Sabtu, 28 Februari 2015

Rumah Perbatasan Batas

Sejauh ini apabila didengar maupun dilaksanakan, berbalas budi sungguh perilaku yg mulia. Namun apabila "kamu" bertempat tinggal di dalamnya, selama apakah setiap inci sikapmu selalu berbau balas budi? Balas budi tentu ada baiknya terbatas dan dibatasi, walaupun lingkungan menuntutmu demikian. Tak jauh berbeda dengan para manusia yang mengaku menjadi pemangku negara. Mereka tinggal di rumah partai politik. Makan, tidur, dan bercinta di dalamnya. Tentunya sang tuan rumah akan menuntut "kamu" untuk berbuat sesuatu terhadapnya, yang dinamakan balas budi. Apa yang akan "kamu" perbuat? Ya, sudah tentu berbuat baik pada si empunya rumah. Sejauh apa? Ya, sejauh kadar batasan yang sudah "saya" tentukan. Bukan dari batasan yang "mereka" tentukan.
Budaya Jawa memang mengajarkan untuk berbalas budi, barang tentu juga beserta batasannya. Namun sepertinya rakyatlah yang belajar balas budi hanya setengah-setengah. Sepenggal kalimat yang penting luput tuk diamalkan: batasan. Sehingga tak ayal hingga sampai kapanpun kata "manut" di jawa akan mendominasi pikiran dan tindakan teman-teman"ku".

Senin, 23 Februari 2015

Hidup Tak Pernah Menawarkan Harga Mati

Pernahkah kau bermimpi, atau mungkin bersahabat dengannya: harapan?. Tentunya bila semua mimpi bisa diwujudkan, tanah suci Umat Islam mungkin bisa dipindahkan ke negara ini, kota Jogjakarta memiliki presiden sendiri dengan 5 provinsinya (Bantul, Kulonprogo, Sleman, Gunungkidul, Yogyakarta), atau mungkin Charlie Caplin menjadi presiden seumur hidup di negaranya itu: Inggris.
Benarkah apa yang dimimpikan Soekarno untuk negeri ini berhenti di "merdeka"?, sudah menjadi konsumsi publik sejauh ini yang tertuang dalam mata pelajaran ips semenjak Sekolah Dasar berkata demikian. Sejarah yang dibentuk oleh Soekarno tentunya penuh aksi heroik seperti kisah pewayangan Rama mengejar mati-matian terhadap Dewi Shinta, bercinta diantara titik jenuh perjuangan, harapan, dan mimpi. Sepertinya mimpi Soekarno lebih jauh dari sekedar merdeka, yakni membentuk pribadi luhur masyarakat yang baik yang sedari dulu sedang dipikul oleh generasi-generasi selanjutnya hingga sekarang. Hasilnya bagaimana? Bukan sang guru besar Soekarno yang mampu menjawabnya, melainkan para penerusnya yang sanggup menjawabnya, rakyat. Rakyat, yang saya maksutkan disini tentunya termasuk presiden, anggota DPR, MPR, atau mungkin hanya tetangga rumah saya yang mampu menjawabnya: rakyat yang sering dipanggil kalangan bawah oleh kalangan atas. Hanya di negara ini lah yang mampu memetakan harga martabat pribadi melalui pergerakan ekonomi dan sosial, finansial manusia. Satu orang kalangan atas berbicara kepada teman-teman golongan bawah sudah barang tentu akan diperhatikan secara bijaksana. Namun ketika golongan kalangan bawah mencoba berdialog bahkan hingga berteriak keras di balik jeruji pagar istana akan jauh berbeda perhatiannya, tetap sama, sejauh ini hanya angin lalu yang miris.
Mirip percintaan Rama Shinta klasik jaman dahulu, kini tiap generasi muda maupun semi tua mencoba peraduan kisah klasik tersebut dibawa ke dalam kehidupannya pribadi. Mendekati gadis yang mereka cintai, mencoba berkenalan dengan fase kehidupan selanjutnya, rumah tangga.
Mereka boleh bermimpi memiliki kekasih berparas cantik, seiman, dan ideal. Para gadispun berhak memimpikan balik memiliki kekasih tampan, tinggi, mapan, hingga hal yang paling detail-tak berjambang. Disitu Tuhan akan mencoba masuk mengambil peran, melihat sejauh mana usaha mereka. Tuhan tak mengurus hal remeh temeh berjambang ataupun tidak, tentu usaha para lelakilah yang ditimbang-timbang untuk bahan kesimpulan akhir. Dicerita ini dan kebanyakan cerita lain nampaknya sama, gadis masih ditakdirkan untuk cukup menunggu. Tentang kehidupan, tak pernah ada tempat untuk harga mati. Semua bisa dikondisikan sesuai kemampuan usaha dan bercakap: tanggungjawab. Hidup seperti ini sangat asik untuk bertahan hidup, sebagai pemilik usaha, sudah pasti tak perlu mengambil keuntungan terlalu berlebihan. Bahagia itu masih sederhana.

