Sabtu, 07 Maret 2015

Rantau

Malam ini bertemu lagi dengan seseorang yang bisa dibilang adhek, mengingat saya memiliki adhek yang seumuran dengan dia. Anak ini berasal dari Kota Purbalingga. Sejak lulus SD dia tidak bisa melanjutkan sekolahnya karena alasan keuangan keluarga. Entah sudah apa saja yang dilakukannya selama ini (seharusnya detik tulisan ini ditulis dia kelas 1 SMA). Dari curahan hatinya sepertinya apa yang dilakukannya selama ini melebihi kewajiban anak setingkatnya, yakni bekerja. Saat ini dia bekerja di "restoran" angkringan Yogyakarta. Sebagai pencuci piring. Jam buka malam ia tebas juga untuk biaya keluarganya di "rumah". Kiriman rutin. Entah sulit membayangkan apa yang dia sebut rumah itu, ia bercerita ingin memperbaiki rumah keluarganya kelak, rasanya tak perlu saya tanyakan lebih lanjut.
Pendidikan? Semoga dia sadar dan berhak kecewa kepada teman sesamanya yang bisa berkesempatan sekolah, namun sering menyia-nyiakannya. Dia lumayan suka membaca, ia bercerita sering membaca koran. Seumuran dia menyukai membaca koran karena keterbatasannya juga tak bisa mengakses buku-buku pendidikan, menyadarkanku beberapa tahun yang silam ketika apa yang dibacanya tak mampu ku lakukan. Sekarang dia berbicara tentang korupsi, mungkin dulu saya seusianya masih berbicara tentang "kartun". Menebus kekalahan tersebut, saya berbicara tentang pentingnya budaya menabung dan membaca sedari dini. Kau paham.

Jumat, 06 Maret 2015

Hai (?)

Semut. "Dunia" mungkin pernah kejam padamu. Iya makhluk yg lebih besar sudah barang tentu menjudge kalian segerombolan yang memiliki ke-miris-an akut! Kecil, selalu beriringan bersama dalam keadaan mungkin: takut. Dalam sudut pandang yang sempit itu, sifat kalian membuatku cemburu. Kebersamaan. Apa kabar teman-teman (?)

Selasa, 03 Maret 2015

Mencoba Pengusaha

Setidaknya saya tidak pernah dikenal oranglain sebagai manusia yang menetap dan nyaman pada satu tempat semata secara setia. Pernah mencoba menjadi musisi, mencoba pemain bola, mencoba pintar, mencoba berbagai macam hal yang mampu dilakukan adalah berkah! Ke-stag-nan hidup memang nista, jahanam. Mengaburkan semangat bangkit dari zona nyaman, sekiranya zona nyaman hanya pantas untuk balita, tidak lebih. Tak boleh berlarut merasa cepat bangga dengan pencapaian. Merasa cepat bangga bak dua sisi mata pisau, akan mengiris juga pada akhirnya. Jadilah dua mata pisau yang berguna, bukan untuk membunuh hal yang tak layak dibunuh: seperti semangat.
Mencoba hal dan dunia baru memberikan semacam suntikan energi dikala bangun dan tidur:"Hai hal baru apalagi saat ini? Hai besok juga apa?". Selalu penuh pembaharuan pemikiran dan tindakan. Di setiap bangun dan tidurku akhir-akhir ini berbicara manja dengan hal diatas. Mencoba menjadi pengusaha menjadi tematik satu bulan terakhir ini. Dengan kemampuan ke-fokus-an otodidak seperti ini, nampaknya selalu realistis untuk siap kembali kecewa. Bukankah hidup untuk kecewa dan mengobatinya? Show must go on. Comingsoon~

Semua ini bukan tentang cinta, karena saya sendiri tak tahu apa itu cinta dan nasib.
Maulana Arif Hidayat. Diberdayakan oleh Blogger.

Followers