Emak Tetap Sederhana
Menjelang dihari kebesarannya pada tanggal 7 desember beliau tampak menikmatinya seperti hari biasa, berlalu begitu saja tanpa ritme yang mampu menaikkan harapan degub jantungnya. Gua selalu teringat akan hari besar tersebut. Banyak hal menggelitik dan pelajaran pada hari nanti pastinya. Kue tart yang gua bawa dari jogja seakan “kecil” dihadapannya. Gua ngebawa kue tart nya dengan posisi menyetir sepedah motor menggunakan satu tangan dengan tangan yang satunya memegangi kue tart yang tak akan pernah gua ijinkan rusak tanpa makna. Berkendara motor selama 4 jam ini gua merasa sudah sepertinya menjadi “like a heroes” di mata beliau. Perjuangan yang menurutku besar.
Oke menginjak pergantian hari dari tanggal 6 menuju ke 7 desember hari kebesarannya pukul 23.50 gua menyiapkan surprise yang sekiranya sudah sangat sederhana ini. Kue tart dengan hiasan lilin berangka 47 mendudukinya dengan santun.
Tok..tok..tok.. Gua gedor pintu kamar beliau, membangunkannya secara perlahan dengan nyanyian abadi “selamat ulang tahun”, kemudian gua mendekatkan lilin pada kue tart padanya agar dihembuskan olehnya angin pemadam.
Ibu : “Ada apa ini? sudah dilanjutkan besok saja acaranya”.
Maul : “Ayolah sudi tuk tiup lilin ini ibuk”
Ibu : “Fiuuuhhh”
Maul : “Selamat ulang tahun ibuk, cepat potong kue nya bu”
Ibu : “Sudah besok saja, ini bukan kebiasaan ibuk”
Maul :“Yasudah, kebiasaan ibuk akan menjadi kebiasaanku juga, kesederhanaan dalam balutan doa, selamat malam ”
Renungan yang cukup :’)
Oke menginjak pergantian hari dari tanggal 6 menuju ke 7 desember hari kebesarannya pukul 23.50 gua menyiapkan surprise yang sekiranya sudah sangat sederhana ini. Kue tart dengan hiasan lilin berangka 47 mendudukinya dengan santun.
Tok..tok..tok.. Gua gedor pintu kamar beliau, membangunkannya secara perlahan dengan nyanyian abadi “selamat ulang tahun”, kemudian gua mendekatkan lilin pada kue tart padanya agar dihembuskan olehnya angin pemadam.
Ibu : “Ada apa ini? sudah dilanjutkan besok saja acaranya”.
Maul : “Ayolah sudi tuk tiup lilin ini ibuk”
Ibu : “Fiuuuhhh”
Maul : “Selamat ulang tahun ibuk, cepat potong kue nya bu”
Ibu : “Sudah besok saja, ini bukan kebiasaan ibuk”
Maul :“Yasudah, kebiasaan ibuk akan menjadi kebiasaanku juga, kesederhanaan dalam balutan doa, selamat malam ”
Renungan yang cukup :’)
0 komentar:
Posting Komentar