Jumat, 13 Februari 2015

Batas-batas Getir

Aku tidak mengerti dengan pemahaman arti berjuang temanku ini. Dia yang mulai mencoba menyukai kembali seorang gadis pribumi, setelah sekian lama berjuang demikian hebat menenangkan bathinnya sendiri akibat guncangan kemarin. Saat ini dimulai olehnya dari sewajarnya putra adam yakni mengagumi paras gadis-Nya. Bagi temanku ini: sesungguhnya sulit menepis bayang gadis ini dari penglihatan fananya di akhir-akhir ini walaupun itu hanya sebatas pernah bertatap foto saja. Tak berani rasanya, mengusik kehidupan Gadis tersebut, yang sepertinya sudah memiliki hidup akan apa itu arti ketenangan. Tentunya ketakutan ini penuh tanda kutip, yang harus gadis ini pahami: Takut ini bukan gentar untuk mendekati hati kamu, bukan. Ketakutan ini amat dirasakannya sebegini demikian: semoga bukan dianggap pengganggu.
Pria ini berkaca, matilah saja perasaan ini apabila dianggap begitu, pengganggu.

Entah ya, batasan keberanian mendekatimu dengan ketakutan dianggap penggangu akan sampai pada batasNya yang mana. Batas kegetiran.

Dinner=Bukan Kata Kerja

Kata kerja sejatinya merupakan bentuk ungkapan tindakan seseorang maupun kelompok dalam struktur kalimat sesuai ejaan yang disempurnakan. Tapiiii bagi beberapa kaum yang bukan sebagai pelaku dan penikmat kata "Dinner" itu seharusnya sangat berharap gausah pernah ada deh di muka bumi, apalagi ada embel-embel romantis niatan pamer, ah!! seandainya bahasa inggris makan malam itu sesederhana "madang". Tiada lah yang makan malam aja sok-sok update. Kesinpulannya "Dinner=Bukan Kata Kerja" bagi umat manusia yang sedang memilih jalan hidup melajang dan kebetulan sedang jauh dari keluarga. Cheerrs!

Senin, 09 Februari 2015

Gala Tawa Burung

Hahahahahahahaha...

Burung akhirnya menertawakan puncak gelisah sahabatnya akhir-akhir ini, sahabat yang disetiap diniharinya hampir tidur dalam ketidakpastian. Kemarin hingga pagi ini Burung dibuatnya menghela tawa akan kisah sahabatnya ini. Sibuk. Sesegeranya bulu kotor dibersihkan, kaki kuku panjang dipotong, wajah kusam dibawanya usap air serajin-rajinnya: tampan. Sudah rapi.

Sahabat Burung ini lupa membeli jaket penghangat di musim langit senang menangis ini, namun sayang ia kan bukan manusia. Karena keterbatasan sahabat Si Burung: dingin beku angin air deras kilat petir menghempaskannya di dalam perjalanan panjangnya. Fuussshhhh!

Berantakan. Seketika. Terbesit senyum:

Pulanglah kembali Sahabat Si Burung ini ke peraduan dengan kepala tegap nan tersenyum. Bukan hal yang biasa lagi, ketika Sahabat Si Burung ini sudah mengalami hal demikian puluhan kali.

Ooohh baginya esok....
Pagi dan malam terus berputar bergantian dengan terasa cepat olehnya, pengalaman membentuk rahangnya untuk tetap tersenyum.




Jumat, 06 Februari 2015

Mewarnai Hitam

Sudah lama ku merindukan membaca pesan dari kasih. Gaya lama surat maupun baru pesan sms, hei tak apalah!. Ucapan selamat: pagi, siang, makan, tidur, dan sebagainya sudah lama ku nanti untuk kembali dituturkan dari hati ke pujaan hingga saling berbalas tengkar maupun manis yang akan tetap nikmat. Aku...si bulan yang mencoba terangi sisi gelapmu, begitupun gelapmu yg bergantian saut menyaut meladeni pancaranku. Biarkan sisi putihmu tetap seperti itu untuk selamanya sahaja.
Biarkan tingkah polahku menyumbang lekukan ke atas bibir itu, senyum. Terindah.

By: Seminggu sebelum pelita, Jawa Tengah.
Maulana Arif Hidayat. Diberdayakan oleh Blogger.

Followers