekolahnya karena alasan keuangan keluarga. Entah sudah apa saja yang dilakukannya selama ini (seharusnya detik tulisan ini ditulis dia kelas 1 SMA). Dari curahan hatinya sepertinya apa yang dilakukannya selama ini melebihi kewajiban anak setingkatnya, yakni bekerja. Saat ini dia bekerja di "restoran" angkringan Yogyakarta. Sebagai pencuci piring. Jam buka malam ia tebas juga untuk biaya keluarganya di "rumah". Kiriman rutin. Entah sulit membayangkan apa yang dia sebut rumah itu, ia bercerita ingin memperbaiki rumah keluarganya kelak, rasanya tak perlu saya tanyakan lebih lanjut.
Pendidikan? Semoga dia sadar dan berhak kecewa kepada teman sesamanya yang bisa berkesempatan sekolah, namun sering menyia-nyiakannya. Dia lumayan suka membaca, ia bercerita sering membaca koran. Seumuran dia menyukai membaca koran karena keterbatasannya juga tak bisa mengakses buku-buku pendidikan, menyadarkanku beberapa tahun yang silam ketika apa yang dibacanya tak mampu ku lakukan. Sekarang dia berbicara tentang korupsi, mungkin dulu saya seusianya masih berbicara tentang "kartun". Menebus kekalahan tersebut, saya berbicara tentang pentingnya budaya menabung dan membaca sedari dini. Kau paham.