“Horni” akan Ragam Budaya Leluhur
Hello reader...! 29 November 2014 adalah termasuk hari ter’epic yang pernah gua alamin. Pernikahan suci dari teman merupakan bagian dari hari-hari terindah bagi gua sebagai seorang temannya. Bagian yang epic lagi adalah kebetulan gua sama temen berbeda keyakinan, yaa beda agama gitu. Dan gua untuk pertama kalinya berkesempatan masuk rumah ibadah agama lain dimana sebagai tempat berlangsungnya janji suci kedua mempelai, Gereja Katholik Santa Maria Pakem Yogyakarta. Ya jujur saja awalnya suasana sakral mulai masuk ke dalam hati dalam benak gua, kemudian perasaan deg-deg’an menguasai gerak tubuh ini. Namun perlahan tapi pasti gerak tubuh gua bisa juga menguasai keadaan suasana sekitar. Yap suasananya sangat berbeda dengan budaya pernikahan di agama gua sendiri, dan ini menambah pengalaman spiritual gua selama hidup di bumi ini. Epic lah! Yang bernama keragaman budaya leluhur. Oh indahnya.
Teman gua yang sangat pluralisme itu tidak hanya mengundang beragam keluarga dan kerabatnya semata. Turut diundang pula berbagai tokoh agama seperti contohnya Kyai, Biksu, Pendeta yang turut memberikan nasehat kepada kedua mempelai ini di dalam gereja. Sungguh sangat berada dalam suasana peacefull (damai) pada saat itu. Gua ngerasain aja pada saat itu suasananya sejuk, coba deh bayangin sendiri. Gua jadi “horni” banget men! Cinta akan keramahtamahan antar keragaman agama dan budaya.
Terus Gua jadi sedih kalau ingat di negeri ini pernah terjadi beberapa pertumpahan darah akibat ulah oknum tak bertanggungjawab yang mengatasnamakan kepentingan agama, tolong please jagalah kerukunan umat beragama. Ah sudahlah, toh gua lupa ini kan lagi nyeritain kebahagiaan umat Tuhan hehehe peace mamen!
Oh ya untuk Mas Seto dan Mbak Reta, Gua berdoa sesuai keyakinan agamaku Islam, Semoga pernikahan kalian dilimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, amen. Nah ini ada tampilan penampakan beberapa foto epic dari kamera couple gua selama pernikahan dan resepsi berlangsung. Thangkyou Dwike Rahmaningtyas.