Jalan masih panjang, apa daya tangan tak sampai kampung?
Sudah hitungan berbulan-bulan tidak menginjakkan kaki di rumah sendiri itu bisa dibilang hidup namun mati di kota lain hiks hiks hiks, bak katak di dalam tempurung lain saja ini. Hidup dengan terperangkap waktu, kegiatan, aktifitas yang membelenggu keseharian seorang perantau membuat sejenak kita menjauh dari keluarga dalam hitungan jarak raga. Cita-cita dan impian sebagai seorang anak untuk membahagiakan orantua terkadang menguburkan keinginan lahiriah untuk selalu bisa berada disekitar keluarga tersayang.
Yaah namanya juga kehidupan manusia, telah adanya beberapa media perantara untuk dapat berhubungan dengan keluarga yang nan jauh disana melewati telefon dan internet masih saja terasa kurang, ya karena hanya mampu mengobati rasa kangen sementara. Terkadang cara lama memang menjadi satu-satunya pengobat kangen yang mujarab, iya itu adalah sebuah pertemuan bertatap muka, dan mencium tangan kedua orangtua.
.
Perjuangan sebagai perantau penimba ilmu disini (Yogyakarta) semoga tidak akan mengecewakan kalian, keluarga. Berangkat pagi jam 07.00 untuk kuliah memang tidak berat dengan dibarengi niatan dan tekat kuat, namun yang memberatkan jujur biasanya ketika dalam financial keuangan menipis tidak sesuai harapan. Ya memang untuk pegangan keseharian masih ada, namun untuk sebuah pembelian barang mewah dirasa tidak mungkin, bagi kita.
Keadaan menyesakkan dada seperti ini menuntut kita mau tidak mau harus masuk ke dalam permainan otak, dalam artian ya pencarian jalan keluar tanpa menghasilkan masalah yang baru. Masa muda sebaiknya sedia meluangkan waktu yang cukup dengan kegiatan-kegiatan yang menghasilkan pemasukan financial untuk diri kita sendiri. Aku yakin suatu saat kegiatan-kegiatan tersebut akan membuahkan hasil yang manis untuk bekal kehidupan kelak, tak salah dengan adanya pemanis kata "Bersusah sudah dahulu, bersenang senang kemudian". Kegiatan ekstra diluar kampus yang selama ini akrab dengan mahasiswa rantau yakni bekerja di warnet, berjualan buku, bergabung dengan Event Organizer (EO), dan masih banyak lagi kegiatan yang bersahabat dengan anak rantau.
Semangat!! Itu modal kami menyambut hari demi hari. Perasaan suka duka bak roda yang selalu berputar-putar silih bergantian di atas dan di bawah menitih jalan, ketika senang ya senyum dan sewaktu sedih ya tetep berusaha senyum. Keep smile mampu bergantian menutupi suka duka kehidupan di raut wajah yang mungkin dari hari ke hari saja terlalu kusut untuk dikembalikan, dan selama ini ternyata kami berhasil mengembalikan kekusutan itu menjadi lebih baik hehehe. :)
Sejenak mari melupakan keegoisan kesibukan atas diri sendiri, tengokkan lah raga bathin kalian dengan memandang dan merasakan yang bernama CINTA. Seperti kata-kata mutiara "tai ayam bak rasa cokelat", apapun permasalahan dalam kehidupan akan selalu terasa manis dalam proses dan hasilnya kelak jika dibarengi dengan semangat dari CINTA, orang tersayang. Ya itulah manisnya CINTA, ketika sempat juga diberi kesempatan merasakan pahitnya akan CINTA maka kembalilah siap memegang teguh kata-kata mutiara di atas tadi hehehehe. Kedepannya tetaplah tersenyum dan ingat juga tujuan utama dari rumah menuju Yogyakarta ini hanya demi sebuah ilmu. Beruntunglah bagi kalian jika ilmu bisa didapat sekaligus jodoh ikut merangkul kesuksesan kalian kelak, mampu menguasai ilmu CINTA juga hehe.
Disini tidak seburuk dengan yang kita bayangkan, dunia selalu adil dan tidak akan memisahkan kita jauh dari bahagia. Merasakan kembali masakan dan teh hangat buatan Ibunda tersayang bersama keluarga, bercanda tertawa bersama kelak pantas kita dapatkan kembali bersama mereka dengan sejuta genggaman cerita kita dari tanah rantau, iya semua sudah ada yang mengatur pada waktunya kelak. Teruntuk kampung disana.
Terimakasih kota keduaku Yogyakarta atas semuanya :)
0 komentar:
Posting Komentar