Konsep Cerdas Berdagang Angkringan
Kali ini nih gue ada cerita singkat lagi men, materinya sehabis sharing pribadi dengan penjual angkringan di sekitar wilayah kampus UNY nih. Sepulang dari perkuliahan gue bersama teman pergi keliling cari tempat tongkrong asik sekitaran UNY. Akhirnya dapat juga sebuah angkringan pojokan pertigaan, kurang tau juga disitu nama daerahnya apa karena ya maklum gue nya cuman kuliah di kampus tetangga.
*setting sore hari*
Singkat cerita ketika asik makan dan minum di angkringannya beliau, berawal dari kebiasaan sok akrab juga gue langsung saja mengobrol dengan penjualnya dengan nyaman dan santai, secara tidak sengaja terceplos juga bapaknya mengarahkan pembahasan menceritakan konsep usaha angkringannya ini. Yasudah gue sikat aja, dalam artian ya gue lanjutin menggali informasi-informasi penting dari beliau berhubung kepengen juga bisa berwirausaha mandiri hehehe, sikatttt..
Beliau yang sebagai alumni petugas parkir di lembah UGM bertutur kata begini, biasanya membuka lapak dagang angkringannya hanya dalam kurun waktu setengah hari. Hasil penghasilan dari keringatnya setengah hari saja sudah sangat menguntungkan bagi keluarganya dan mampu menutupi kebutuhan keluarganya selama ini. Dengan mempersiapkan bahan dagangannya sendiri (memasak sendiri), beliau dapat menghemat biaya pengeluaran pembelian bahan dagang. Alhamdulillah setiap hari semua terjual habis, ya paling kadang-kadang sisa beberapa bungkus nasi saja. Itupun seringkali dan pasti sisanya Beliau bagikan secara cuman-cuman kepada tetangganya, terbiasa dengan shodaqoh memudahakan setiap usaha yang dirintisnya, begitu pesan beliau.
Sejenak Beliau memberi tebakan kepada kita berdua, apa modal pertama yang harus dipersiapkan ketika memulai membuka usaha? serentak kita menjawab dana???? Mental???? Lokasi yang strategis???? Ternyata semua salah. Beliau membenarkan jawaban kita dengan satu jawaban simpel, yakni doa dan pedekate dengan Allah SWT. Subhanallah.
*setting mulai tambah sore*
Ketika beliau sudah mulai beres-beres angkringan dan akan pulang ke rumah, ternyata dia berbisik lirih angkringannya tidak akan tutup begitu saja pada saat itu juga, bahasa inggrisnya to be continue. Datang kemudian 2 orang mahasiswa yang ternyata akan melanjutkan membuka angkringan tersebut hingga tengah malam. Beliau bersedia menceritakan kembali kronologinya secara detail. Sudah semenjak beberapa bulan silam 2 orang mahasiswa ini menyewa lapak dagangnya, beliau hanya memberikan biaya Rp 7.000 untuk sewa lapak perharinya, dan sisanya seperti minuman dan jajan-jajanan kecil lainnya merupakan bahan dagang 2 orang mahasiswa ini sendiri, Beliau hanya sebagai penyuplai bahan dagang nasi dan gorengan ketika sesi angkringan malam dibuka. Uang sewa lapak angkringan hanya akan diambil selama 6 bulan sekali oleh beliau. Dengan begini angkringan milik beliau terkesan melayani buka 24 jam dimata para pembeli yang kebetulan 2 kali datang ke tempat jualannya ketika pagi dan malam. Setiap pelayanan yang melayani 24 jam dimata para pembeli merupakan pelayanan yang super maksimal dan memuaskan. Walaupun tanpa kerja 24 jam akan tetapi para pembelinya mengira beliau buka angkringan 24 jam. Begitulah kurang lebihnya konsep yang bisa gue tangkap dari beliau. Terkesan pelayanan angkringan yang baik.
Sekian aja sih cerita kali ini, lain kali gue share hal penting yang lain lagi. Thanks :)
Sekian aja sih cerita kali ini, lain kali gue share hal penting yang lain lagi. Thanks :)
0 komentar:
Posting Komentar